Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Jalur Pendakian Rinjani Diprediksi Kembali Normal pada 2021

Selasa 12 Mar 2019 10:10 WIB

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Muhammad Hafil

Petugas Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) melakukan survei jalur pendakian pada Oktober 2018.

Petugas Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) melakukan survei jalur pendakian pada Oktober 2018.

Foto: Dok Balai TNGR
Sebelum dibuka kembali, harus dipastikan jalur pendakian aman.

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) berencana membuka kembali jalur pendakian Gunung Rinjani melalui pintu Sembalun dan Senaru pada April mendatang. Hal ini tentu menjadi kabar gembira bagi masyarakat di sekitar kawasan yang selama ini berharap jalur pendakian kembali dibuka.

Sebelumnya, jalur pendakian Gunung Rinjani ditutup sejak akhir Juli hingga saat ini akibat bencana gempa yang melanda Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada pertengahan tahun lalu.

Kepala Balai TNGR Sudiyono memberikan penjelasan tentang penentuan layak atau tidaknya suatu jalur dipakai kembali sebagai jalur pendakian pascagempa. Antara lain jalur sepanjang pendakian aman untuk dipakai sebagai pendakian, tersedia tempat untuk istirahat atau camping, tersedia cukup air pada jarak-jarak tertentu dan aman dari bahaya longsor, tersedia sarana umum seperti pos-pos pengawasan, MCK, spot-spot wisata yang menarik, serta  pertimbangan lain yang berkaitan dengan pelayanan pelaku wisata.

"Berdasarkan hasil evaluasi terhadap jalur pendakian yang dilakukan tim dari Balai TNGR, Balai Vulkanologi, TNI, Polri, Basarnas serta masyarakat lokal, menemukan tidak semua jalur pendakian layak untuk dapat dilakukan pendakian," ujar Sudiyono kepada Republika.co.id di Mataram, NTB, Senin (11/3).

Sudiyono mengatakan beberapa titik di jalur pendakian Senaru dan Sembalun terputus total akibat longsor dan beberapa retakan yang membahayakan. Pun dengan jalur pendakian Torean yang terkenal sebagai jalur budaya yang memiliki jalur relatif datar karena melewati alur sungai juga mengalami retakan dan jalur terputus akibat longsor. Sementara jalur pendakian Timbanuh merupakan jalur yang relatif aman, namun tidak disarankan karena berlereng curam untuk sampai ke Danau Segara Anak.

"Pada waktu survei sumber air yang semula mudah ditemui di beberapa titik di sepanjang jalur menghilang selama terjadi gempa," kata Sudiyono.

Sudiyono mengatakan jalur pendakian Aik Berik merupakan jalur yang bervegetasi cukup bagus, mengalami kerusakan yang relatif kecil dan di beberapa titik masih dapat mudah ditemui sumber air di sepanjang jalur. Jalur pendakian Aik Berik yang terletak di Kabupaten Lombok tengah menjadi satu-satunya pilihan untuk dilakukan pembukaan paling awal yaitu pada 19 November sampai dengan 31 Desember 2018.

Kelebihan jalur pendakian ini dari jalur lain adalah topografi yang relatif agak datar, banyak ditemui vegetasi yang berhutan, padang edelweiss, kalau beruntung dapat ditemui satwa Rusa. Selain itu, aksesibilitas menuju Aik Berik mudah dijangkau dari bandara atau angkutan lain.

"Meskipun di jalur ini terdapat puncak kedua setelah puncak Rinjani yaitu puncak Kondo, pendaki hanya dapat melakukan pendakian sampai batas Pelawangan, belum bisa turun ke Danau Segara Anak," ucap Sudiyono.

Untuk jalur lain, lanjut Sudiyono, pada 2019 setelah dilakukan survei bersama tim akan dipertimbangkan untuk tetap dibuka jalur pendakian melalui Sembalun dan Senaru meskipun kemungkinan tidak akan sampai turun ke Danau Segara Anak.

Penentuan ini sangat tergantung dari pertimbangan hasil survei dan kesepakatan bersama sejumlah pihak, mulai dari Balai TNGR, TNI, Polri, Basarnas, BMKG, PVMBG, pemda, serta perwakilan trek organizer, dan porter yang akan menggelar rapat dan survei lapangan bersama pada Selasa (12/3) dan Rabu (13/3).

"InsyaAllah jalur pendakian (Sembalun dan Senaru) kembali dibuka pada April, meski mungkin tidak sampai Segara Anak," kata Sudiyono.

Sudiyono menjelaskan, kerusakan di seluruh jalur pendakian yang terjadi mengakibatkan tertutupnya seluruh akses jalur pendakian menuju danau segara anak maupun puncak Gunung Rinjani yang menjadi tempat paling favorit bagi para pendaki.

Sesuai aturan penganggaran pemerintah, kata dia, Balai TNGR baru dapat mengusulkan seluruh perbaikan sarana pendakian yang mengalami kerusakan di sepanjang jalur pendakian pada 2019 untuk direalisasikan pembangunannya pada 2020. Dengan kata lain, seluruh jalur pendakian baru akan dapat dibuka secara normal pada 2021 setelah perbaikan dan pembangunan sarana pendakian selesai dilakukan.

"Dalam kondisi tidak normal, pendakian dapat dibuka sampai lokasi yang diduga aman seperti plawangan tanpa turun danau Segara Anak. Hal tersebut juga tergantung hasil survei kondisi jalur pascamusim hujan nanti," kata Sudiyono menambahkan.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA