Kamis, 17 Syawwal 1440 / 20 Juni 2019

Kamis, 17 Syawwal 1440 / 20 Juni 2019

Lahan Terdampak Kekeringan di Sukabumi Ajukan Klaim Asuransi

Senin 27 Agu 2018 16:12 WIB

Rep: Riga Nurul Iman/ Red: Muhammad Hafil

Sawah terdampak kekeringan.

Sawah terdampak kekeringan.

Foto: ANTARA FOTO/Risky Andrianto
Para petani diarahkan untuk beralih menanam palawija.

REPUBLIKA.CO.ID,  SUKABUMI--Para petani di Kota Sukabumi yang lahannya terdampak kekeringan mulai mengajukan klaim asuransi usaha tani padi (AUTP). Upaya yang difasilitasi Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Sukabumi ini untuk mengurangi kerugian akibat dampak kekeringan.

"Dari laporan sementara ada sekitar dua hektare lahan yang kekeringan,’’ ujar Kepala DKP3 Kota Sukabumi Kardina Karsoedi kepada Republika.co.id, Senin (27/8). Sementara total luasan lahan pertanian di Kota Sukabumi mencapai 1.484 hektare.

Sehingga lahan yang kekeringan hanya sekitar 0.3 persen dari total keseluruhan lahan pertanian di Sukabumi. Areal persawahan yang kekeringan ini tidak satu titik melainkan tersebar di sejumlah kecamatan.

Di antaranya Kecamatan Cikole, Lembursitu, Baros, dan Warudoyong. Dari empat kecamatan tersebut wilayah yang paling banyak terdampak kekeringan adalah Warudoyong.

Menurut Kardina, petani yang lahannya kekeringan ini cukup beruntung. Sebabnya lahan pertaniannya sudah ikut program asurasi yakni AUTP.

Pada 2017 lalu DKP3 Kota Sukabumi berhasil mengikutsertakan seluas 540 hektar lahan sawah pada program AUTP.  ‘’ Karena ikut asuransi, maka kami fasilitasi untuk mendapatkan penggantian,’’ imbuh dia. Sehingga dampak kerugian yang dialami petani menjadi berkurang.

Kardina berharap, luasan areal pertanian yang kekeringan tidak bertambah lagi. Terlebih daerah Sukabumi masih cukup bagus karena faktor kelembapannya. Sehingga saat ini daerah yang terbanyak kekeringan berada di perbatasan dengan Kabupaten Sukabumi.

"Pantauan terakhir mayoritas petani sudah panen semua," ujar Kardina. Meskipun ada sebagian lahan lainnya yang akan segera panen dan dipercepat proses panennya.

Selepas panen ungkap Kardina, idealnya dilakukan percepatan masa tanam. Namun melihat kondisi musim kemarau maka petani diarahkan untuk beralih menanam palawija.

Lebih lanjut Kardina menuturkan, adanya lahan yang kekeringan dan gagal panen ini tidak akan berdampak pada produksi padi di Sukabumi. Pasalnya luasan lahan yang kekeringan masih sedikit dan lahan persawahan Sukabumi lebih sedikit dibandingkan dengan daerah lain.

Di tempat terpisah puluhan hektare lahan pertanian di Kabupaten Sukabumi mengalami gagal panen (puso) akibat kesulitan mendapatkan pasokan air. ‘’ Hingga akhir Juli lahan yang  puso aau gagal panen seluas 23 hektare,’’ terang Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sukabumi Dedah Herlina. Hal ini berdasarkan laporan dari petugas di lapangan di sejumlah wilayah yang terdampak kekeringan.

Wilayah yang lahan pertaniannya gagal panen tersebar di empat kecamatan. Rinciannya di Kecamatan Cisolok sebanyak tujuh hektare, Palabuhanratu sebanyak lima hektare, Waluran sebanyak lima hektare, dan Gunungguruh sebanyak enam hektare.

Menurut Dedah, data ini baru sementara karena masih dilakukan pendataan di lapangan. Untuk mengatasinya pemkab biasnya menyiapkan alat pompa air yang akan disalurkan ke daerah yang masih terdapat sumber air.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA