Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Ruang Terbuka Hijau di Kota Malang Terus Berkurang

Senin 12 Mar 2018 18:06 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Gita Amanda

Tugu Kota Malang yang berada tepat di depan Balaikota  dan DPRD Kota Malang.

Tugu Kota Malang yang berada tepat di depan Balaikota dan DPRD Kota Malang.

Foto: Republika/Wilda Fizriyani
Banyak pembangunan yang dilakukan di Kota Malang seperti tak berdasar.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Malang dinilai terus berkurang dari waktu ke waktu. Pembangunan dengan arus penduduk membuat Kota Malang semakin padat dibandingkan 10 tahun lalu.

Ahli Tata Ruang sekaligus Dosen Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Budi Fathony, menilai banyak pembangunan yang dilakukan di Kota Malang seperti tak berdasar. Dalam hal ini pembangunannya tak sesuai dengan tata ruang yang telah disepakati. Oleh karena itu, wajar jika Kota Malang sering dilanda banjir dengan cuaca semakin panas.

Di era 2000-an, Budi mengungkapkan, RTH di Kota Malang masih lebih dari 20 persen. "Tapi sekarang terus saja berkurang dan sudah menyentuh 15 persen," katanya saat dihubungi wartawan, Senin (12/3).

Menurut Budi, satu-satunya aset RTH yang masih dimiliki Kota Malang tersedia di Lapangan Rampal. Terdapat juga beberapa taman kota yang luasnya tidak sebanding dengan luas bangunan yang ada di Malang. Secara umum, pembangunan Kota Malang semakin memprihatinkan mengingat sudah menjamurnya ruko dan pusat perbelanjaan.

Melihat situasi ini, Budi menilai, pemerintah harus mencari RTH sebanyak-banyaknya. Namun jika melihat kondisi saat ini, Budi tak menampik akan sulit mencari lahan tersebut. Situasi ini jelas sangat disayangkan sejumlah pihak atas proses pengembangan wilayah yang terasa tak acuh dengan sejarah.

Budi berpendapat, pemerintah saat ini juga dinilai lebih condong membela para investor dan pemegang modal. Hal ini dapat dilihat dari beberapa kawasan cantik yang mulanya direncanakan sebagai lahan terbuka hijau lalu berubah menjadi pemukiman. Beberapa di antaranya di perumahan elit di Jalan Retawu dan sekitarnya serta kawasan Pahlawan Trip.

"Termasuk Sawojajar, dulu itu direncanakan sebagai lapangan penerbangan pada masa Jepang," tambah Budi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA