Monday, 15 Ramadhan 1440 / 20 May 2019

Monday, 15 Ramadhan 1440 / 20 May 2019

Tingkatkan Kualitas SDM, Jateng akan Adopsi Sistem di Jepang

Kamis 10 Jan 2019 03:00 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Sebanyak 20 siswa SMK selesai menjalani proses magang di pabrik Casio di Korat, Thailand. Para siswa berasal dari SMK yang ada di Jawa dan Sumatra yang sudah magang sejak Oktober lalu. Mereka magang melalui program kerja sama Casio dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sebanyak 20 siswa SMK selesai menjalani proses magang di pabrik Casio di Korat, Thailand. Para siswa berasal dari SMK yang ada di Jawa dan Sumatra yang sudah magang sejak Oktober lalu. Mereka magang melalui program kerja sama Casio dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Foto: dok. Casio
SMK di Jateng dapat menerapkan kurikulum berbasis kebutuhan dunia kerja internasional

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berencana mengadopsi sistem perusahaan di Jepang sebagai upaya meningkatkan kualitas pekerja. Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan standar yang diterapkan Jepang sangat tinggi.

Menurut Ganjar, pengadopsian sistem dari Jepang tersebut dapat diterapkan sebagai bagian dari kurikulum sekolah menengah kejuruan. Ke depannya seluruh SMK di Jateng dapat menerapkan kurikulum yang berbasis kebutuhan dunia kerja internasional, salah satunya Jepang.

Dia berharap pengadopsian sistem kerja perusahaan asing di SMK Jateng dapat dilakukan secepatnya agar dapat memangkas proses dan waktu pelatihan calon tenaga kerja.

"Kami ingin siapkan tenaga SMK itu untuk bisa magang dan bekerja tidak hanya di Jepang, namun di berbagai negara lain di dunia karena kami ingin lulusan SMK di Jateng dapat go internasional," ujarnya.

Ganjar menyebutkan pengadopsian sistem dari Jepang juga akan membuat kesempatan kerja para tenaga kerja asal Jateng semakin terbuka dan meningkatkan kualitas tenaga kerja di negara tujuan. Dengan sistem yang dibangun dengan baik sejak dini, lanjut dia, maka diharapkan tenaga kerja asal Jateng dapat menduduki jabatan-jabatan strategis.

"Jadi kami berharap mereka jadi tenaga ahli, bukan tenaga yang bekerja di bidang domestik dan bagian belakang," katanya.

Sumber : antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA