Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Empat Kabupaten/Kota di Jabar Masih Endemik Malaria

Selasa 14 Mei 2019 11:01 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Christiyaningsih

Nyamuk adalah salah satu penyebar penyakit malaria (ilustrasi).

Nyamuk adalah salah satu penyebar penyakit malaria (ilustrasi).

Foto: AP
Pangandaran, Garut, Sukabumi, dan Tasikmalaya masih menjadi endemik malaria di Jabar

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan saat ini 85 persen atau 23 kabupaten/ kota di Jabar telah mendapatkan sertifikasi eliminiasi atau dinyatakan bebas malaria. Tetapi empat kabupaten/kota masih menjadi endemis malaria. Keempat kabupaten/kota tersebut yakni Pangandaran, Garut, Sukabumi, dan Tasikmalaya.

"Untuk endemik di Sukabumi, Garut, dan Tasik kasusnya impor malaria. Sementara di Pangandaran terjadi karena penularan setempat. Namun empat kabupaten ini kategori endemiknya masih rendah yaitu api<1 (annual paracyte incidence)," ujar Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil, Senin (13/5) petang.

Empat daerah yang terpapar ini secara umum bersentuhan dengan pantai. Karena itu, Emil sudah menginstruksikan untuk mengambil sampel darah di daerah endemik dan diteliti bekerja sama dengan Universitas Padjajaran. Pemprov juga tengah melakukan survei perilaku terhadap pasien-pasien terpapar malaria.

"Di daerah pantai kami menyediakan jenis ikan yang akan kami tabur untuk memastikan jika ada jentik-jentik bisa selesai secara mekanisme ekologis," katanya. Intinya, kata dia, kesehatan lingkungan diutamakan yakni adanya program recycle sampah plastik menjadi bahan bakar, penanaman mangrove di daerah laut, dan lainnya.

Emil mengingatkan agar kabupaten/kota yang tidak terpapar endemik agar tidak terlena. Karena itu, Pemprov Jabar mengeluarkan surat edaran yang dikeluarkannya untuk akselerasi eliminasi malaria di 27 kabupaten/kota Jawa Barat.

"SE sudah kami sampaikan tidak hanya ke daerah yang terpapar tapi juga ke semua daerah untuk menjaga jangan sampai yang tidak terpapar menjadi terlena," jelasnya. Menurut Emil, endemik malaria disebabkan oleh sebaran lokal dan migrasi. Penanganan endemik yang disebabkan karena migrasi perlu ada strategi khusus.

"Migrasi agak susah harus ada strategi khusus. Pernah juga ada kasus dari wisatawan luar negeri yang tidak kita duga. Lalu yang pernah terpapar itu kan tidak 100 persen hilang tapi ada sekian persen yang masih bermukim di tubuh," papar Emil.

Pemprov Jawa Barat menargetkan provinsinya bebas malaria atau berstatus eliminasi malaria pada 2022 mendatang. Emil optimistis meraih target itu karena kasus malaria di Jabar terus menurun setiap tahun.

Dia menargetkan dalam waktu dua sampai tiga tahun ini Jabar bisa menjadi zona bebas malaria. "Intinya saya sangat optimis mudah-mudahan tahun depan saya bisa laporkan kemajuan yang masif untuk membantu Indonesia zero malaria," katanya.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Jabar, jumlah kasus malaria di Jabar mengalami penurunan. Pada 2013 tercatat 663 kasus malaria, 2014 (501 kasus), 2015 (344 kasus), 2016 (327 kasus), 2017 (330 kasus), dan 2018 (205 kasus). "Sementara selama 2019 ini baru terjadi 18 kasus malaria," jelas mantan wali kota Bandung itu.

Menurut Emil, berbagai upaya pencapaian eliminasi malaria di Jabar terus dilakukan. Seperti pelibatan ribuan kader PKK, penggerak desa, pasukan KB terutama di empat daerah terpapar. "Kita punya banyak kader PKK, ribuan pasukan penggerak desa, pasukan KB, saya rangkul mereka agar multifungsi jadi tidak hanya tupoksinya saja," katanya.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA