Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Warga Tiga Desa Sudah Ajukan Permintaan Dropping Air Bersih

Rabu 12 Jun 2019 01:13 WIB

Rep: Eko Widiyatno/ Red: Friska Yolanda

BPBD melakukan distribusi air bersih bagi warga (ilustrasi).

BPBD melakukan distribusi air bersih bagi warga (ilustrasi).

Foto: ANTARA FOTO/Seno
Kemarau datang lebih cepat dibandingkan tahun lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, CILACAP -- Dampak musim kemarau mulai dirasakan warga di beberapa desa Kabupaten Cilacap. Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap Tri Komara Sidhi, menyebutkan sejak hujan mulai jarang turun hingga saat ini, sudah tiga desa di tiga kecamatan mengajukan permohonan dropping air bersih.

"Sudah tiga desa yang mengajukan permohonan bantuan air bersih. Dari tiga permohonan tersebut, sudah dua desa yang kita dropping. Ke depan, kemungkinan akan semakin banyak desa yang mengajukan permohonan bantuan," jelasnya, Selasa (11/6).

Dia menyebutkan, ketiga desa yang sudah mengajukan permohonan air bersih terdiri dari Desa Panikel Kecamatan Kawunganten, Desa Binangun Barun Kecamatan Bantarsari, dan Desa Purwodadi Kecamatan Patimuan. Seluruhnya, merupakan desa yang berada di wilayah Cilacap Barat.

Dari tiga desa tersebut, dua desa yang sudah mendapat dropping air bersih terdiri dari Desa Panikel Kecamatan Kawunganten dan Desa Binangun Barun Kecamatan Bantarsari. Masing-masing desa, sudah mendapat dua kali dropping air. 

"Untuk Desa Purwodadi Kecamatan Patimuan, rencananya akan dikirim bantuan air pada Kamis (13/6) besok," jelasnya. 

Tri juga mengungkapkan, jumlah desa yang mengalami kesulitan air bersih pada tahun ini, kemungkinan akan lebih banyak dibanding tahun 2019 lalu. Hal ini mengingat musim kemarau datang lebih awal dibanding tahun lalu. 

"Sebelumnya, kami perkirakan bulan Juni masih akan turun hujan meski pun sudah tidak banyak. Namun kenyataannya, sejak Bulan Puasa kemarin, hujan sama sekali sudah tidak turun," jelasnya.

Sementara berdasarkan perkiraan BMKG, puncak kemarau diperkirakan baru akan berlangsung pada Agustus 2019. Sehingga, musim hujan kemungkinan baru akan berlangsung pada akhir September atau awal Oktober 2019. 

Berdasarkan hal tersebut, dia memperkirakan jumlah desa yang akan terdampak kekeringan mencapai 65 desa yang tersebar di 18 wilayah kecamatan. Sedangkan pada tahun lalu, jumlah desa yang terdampak kemarau tercatat 48 desa yang tersebar di 17 kecamatan.

"Perkiraan peningkatan jumlah desa yang terdampak kekeringan tersebut, berdasarkan pengalaman musim kemarau tahun-tahun sebelumnya saat kemarau berlangsung cukup panjang," jelasnya.

Menurutnya, wilayah-wilayah yang akan mengalami kekeringan, tidak hanya di wilayah dataran rendah yang selama ini sudah menjadi langganan kekeringan. Melainkan juga wilayah pegunungan, seperti di wilayah Kecamatan Dayeuhluhur, Wanareja dan Karangpucung. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA