Monday, 19 Zulqaidah 1440 / 22 July 2019

Monday, 19 Zulqaidah 1440 / 22 July 2019

Tanah Belum Stabil, Pendakian Rinjani Masih Ditutup

Kamis 20 Sep 2018 23:12 WIB

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Dwi Murdaningsih

 Sejumlah pendaki turun dari puncak Gunung Rinjani, Sembalun, Lombok Timur, NTB, Rabu (30/7). (Antara/Eka Fitriani)

Sejumlah pendaki turun dari puncak Gunung Rinjani, Sembalun, Lombok Timur, NTB, Rabu (30/7). (Antara/Eka Fitriani)

Pendakian long track ke danau dan puncak harus menunggu kondisi tanah stabil.

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Dampak bencana gempa yang melanda Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), membuat aktivitas jalur pendakian di Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) terhenti hingga kini. Kepala Balai TNGR Sudiyono Hardjo Puspito belum mengetahui kapan jalur pendakian Gunung Rinjani dibuka kembali. Yang pasti, tidak untuk saat ini.

Kondisi tanah di Gunung Rinjani yang belum stabil pascagempa, ditambah ancaman potensi longsor menjadi alasan utama penutupan jalur pendakian, baik melalui pintu Sembalun di Kabupaten Lombok Timur maupun pintu Senaru di Kabupaten Lombok Utara.

"Sehingga pendakian yang long track ke danau dan puncak itu tidak memungkinkan dibuka pada tahun ini. Kita harus menunggu kondisi tanah stabil," ujar Sudiyono di sela-sela rapat koordinasi penanganan bencana di Kantor Pemprov NTB, Jalan Pejanggik, Kota Mataram, NTB, Kamis (20/9).

Dia memperkirakan, kondisi tanah di Gunung Rinjani baru akan stabil pada Maret 2019 sehingga memungkinkan bagi tim untuk melakukan survei lapangan. Dari hasil survei lapangan baru akan diketahui apakah jalur lama pendakian masih layak digunakan. Jika tidak layak digunakan, opsinya adalah membuat jalur pendakian baru atau kombinasi antara sejumlah jalur lama yang masih layak dengan jalur baru.

Sudiyono menyampaikan, Balai TNGR juga bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dalam mengukur potensi bencana di TNGR, terutama yang terkait dengan potensi longsor. Dia mengatakan, berdasarkan pantauan CCTV yang memiliki Balai TNGR, potensi longsoran masih kerap terjadi di jalur pendakian. Tak hanya itu, potensi bencana lain adalah soal banjir mengingat akan datangnya musim penghujan.

"Sekarang dalam kondisi tanah longsor, ketika musim hujan nanti terkumpul bisa menyebabkan banjir di sepanjang aliran sungai, ini sangat membahayakan. Kita akan kerja sama dengan BPBD juga untuk antisipasi ketika musim hujan," katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA