Monday, 15 Ramadhan 1440 / 20 May 2019

Monday, 15 Ramadhan 1440 / 20 May 2019

Warga Petobo di Pengungsian Mulai Terserang Penyakit

Jumat 05 Oct 2018 20:58 WIB

Red: Andri Saubani

Warga korban gempa bumi Palu mengambil air di salah satu rumah warga di Pertigaan Petobo Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (4/10).

Warga korban gempa bumi Palu mengambil air di salah satu rumah warga di Pertigaan Petobo Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (4/10).

Foto: Antara/Abriawan Abhe
Anak-anak korban gempa dan tsunami mulai terjangkit penyakit mata dan demam.

REPUBLIKA.CO.ID, PALU -- Warga Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, butuh obat-obatan di posko pengungsian karena mulai terserang penyakit. Pantauan di Petobo sejak Jumat (5/10) petang, banyak warga mulai terserang penyakit sakit mata maupun untuk mengobati luka ringan mereka.

Kebanyakan warga masih berada di tenda-tenda pengungsian beralaskan spanduk dan tikar seadanya. Irmawati, salah seorang warga Petobo mengatakan, saat ini anak-anak mulai terjangkit penyakit mata dan demam karena hanya tidur di tempat terbuka.

"Sudah ada dokter datang periksa warga-warga yang sakit,  tetapi paling tidak ada obat-obatan yang bisa kami simpan jika sewaktu-waktu anak-anak demam," ucapnya.

Di tenda pengungsian, kebutuhan mereka sangat terbatas, pemeriksaan kesehatan dilakukan tidak secara rutin, belum lagi akses menuju pelayanan kesehatan jauh sehingga mereka lebih memilih bertahan di tenda. Selain anak-anak, orang dewasa dan lansia terserang demam maupun pegal-pegal karena seharian mereka mencari keluarganya tertimbun reruntuhan bangunan dan lumpur.

"Ada yang kecapeaan sehingga jatuh sakit. Kami juga butuh obat-obatan dosis ringan," pintanya.

Selain obat-obatan, warga di pengungsian juga membutuhkan pasokan air bersih,  pangan, baju, pampers (untuk balita), pembalut (untuk wanita). Rudy, warga lainya mengatakan aaat ini mereka tidak dapat berbuat banyak hanya bisa bertahan di tenda pengungsian sambil berharap bantuan pemerintah.

Sejak sepekan pascagempa yang mengguncang Palu-Songgala berkekuatan 7,4 pada skala Richter, warga petobo masih sangat membutuhkan bantuan. Mereka juga mengaku masih trauma pascaperistiwa itu, bahkan sebagian warga masih takut melihat puing-puing rumah mereka akibat gempa dan tanah bergeser mengeluarkan lumpur.

Rudi salah satu dari ribuan korban yang menyaksikan langsung peristiwa itu bercerita, ia sempat tergulung gelombang tanah bercampur lumpur sambil menggendong anak kecil berlari menuju arah Utara. Ia sempat menghentikan langkanya, lalu berlari kembali menuju arah selatan hingga mereka lolos dari maut.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA