Wednesday, 23 Syawwal 1440 / 26 June 2019

Wednesday, 23 Syawwal 1440 / 26 June 2019

Warga Lereng Merapi di Boyolali Kesulitan Air Bersih

Rabu 12 Jun 2019 18:47 WIB

Red: Christiyaningsih

Suasana lokasi kekeringan Embung Musuk II dengan berlatar belakang gunung Merapi di Musuk, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (27/7).

Suasana lokasi kekeringan Embung Musuk II dengan berlatar belakang gunung Merapi di Musuk, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (27/7).

Foto: Antara/Aloysius Jarot Nugroho
Warga lereng Merapi di Boyolali kesulitan mendapat air bersih sejak Ramadhan

REPUBLIKA.CO.ID, BOYOLALI -- Warga lereng Gunung Merapi di Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, kesulitan mendapatkan air bersih. Kesulitan mendapat air bersih ini terjadi sejak pertengahan bulan Ramadhan hingga sekarang.

Baca Juga

Ketua RW 05 Desa Sruni Hadi Sutarno mengatakan sejak pertengahan bulan puasa mobil tangki air sudah mondar-mandir mendistribusikan air ke rumah warga. "Warga Sruni, terutama di daerah rawan kekeringan, mulai bersiap diri menghadapi kemarau saat ini. Sesuai pengalaman peristiwa kekeringan tahun sebelumnya, puncak musim kemarau akan terjadi Agustus mendatang," kata Hadi, Rabu (12/6).

Hadi mengatakan sebagian warga yang kesulitan mendapatkan air bersih membeli air bersih dengan harga Rp 110 ribu hingga Rp 120 ribu per tangki isi lima ribu liter. Warga kemudian memasukkan air tersebut ke dalam bak penampung.

"Harga air setiap satu tangki isi lima ribu liter mencapai Rp 110 ribu per tangki. Jika jaraknya agak jauh bisa mencapai Rp 120 ribu per tangki," jelas Hadi.

Warga biasa menggunakan satu tangki itu untuk memenuhi kebutuhan keluarga selama sepekan hingga sepuluh hari. "Warga di Sruni hampir semuanya memiliki bak penampungan air. Jika musim hujan tiba air dialirkan ke bak penampung untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk ternak," imbuhnya.

Darmaji, warga Dukuh Mlambong Desa Sruni, sudah membeli tiga tangki air bersih sejak bulan puasa hingga sekarang. "Krisis air bersih sudah sering, terjadi setiap tahun jika musim kemarau tiba," kata pria berusia 40 tahun tersebut.

Warga yang tidak mampu membeli air harus mengambil air layak konsumsi ke mata air yang jaraknya satu hingga dua kilometer dari permukiman. Hadi mengatakan Desa Sruni sebenarnya sudah mendapatkan bantuan untuk membuat sumur. Pengeboran jugasudah dilakukan di empat titik namun upaya itu belum membuahkan hasil.

Menurut Camat Musuk, Dwi Sundarto, hasil pemetaan menunjukkan 15 dari 20 desa di wilayahnya rawan mengalami bencana kekeringan selama musim kemarau. Daerah yang rawan kekurangan air bersih terdiri atas Desa Sruni, Mriyan, Sangup, Lanjaran, dan Karangkendel.

Kekeringan juga dialami warga Desa Keposong, Pager Jurang, Cluntang, Karanganyar, Musur, Jenowo, Grigan Lampar, dan Sukorejo. Kendati demikian, sampai sekarang belum ada warga Musuk yang mengajukan permohonan bantuan air bersih ke kecamatan.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA