Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Gelombang Tinggi Laut Selatan Diperkirakan Hingga Februari

Rabu 30 Jan 2019 19:47 WIB

Rep: Eko Widiyatno/ Red: Gita Amanda

Perahu tertahan gelombang tinggi.

Perahu tertahan gelombang tinggi.

Foto: Antara.
Kondisi laut disekiar perairan pantai masih membahayakan aktivitas nelayan.

REPUBLIKA.CO.ID, CILACAP -- Para nelayan dan wisatawan yang berkunjung ke objek wisata pantai selatan Jawa Tengah atai Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), masih diminta untuk lebih berhati-hati. Hal ini mengingat kondisi gelombang laut yang diperkirakan masih didominasi gelombang tinggi.

''Kondisi ini kami perkirakan akan berlangsung hingga awal Februari. Sedangkan ketinggian gelombang, kami perkirakan sekitar 2,5 sampai empat meter,'' jelas prakirawan stasiun Geofisika BMKG Cilacap, Nurmaya, Rabu (30/1).

Bahkan dia memperkirakan, kondisi gelombang laut di perairan dalam Samudra Hindia berpotensi lebih tinggi lagi, mencapai empat hingga enam meter. Potensi gelombang yang tergolong ekstrem ini, berpotensi terjadi di hampir seluruh kawasan perairan dalam di selatan Jawa.

Berdasarkan perkiraan ini, dia menyebutkan kondisi laut baik di sekitar perairan pantai maupun di samudera dalam,  masih sangat membahayakan aktivitas nelayan dan pelayaran. Termasuk juga wisatawan dan warga masyarakat sekitar pesisir yang bermain air di sekitar perairan pantai.

Menurutnya, penyebab gelombang tinggi masih disebabkan oleh adanya siklon tropis di Samudra Hindia sisi barat Australia. Siklon ini menyebabkan angin yang bertiap dari barat laut ke arah timur laut bertiup cukup kencang dan menyebabkan terjadinya gelombang tinggi.

''Nelayan yang tetap beraktivitas mencari ikan, kami minta agar benar-benar memperhatikan kondisi cuaca. Bila angin bertiup kencang, sebaiknya segara menepi ke pantai untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,'' katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA