Monday, 22 Ramadhan 1440 / 27 May 2019

Monday, 22 Ramadhan 1440 / 27 May 2019

Pemprov Lampung Gulirkan Program Pembangunan Pesisir

Selasa 21 Nov 2017 17:24 WIB

Rep: Mursalin Yasland/ Red: Hazliansyah

Jalan lintas barat di Desa Mandiri Sejati KM 20 Kecamatan Krui Selatan, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung putus diterjang banjir Kamis (12/10).

Jalan lintas barat di Desa Mandiri Sejati KM 20 Kecamatan Krui Selatan, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung putus diterjang banjir Kamis (12/10).

Foto: dok. Pemkab Lampung Barat

REPUBLIKA.CO.ID, BANDAR LAMPUNG -- Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung menggulirkan Program Gerakan Membangunan Pesisir Lampung Berdaya Guna (Gerbang Pelana) yang akan dimulai tahun depan. Pada tahap pertama, Gerbang Pelana difokuskan pada wilayah yang berada di Teluk Lampung.

Gubernur Lampung M Ridho Ficardo mengatakan, Gerbang Pelana merupakan pendamping program Gerakan Membangun Desa Sai Bumi Ruwai Jurai (Gerbang Desa Saburai) yang telah bergulir sebelumnya.

"Permasalahan pesisir Lampung belum banyak tersentuh secara terpadu. Wilayah pesisir menjadi sumber kemiskinan karena akses pendidikan rendah, daya beli rendah, dan tingkat kesehatan juga masih rendah," kata Ridho, Selasa (21/11).

Permasalahan pembangunan wilayah pesisir, menurut Ridho, karena pengelolaan bersifat sektoral. Instansi dan institusi bergerak secara sektoral dengan koordinasi yang lemah. Kemudian, peran masyarakat masih rendah. Demikian halnya di bidang infrastruktur seperti keterbatasan air bersih dan sanitasi. Permukiman tidak teratur dan cenderung kumuh, erosi pantai, sedimentasi, infiltrasi air laut, dan pemanfaatan daerah pantai yang tidak sesuai potensi.

"Jangan sampai terjadi kesenjangan antara desa yang ada di darat dan di pesisir. Di darat, sejak tahun 2016 pemprov membangun desa melalui Gerbang Saburai. Nah, di kawasan pesisir, kita coba bangun lewat program Gerbang Pelana," ujarnya.

Provinsi Lampung memiliki garis pantai sepanjang 1.105 kilometer dengan 132 pulau besar dan kecil. Sumber daya pantai yang dapat dikembangkan antara lain sumber daya perikanan, hutan mangrove, terumbu karang, dan bahan bioaktif. Kemudian, sumber daya mineral dan geologi mineral seperti mineral strategis, vital, dan industri.

Garis pantai Lampung juga dapat dikembangkan untuk kawasan pariwisata, transportasi, komunikasi, sumber energi, konservasi, saran pendidikan, penelitian, dan pertahanan keamanan. Saat ini, program Gerbang Pelana tengah dimatangkan di Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Lampung bekerja sama dengan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Institut Pertanian Bogor.

Menurut Kepala Balitbangda Lampung Mulyadi Irsan, Gerbang Pelana merupakan program percepatan sinergitas pembangunan wilayah pesisir Lampung. Program tersebut ditargetkan ikut mempercepat pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir Lampung.

"Kami ingin mengoptimalkan segenap potensi dan kebijakan baik pusat maupun daerah yang berwawasan lingkungan serta berkelanjutan, ujarnya.

Sebelumnya, Program Gerbang Desa Saburai yang didanai APBD Lampung bergulir sejak tahun 2016 di 100 desa. Pada 2017, Gerbang Saburai kembali menyasar 250 desa dan ditargetkan 380 desa dapat terangkat dari status tertinggal pada 2018. Setiap desa mendapat kucuran dana Rp240 juta. Seluruh desa yang masuk program Gerbang Desa Saburai dipilih berdasarkan data Badan Pusat Statistik sebagai alat ukur.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA