Sunday, 18 Zulqaidah 1440 / 21 July 2019

Sunday, 18 Zulqaidah 1440 / 21 July 2019

Pemkot Sukabumi Tekan Penyebaran Kasus TBC

Senin 25 Mar 2019 22:05 WIB

Rep: Riga Nurul Iman/ Red: Gita Amanda

Kuman TBC

Kuman TBC

Foto: .
Caranya dengan menggiatkan sosialisasi dan mendorong perilaku hidup bersih dan sehat.

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi berupaya menekan kasus penyakit Tuberkolosis (TBC). Caranya dengan menggiatkan sosialisasi dan mendorong perilaku hidup bersih serta sehat di tengah masyarakat.

Baca Juga

Hal ini disampaikan Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi pada saat membuka lokakarya hari TB se-dunia (HTBS) dalam rangkaian HUT ke-105 Kota Sukabumi Senin (25/3). '' Seperti yang diketahui Tuberculosis merupakan penyakit yang menjadi perhatian global,'' ujar Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi.

Tuberkulosis disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Sumber penularan tuberculosis berasal Basil Tahan Asam positif (BTA positif) melalui percik renik dahak yang dikeluarkannya dan Indonesia menjadi peringkat kedua di dunia setelah India dalam hal penemuan kasus TB.

Fahmi menerangkan, Indonesia merupakan negara peringkat ke-2 sedunia kasus TBC setelah India. Di antara ciri khas yang menjadi perkembangan TBC di negara berkembang yakni keadaan jumlah yang penduduk padat.

Fahmi menuturkan, seluruh elemen masyarakat membutuhkan sebuah konsentrasi untuk bersama-sama meminimalisir pertumbuhan penyakit Tuberculosis. Meski terbilang sulit untuk menghilangkan kasus Tuberculosis, tetapi Kota Sukabumi melalui Dinas Kesehatan Kota Sukabumi berkomitmen bagaimana dalam waktu ke waktu angka kasus TBC berkurang.

"Kami mengajak semua masyarakat harus sadar dan mulai bersama-sama pemerintah mencegah TBC mulai dari diri sendiri dan keluarga,'' imbuh Fahmi. Mulai dari gaya hidup, pola hidup semua harus menjadi perhatian serta para kader kesehatan harus menjadi duta-duta kesehatan.

Lebih lanjut Fahmi menerangkan, TBC merupakan jenis penyakit yang bisa mematikan, bahkan tak jauh berbeda sengan kasus HIV/AIDS. Sebabnya seringkali ditemukan pengidap HIV/AIDS juga memiliki riwayat TBC. Oleh sebab itu perhatian orang tua terhadap anak menjadi konsentrasi yang utama di tengah terjadinya perbuahan jaman yang semakin berkembang dari tahun ke tahun.

Lokakarya peringatan hari TB se-dunia ini kata Fahmi jangan hanya menjadi kegiatan seremonial saja. Melainkan ada hal-hal yang lebih besar seperti bagaimana pemerintah menargetkan mengurangi jumlah kasus TBC.

Sehingga kata Fahmi butuh dukungan dari semua pihak agar pengidap TBC bisa dilaporkan ke puskesmas terdekat untuk ditangani oleh pemerintah. Ia mengatakan di satu sisi bersyukur adanya temuan kasus TBC yang di nilai cukup tinggi. Temuan ini dapat menjadi bahan dalam penanganan.

Fahmi menambahkan, kegiatan yang dilaksanakan juga sebagai upaya penyebar luasan informasi TBC kepada masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan kepedulian terkait dengan pencegahan penularan TBC yang dimulai dari diri sendiri dan keluarga. Sementara itu peringatan HTBS tahun 2019 di Indonesia mengambil tema "Saatnya Indonesia Bebas TBC, Mulai Dari Saya".

Ketua Pelaksana Hari TB Se-dunia Kota Sukabumi Lulis Delawati menerangkan, kematian akibat tuberculosis diperkirakan sebanyak 107.000 orang kematian ditambah 9.400 orang kematian akibat tuberculosis pada orang dengan HIV. Tuberculosis tetap menjadi 10 penyebab kematian tertinggi di dunia pada tahun 2017.

Pasien TB yang ditemukan di Kota Sukabumi pada Tahun 2018 sebanyak 1.535 orang terdiri dari penduduk Kota Sukabumi dan luar Kota Sukabumi. Pasien TB yang ditemukan tahun 2018 penduduk asli Kota Sukabumi sebanyak 1.096 orang yakni 597 laki Iaki dan 499 perempuan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA