Friday, 21 Sya'ban 1440 / 26 April 2019

Friday, 21 Sya'ban 1440 / 26 April 2019

Beras Kemasan Saset di Tasikmalaya Kurang Peminat

Senin 30 Jul 2018 14:31 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Nur Aini

Petugas menunjukkan beras dalam kemasan sachet, ilustrasi

Petugas menunjukkan beras dalam kemasan sachet, ilustrasi

Foto: Antara/Basri Marzuki
Keluarga lebih memilih membeli beras dalam ukuran besar.

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Badan Urusan Logistik Sub Divisi Regional (Bulog Subdivre) Ciamis ikut menyalurkan beras kemasan saset. Namun, pedagang mengklaim beras dengan berat isi 250 gram tersebut kurang laku di pasaran.

Beras saset ikut dipasarkan dalam operasi pasar murah yang dilalukan Tim Pengendali Inflasi Daerah Kota Tasik pada Senin (30/7). Tapi keberadaannya belum mampu menarik perhatian pembeli yang berasal dari kalangan pegawai negeri sipil dan masyarakat umum. Mereka justru membeli kemasan besar yang berasal dari hasil panen gabungan kelompok tani daerah setempat.

Salah satu konsumen, Yati Karisma mengaku belum mengetahui adanya kemasan beras saset dari Perum Bulog. "Nggak tahu tuh, belum pernah lihat ada beras yang dijual dengan ukuran segitu," katanya pada wartawan.

Konsumen lainnya, Eno Nurwati mengaku enggan membeli beras saset karena jumlahnya terlalu sedikit. Padahal kebutuhan konsumsi beras di keluarganya yang berjumlah lima orang terbilang tinggi. Ia lebih memilih membeli beras dalam jumlah besar sekaligus.

"Isinya sedikit, nggak cocok kalau buat makan di rumah sama keluarga. Mending beli yang sekarung sekalian kan daripada tanggung," ujarnya.

Salah satu kios mitra Rumah Pangan Kita Perum Bulog, Ilmi mengaku sulit menjaring konsumen beras saset. Ia menyebut beras saset hanya laku 20 bungkus semenjak dipasarkan pekan lalu.

"Saya heran juga, kok kurang laku ya, padahal harganya jadi murah cuma Rp 2.500 saja satu bungkusnya," ucapnya.

Menurutnya, beras kemasan saset hanya cocok untuk dikonsumsi secara individual seperti bagi pelajar atau mahasiswa. Sedangkan bagi kelompok masyarakat yang sudah berkeluarga, cenderung membeli beras karungan.

"Kayaknya cocoknya dijual ke mahasiswa, ke ibu-ibu mah nggak laku, karena dia beli kan buat makan sekeluarga," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Analisa Harga dan Pasar Perum Bulog Subdivre Ciamis, Yuli Setia Mulyana belum mendata jumlah penjualan beras kemasan saset di kawasan Priangan Timur. Ia membantah bila Bulog disebut minim sosialiasi. Ia meyakini beras saset akan terserap oleh masyarakat dalam beberapa waktu ke depan.

"Kami sudah sebarkan beras renceng kemasan 200 gram ini ke beberapa daerah di Priangan Timur. Kami terus perkenalkan keberadaan beras ini kepada masyarakat karena ini segmentasinya tidak terbatas kepada kalangan masyarakat tertentu saja, tapi seluruh masyarakat," ujarnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA