Kamis, 18 Ramadhan 1440 / 23 Mei 2019

Kamis, 18 Ramadhan 1440 / 23 Mei 2019

BMKG Bandung: Puncak Musim Hujan November-Maret

Selasa 21 Nov 2017 13:06 WIB

Rep: Muhammad Fauzi Ridwan/ Red: Andi Nur Aminah

Pegawai Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Makassar menujukkan sirkulasi cuaca (ilustrasi)

Pegawai Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Makassar menujukkan sirkulasi cuaca (ilustrasi)

Foto: Darwin Fatir/Antara

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas 1 Bandung mengungkapkan musim hujan yang berlangsung di wilayah Jawa Barat akan terjadi selama tujuh bulan ke depan sejak Oktober 2017 hingga Mei 2018 mendatang. Dimana, puncak hujan akan terjadi pada November hingga Maret 2018 mendatang.

Kepala BMKG Kelas 1 Bandung, Tony Agus Wijaya mengatakan pola hujan saat ini berubah-ubah. Kondisi tersebut berbeda dengan 30 tahun lalu yang lebih teratur. Sebabnya, salah satunya karena kondisi lingkungan yang berubah serta terjadi perubahan iklim.

"Saat ini hujan sering mengalami anomali, seperti 10 November lalu, intensitas hujan lebat tapi singkat tiga hari," ujarnya saat acara Bandung amenjawab di Taman Sejarah Kota Bandung, Selasa (21/11) bersama Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil.

Menurutnya, perubahan iklim serta pola hujan yang berubah tidak hanya terjadi di Bandung. Akan tetapi juga terjadi di seluruh dunia terutama wilayah sub tropis akan lebih tinggi. Sementara negara tropis di Indonesia dampak perubahan iklim yang terasa adalah anomali curah hujan.

Ia menuturkan, dengan anomali cuaca yang terjadi pihaknya selalu menginformasikan kondisi terbaru. Salah satunya dengan aplikasi android BMKG yaitu info BMKG yang bisa diunduh oleh masyarakat. Selain itu, salah satu cara lainnya menghadapi perubahan iklim adalah dengan mitigasi dan adaptasi.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kota Bandung, Ferdi Ligaswara mengatakan potensi bencana di Kota Bandung yaitu pohon tumbang akibat hujan dan angin serta banjir yang diakibatkan sedimentasi karena tumpukan sampah. "Kita mempunyai 27 ribu relawan terlatih yang terdiri dari berbagai unsur," ungkapnya. Ia mengatakan agar masyarakat mewaspadai perubahan iklim cuaca dan potensi banjir.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA