Kamis, 18 Ramadhan 1440 / 23 Mei 2019

Kamis, 18 Ramadhan 1440 / 23 Mei 2019

Dinkes: Kabupaten Semarang Tuntaskan Belkaga

Kamis 25 Okt 2018 18:33 WIB

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Yusuf Assidiq

Penyakit Kaki Gajah

Penyakit Kaki Gajah

Foto: .
Penyakit yang disebabkan infeksi cacing filariasis ini membuat warga khawatir.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Seluruh kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, telah  menuntaskan Bulan Eliminasi Penyakit Kaki Gajah (Belkaga) pada Oktober ini. Berdasarkan monitoring yang dilakukan di 19 kecamatan, program nasional berupa pemberian obat pencegahan massal (POPM) ini telah sukses dilaksanakan.

“Selain melalui puskesmas dan posyandu, pelaksanaannya juga dilakukan melalui Pos POPM, di tiap- tiap lingkungan RT,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, Ani Raharjo, di Ungaran, Kamis (25/10).

Ia menjelaskan, sejauh ini, kasus penyakit kaki gajah di wilayah Kabupaten Semarang memang tidak banyak, kendati temuan di lapangan tetap ada dan jumlahya relatif kecil.

Selain itu di daerahnya juga tidak ada kecamatan atau wilayah yang dinyatakan sebagai endemis penyakit ini. Namun langkah-langkah untuk pencegahan tetap harus dilakukan.

Hal ini sebagai upaya mendukung pemerintah dalam mengeliminasi penyakit kaki gajah (Filariasis) tersebut. “Walaupun angkanya cukup kecil, Dinkes Kabupaten Semarang terus memantau dan melakukan pencegahan,” tambahnya.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang, masih jelas Ani, sangat mendukung upaya pemerintah untuk mengeliminasi penyakit ini, melalui program Belkaga yang dilaksanakan selama lima tahun berturut-turut.

Pada 2018 ini, merupakan tahun kedua dari program Belkaga tersebut. Sasarannya, adalah seluruh warga Kabupaten Semarang yang berumur dua tahun hingga 70 tahun.

Obatnya sudah disediakan pemerintah sesuai dengan jumlah sasaran. Jenis obatnya sama, yang membedakan hanya dosisnya. “Untuk anak dan orang dewasa hingga mereka yang telah berusia 70 tahun," ujar dia.

Kecuali kepada ibu yang sedang hamil atau warga yang sedang sakit, obat tersebut tidak akan diberikan. Ia bersyukur, warga bisa memahami dan selama dilaksanakan tidak ada penolakan dari warga, terhadap POPM filarialis ini.

“Mungkin karena dari sosialisasi terutama dengan visual atau gambar, penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing filariasis ini cukup membuat mereka khawatir,” jelasnya.

Pada Oktober ini, masih kata Ani, program POPM filariasis di wilayah kabupaten telah tuntas. “Artinya memasuki November 2018 nanti cakupannya sudah mencapai 100 persen,” katanya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA