Wednesday, 17 Ramadhan 1440 / 22 May 2019

Wednesday, 17 Ramadhan 1440 / 22 May 2019

Cumi Kering Berformalin Banyak Beredar di Purbalingga

Kamis 16 May 2019 17:40 WIB

Rep: Eko Widiyatno/ Red: Dwi Murdaningsih

Pedagang menata cumi kering yang dijual Rp.148 ribu perkilogram, dari sebelumnya Rp.90 ribu perkilogram, di Kota Lhokseumawe, Aceh, Selasa (22/1/2019).

Pedagang menata cumi kering yang dijual Rp.148 ribu perkilogram, dari sebelumnya Rp.90 ribu perkilogram, di Kota Lhokseumawe, Aceh, Selasa (22/1/2019).

Foto: Antara/Rahmad
Jika cumi tidak dihingapi lalat, layak dicurigai mengandung zat berbahaya.

REPUBLIKA.CO.ID, PURBALINGGA -- Makanan laut berupa cumi kering yang berformalin beredar cukup luas di berbagai pasar di Kabupaten Purbalingga. Pekan lalu, pertugas dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Purbalingga menemukan cumi kering berformalin di Pasar Hartono wilayah Kota Purbalingga.

Baca Juga

Dalam pemeriksaan makanan dan minuman menjelang Idul Fitri di Pasar Bobotsari, Kamis (16/5), petugas kembali menemukan cumi kering berformalin. ''Ada beberapa pedagang yang menjual cumi kering. Dari hasil pemeriksaan, semua cumi kering tersebut mengandung formalin,'' kata Kasi Kefarmasian dan Alat Kesehatan pada Dinkes Purbalingga, Sugeng Santoso.

Bahkan dia menyebutkan dari hasil pengujian sampel dengan menggunakan reaksi kimia, menunjukan adanya campuran formalin dalam jumlah cukup besar. ''Kami minta cumi ini tidak dijual lagi karena kandungan formalinnya sangat besar,'' katanya.

Dari para pedagangnya, diperoleh informasi bahwa cumi kering itu dipasok oleh dua pemasok. Cumi telor kering yang berukuran kecil dipasok dari pedagang asal Pemalang, sedangkan yang cumi kering yang ukuran besar dipasok dari pedagang di Ajibarang.

Bahkan dalam pemeriksaan tersebut, petugas juga melakukan pemeriksaan pada jenis ikan asin lainnya seperti teri nasi dan ikan asin berukuran kecil. ''Hasilnya, ternyata semuanya mengandung formalin,'' katanya.

Pada para pedagangnya, pihak pemeriksa meminta agar para pedagang pasar mengembalikan ikan asin yang mengandung formalin pada pemasoknya. ''Bila tidak bisa dikembalikan, ya dimusnahkan saja karena bisa membahayakan orang yang mengonsumsi,'' katanya.

Terkait temuan ini, dia meminta masyarakat yang hendak mengonsumsi ikan asin, agar lebih berhati-hati. Sugeng memperkirakan, ikan asin berformalin yang sudah beredar luas di seluruh pasar di Purbalingga. ''Sebaiknya periksa dengan cermat, sebelum memutuskan membeli ikan asin,'' katanya.

Cara mengetahui makanan mengandung formalin atau tidak, menurut Sugeng, bisa diketahui secara sederhana.  ''Kalau ada lalat yang hinggap pada cumi tersebut, dipastikan tidak mengandung formalin. Tapi kalau tidak ada lalat, layak dicurigai mengandung zat berbahaya,'' katanya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA