Senin, 15 Safar 1441 / 14 Oktober 2019

Senin, 15 Safar 1441 / 14 Oktober 2019

Balai Arkeologi DIY Ungkap Hasil Penelitian Situs Sekaran

Senin 15 Apr 2019 18:22 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Esthi Maharani

Ketua Tim Balai Arkeologi DIY, Hery Priswanto.

Ketua Tim Balai Arkeologi DIY, Hery Priswanto.

Foto: Republika/Wilda Fizriyani
Situs Sekaran merupakan sebuah bangunan kuno

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Setelah lima hari melakukan penelitian, tim Balai Arkeologi DIY akhirnya bisa mengungkapkan hasil analisis sementara. Penelitian situs Sekaran do Sekarpuro telah diserahkan pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Malang.

Ketua Tim Balai Arkeologi DIY, Hery Priswanto menjelaskan, tim telah memperoleh kesimpulan situs Sekaran merupakan sebuah bangunan kuno. Bangunan tersebut kini hanya menyisakan fondasi sekitar empat sampai lima lapis bata.

"Kemudian diindikasikan ada pagar dan gapura," ujar Hery saat ditemui Republika di Disbudpar Kabupaten Malang, Senin (15/4).

Hingga saat ini, Hery mengaku, belum memeroleh data pasti pertanggalan bangunan itu berdiri. Namun berdasarkan interpretasi sementara Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, situs sudah ada sekitar masa pra Majapahit.

Hery bersama tim telah melakukan penggalian vertikal sebanyak empat kotak dari Kamis (11/4) hingga Ahad (14/4). Upaya ini dimaksudkan mencari data berupa karbon dan pertanggalan. Namun karena lokasi sudah dijaga, tim belum bisa melakukan sampling untuk pertanggalan.

Secara kronologis, Hery menilai, situs telah melewati empat fase. Pertama, situs telah dimanfaatkan masyarakat masa lalu sebagai bangunan suci. Kemudian fase berikutnya ditinggalkan oleh warga di masa lampau karena suatu hal.

Selanjutnya, masa krusial di mana terjadinya pengrusakan masif pada situs. Masyarakat sekitar pada 1950 telah memanfaatkan bata situs untuk pembangunan. Bahkan, telah digunakan untuk pengelolaan tanah.

"Fase 3 ini menurut informasi masyarakat, pada 1950 masih dimanfaatkan sebagai tempat bersih desa. Warga yang menemukan batu kuno biasanya dibikin sudah atau bata lagi," kata Hery.

Fase terakhir, yakni di mana situs ditemukan kembali secara tidak sengaja dalam pembangunan jalan tol. Menurut Hery, masyarakat mulai menyadari pentingnya bata tersebut setelah terjadinya fase terakhir. Sebelumnya, mereka tidak tahu gundukan bata di kampungnya merupakan situs purbakala.

Hery juga tak menampik telah menerima laporan adanya temuan tambahan dari masyarakat di sekitar situs. Temuan artefak-artefak tersebut sayangnya tidak dalam satu area dekat. Dengan demikian, dia belum bisa memastikan keterkaitan situs dengan benda-benda yang ditemukan tak jauh dari titik fondasi bangunan kuno tersebut.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA