Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Kasus TB di Indramayu Tinggi

Senin 25 Mar 2019 19:12 WIB

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Christiyaningsih

Pasien Tuberkulosis melihat hasil ronsen dadanya. Indonesia, India, China, menjadi tiga negara penderita TBC terbesar dunia.

Pasien Tuberkulosis melihat hasil ronsen dadanya. Indonesia, India, China, menjadi tiga negara penderita TBC terbesar dunia.

Foto: EPA
Kurangnya perilaku hidup bersih dan sehat di masyarakat pemicu munculnya TB

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU -- Jumlah kasus Tuberkulosis (TB) di Kabupaten Indramayu terbilang tinggi. Kasus itu pun salah satunya terkait dengan kasus HIV/AIDS yang juga tinggi di Kabupaten Indramayu.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, Deden Bonni Koswara, menyebutkan jumlah kasus TB yang ditemukan di Kabupaten Indramayu lebih tinggi dari yang diperkirakan. Dia memperkirakan jumlah kasus TB di Indramayu mencapai 2.433 kasus. Sedangkan kasus yang ditemukan mencapai 2.583 kasus.

"CDR (Case Detection Rate)-nya 106 persen, CNR (Case Notification Rate)-nya 143 persen," ujar Deden saat ditemui di gedung DPRD Indramayu, Senin (25/3). Deden mengakui dengan angka tersebut, kasus TB di Kabupaten Indramayu memang tinggi. Namun, dia belum bisa memastikan ranking kasus itu dibandingkan daerah lainnya di Jawa Barat.

"Laporan balik (feedback) terkait angka per kabupaten dari Dinas Kesehatan provinsinya belum ada," tutur Deden. Deden menambahkan tren kasus TB di Kabupaten Indramayu juga mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pasalnya, kasus TB berkaitan dengan kasus HIV/AIDS. Bahkan, gejala awal HIV/AIDS yang muncul pada penderitanya biasanya berupa gejala TB.

Untuk itu, jika ada penderita TB maka petugas kesehatan harus mewaspadai bahwa hal tersebut merupakan gejala awal HIV/AIDS. Hal itu terutama bagi populasi kunci seperti waria, pengguna narkoba jarum suntik, dan orang yang kerap berhubungan seksual dengan bergonta-ganti pasangan.

Deden menyatakan pihaknya terus berupaya melakukan eradikasi TB. Namun, hal tersebut harus juga dilakukan secara bersamaan dengan pihak lainnya termasuk peran serta masyarakat. "Stop TB harus dimulai dari diri kita sendiri, keluarga, dan lingkungan. Itu butuh komitmen dari semuanya," tegas Deden.

Deden menambahkan khusus untuk instansi yang dipimpinnya langkah nyata untuk mengatasi penyebaran TB adalah dengan memberikan edukasi ke masyarakat melalui posyandu. Selain itu, melakukan skrining secara langsung kepada masyarakat. Jika ternyata ditemukan ada gejala TB, maka warga tersebut dibawa ke Puskesmas untuk diobati.

TB atau yang lebih dikenal dengan istilah TBC merupakan penyakit yang disebabkan oleh basil Myobacterium tuberculosis. TB sangat mudah menular dari penderita TB yang belum sembuh kepada orang lain di sekitarnya melalui percikan ludah.

Kurangnya perilaku hidup bersih dan sehat di tengah masyarakat juga menjadi pemicu mudahnya penularan TB. Hal itu terutama dari para penderita TB yang dalam perilakunya tidak memahami cara batuk yang benar maupun cara membuang dahak yang benar.

Tak hanya itu, faktor lainnya adalah kurangnya pengawasan minum obat kepada para penderita. Hal tersebut menyebabkan penderita TB tidak tuntas dalam pengobatannya sehingga rentan menularkan penyakitnya kepada orang lain di sekitarnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA