Wednesday, 23 Syawwal 1440 / 26 June 2019

Wednesday, 23 Syawwal 1440 / 26 June 2019

Bencana Hidrometerologi Sudah Berdampak di Sleman

Kamis 31 Jan 2019 20:08 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Fernan Rahadi

BMKG

BMKG

Mulai dari angin kencang, hujan lebat, tanah longsor dan sambaran petir.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta telah lama mengategorikan Kabupaten Sleman sebagai daerah yang rawan terjadi bencana hidrometeorologi. Kondisi itu telah terjadi dan sudah berdampak awal tahun ini.

Kepala Unit Prakirawan Cuaca BMKG Yogyakarta, Sigit Hadi Prakosa mengatakan, data historis menunjukkan 81 persen bencana di Sleman masuk hidrometeorologi. Mulai dari angin kencang, hujan lebat, tanah longsor dan sambaran petir.

"Dan hujan es yang walaupun persentasenya kecil tetap ada, kenyataannya terjadi di Kecamatan Seyegan kemarin," kata Sigit di Ruang Rapat Praja Setda Sleman, Kamis (31/1).

Berdasarkan rekap data BMKG Yogyakarta, pada musim hujan periode 2018-2019, bencana hidrometeorologi telah terjadi sejak November tahun lalu. Persentase disebut semakin meningkat seiring puncak musim hujan.

BMKG sendiri memprediksi puncak musim hujan terjadi pada Januari 2019. Itu berarti, jika diukur banyaknya curah hujan akan terakumulasi pada Januari yang bisa menimbulkan banjir dan tanah longsor di beberapa tempat.

Ia menekankan, cuaca ekstrem yang terjadi sudah masuk bagian dari prediksi el nino yang sudah terjadi di Indonesia. Jika sejak Agustus-November kategori lemah, memasuki Desember-Februari diprediksi intensitas meningkat jadi sedang.

"Dan kita prediksikan lagi dari Maret hingga Mei akan turun menjadi intensitas lemah," ujar Sigit.

Kehadiran el nino, lanjut Sigit, akan berpengaruh kepada terlambatnya musim hulan beberapa bulan lalu. Secara keseluruhan curah hujan sejak awal musim hujan juga mengalami pengurangan.

Namun, kondisi itu tidak lantas mengurangi intensitas bencana hidrometeorologi. Bencana itu tetap ada mengingat skalanya harian, dan berbeda dengan el nino yang skalanya bulanan.

Memasuki transisi musim hujan ke kemarau, yang diprediksi Maret-April, potensi bencana hidrometerologi akan meningkat kembali. Maka itu, kejadian angin kencang, hujan lebat, sambaran petir dan longsor masih berpotensi terjadi.

BMKG sendiri memantau perkembangan cuaca ekstrim ini 24 jam menggunakan radar. Dari pantaun radar itu, jika BMKG mendeteksi hujan lebat di kabupaten/kota lain tapi mengarah ke Kabupaten Sleman akan dikeluarkan peringatan dini.

Informasi itu akan disebarkan ke seluruh pemangku kebijakan di Kabupaten Sleman melalui BPBD dan instansi-instansi terkait. Informasi turut disampaikan melalui media sosial dan media massa.

"Masyarakat yang tidak secara langsung mengakses informasi ini dapata mengunduh aplikasi InfoBMKG di PlayStore," ujar Sigit. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA