Kamis, 17 Syawwal 1440 / 20 Juni 2019

Kamis, 17 Syawwal 1440 / 20 Juni 2019

Replika Dinosaurus dari Tempe Buatan UMM Pecahkan Rekor MURI

Ahad 07 Apr 2019 06:26 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Reiny Dwinanda

Proses pengerjaan replika tempe karya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Proses pengerjaan replika tempe karya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Foto: dok. Humas UMM
Replika dinosaurus dari tempe dipamerkan UMM di Jawa Timur Park 3.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Kelompok mahasiswa praktikum event management “Prospero” Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengukir rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), Sabtu (6/4). Mereka berhasil membuat replika dinosaurus terbesar yang terbuat dari tempe di Jawa Timur Park 3.

Replika dinosaurus berukuran 7x5 meter ini ‘disembelih’ oleh Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa. Hal ini sekaligus menandai peresmian destinasi wisata baru di Kota Batu, Kampung Hijau Tempenosaurus.

Jamroji selaku dosen pembimbing praktikum mengungkapkan, untuk membuat replika tempe dinosaurus tersebut dibutuhkan kurang lebih 12 hingga 15 orang. Biaya pembuatannya hampir Rp 20 juta.

Proses pembuatan tempe dinosaurus dilakukan sejak Selasa (2/4). Proses pembuatan tempe membutuhkan waktu cukup lama, yakni tiga sampai empat hari.

Ketika pengajuan pemecahan rekor, MURI memiliki beberapa peraturan yang harus dipatuhi. Rencana awalnya, replika dinosaurus berbahan tempe itu akan diberi formalin.

Untuk kategori makanan, tempe yang akan dibuat replika disyaratkan untuk bisa dikonsumsi dan tidak boleh tersisa. Replika dinosaurus dari tempe itu dibagikan kepada pengunjung dan juga masyarakat yang melintas di sekitar kawasan wisata Jawa Timur Park 3.

Kampung Hujau Tempenosaurus hadir menyusul kesuksesan Kampung Warna-Warni Jodipan (KWJ). Gubernur Jatim mengatakan, peluncuran kampung tersebut sesungguhnya menginisiasi bangunan peradaban kemanusiaan.

"Karena yang diharapkan dari pembangunan di manapun adalah people center development, pusat dari seluruh pembangunan adalah pembangunan manusia yang ada di dalamnya,” kata Khofifah melalui keterangan resmi yang diterima Republika.co.id.

Menurut Khofifah, membangun perkampungan berarti melakukan hal serupa terhadap peradaban. Pasalnya, membangun peradaban juga harus memperhatikan perubahan pada tatanan sosialnya, budayanya, serta estetikanya.

Sementara itu, Rektor UMM Fauzan, menilai, proses pembangunan kampung ini tidak cukup berhenti pada pengecetan. Pihaknya juga akan mulai memikirkan perencanaan tatanan sosial, ekonomi, bahkan pendidikannya sebagai upaya peningkatan kompetensi masyarakat.

Upaya pembangunan dari segala aspek oleh UMM juga dilakukan di wilayah lainnya. Selain tentunya KWJ, lainnya yakni Wisata Kampung Topeng Desaku Menanti Kota Malang, serta sejumlah wilayah lainnya. UMM juga akan mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Turen, Kabupaten Malang. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA