Friday, 19 Ramadhan 1440 / 24 May 2019

Friday, 19 Ramadhan 1440 / 24 May 2019

Safari di Jawa Barat, Susi Gencarkan Gerakan Makan Ikan

Jumat 12 Apr 2019 10:35 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Indira Rezkisari

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti

Foto: Antara/Rivan Awal Lingga
Angka konsumsi ikan Indonesia secara bertahap naik tanpa menambah impor.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Usai melakukan safari ke beberapa wilayah di Jawa Barat seperti Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, Kabupaten dan Kota Tasikmalaya, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, melanjutkan kampanye Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) dan Gerakan Masyarakat Sadar Mutu dan Karantina (Gemasatukata) di Kabupaten Kuningan. Susi mengimbau agar semua generasi bangsa mencintai, menjaga serta merawat laut Indonesia.

Baca Juga

Pemerintah mencanangkan pilar kedaulatan, di mana Indonesia harus menguasai lautnya seutuhnya. Tidak ada negara lain atau pihak lain yang boleh mendominasi bahkan mengambil keuntungan dari pemanfaatan laut Indonesia.  

"Tidak pernah terbayangkan oleh kita, lebih dari 10 ribu kapal ikan asing berukuran sangat besar kita usir dari laut Indonesia. Merekalah yang dulu mengeruk laut kita sehingga terjadi penurunan signifikan jumlah rumah tangga nelayan kita," kata Susi dalam keterangannya, Kamis (12/4).  

Mengacu Data Sensus Pertanian Badan Pusat Statistik (BPS), kurun waktu 2003-2013, rumah tangga nelayan mengalami penurunan signifikan. Dari semula sebanyak 1,6 juta pada 2003, turun menjadi 868.414 atau sekitar setengahnya di tahun 2013.

Nelayan, kata Susi, amat sulit untuk mendapatkan ikan sehingga akhirnya beralih profesi. “Ada yang jadi tukang becak di kota sampai tukang bangunan,” katanya.  

Salah satu program yang digencarkan saat ini yakni menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia dan laut menjadi masa depan negara. Selama 4,5 tahun terakhir, KKP menggencarkan peperangan terhadap praktik terhadap Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing.

Dampak dari kebijakan tersebut, nelayan Indonesia, khususnya di daerah timur, utara, dan barat Indonesia yang biasanya dikuasai kapal asing, kini bisa menangkap ikan berukuran besar di daerah penangkapan ikan yang tidak terlalu jauh dan dalam waktu yang lebih singkat.

Selain itu, angka konsumsi ikan Indonesia secara bertahap naik tanpa menambah impor. Pada tahun 2018, angka konsumsi ikan nasional telah mencapai 50,69 kilogram (kg) per kapita. Maka dari itu, sumber daya ikan menurut Susi mutlak dijaga..

"Sumber daya perikanan dan lautan ini menjadi satu-satunya sumber daya alam di mana masyarakat Indonesia berdaulat 100 persen. Kita punya tambang, kita punya minyak, tapi sumber daya perikanan inilah yang semua masyarakat dapat menikmati langsung,” ujarnya.

Menurut Susi, konsumsi ikan perlu terus ditingkatkan karena protein yang terkandung pada ikan memberikan kontribusi terbesar dalam kelompok sumber protein hewani, yaitu sebesar 57,2 persen. Ikan juga memiliki komposisi asam amino lengkap dan mudah dicerna tubuh.

Ikan terdiri dari beragam jenis, bentuk, warna, rasa, dan ukuran yang menawarkan berbagai pilihan bagi masyarakat. Ikan juga dijual dengan harga yang dapat memenuhi semua segmentasi kelas ekonomi.

"Ikan itu dapat meningkatkan IQ kita sehingga lebih cerdas. Ikan juga mengandung antioksidan yang baik untuk kesehatan kulit biar awet muda. Bahkan ikan juga dapat mengurangi risiko kanker," kata Susi menjelaskan.

Pada kesempatan yang sama, Susi juga menekankan agar seluruh masyarakat tidak membuang sampah ke laut. Serta mau untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai yang dapat mencemari lingkungan. "Kita harus jaga laut kita agar ikannya tetap ada dan banyak. Kita ingin orang Indonesia makan ikan 80-100 kg setiap tahunnya seperti orang Jepang," ujar Menteri Susi.

Guna mendorong ketersediaan ikan di masyarakat, Susi menegaskan bahwa pemerintah siap membantu usaha atau badan ekonomi kecil masyarakat yang ingin memulai usaha di bidang perikanan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA