Wednesday, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 December 2019

Wednesday, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 December 2019

Kekeringan Meluas di Kabupaten Banyumas

Jumat 14 Jun 2019 16:51 WIB

Rep: Eko Widiyatno/ Red: Dwi Murdaningsih

Ilustrasi kekeringan.

Ilustrasi kekeringan.

Foto: ANTARA FOTO/Abriawan Abhe
Permintaan bantuan air bersih yang diajukan desa-desa terdampak kekeringan bertambah.

REPUBLIKA.CO.ID, BANYUMAS -- Permintaan bantuan air bersih yang diajukan desa-desa terdampak kekeringan makin bertambah. Kepala Pelaksana Harian BPBD Banyumas Ariono Poerwanto, mengatakan hingga saat ini sudah ada enam desa yang mengajukan permintaan air bersih.

Baca Juga

''Pekan lalu, masih empat desa yang mengajukan permintaan bantuan air bersih. Berarti bertambah dua desa,'' kata dia, Jumat (14/6).

Desa-desa yang sudah mengajukan permintaan droping air bersih tersebut, terdiri dari  Desa Nusadadi Kecamatan Sumpiuh, Desa Karanganyar Kecamatan Patikraja, Desa Banjarparakan Kecamatan Rawalo, Desa Kediri Kecamatan Karanglewas, Desa Srowot Kecamatan Kalibagor, dan Desa Pekuncen Kecamatan Jatilawang. Menanggapi permintaan tersebut, Ariono mengaku pihaknya sudah melakukan droping air.

''Hingga saat ini, kami sudah menyalurkan droping air bersih sebanyak 13 tangki. Masing-masing tangki, berkapasitas 5 ribu liter,'' jelasnya.

Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Banyumas, Kusworo, menyebutkan permintaan bantuan air bersih yang dialami warga mulai diterima BPBD sejak akhir bulan Ramadhan lalu. ''Hujan yang sudah tidak pernah turun sejak awal Mei 2019 lalu, menyebabkan sejumlah desa mulai terdampak kekeringan,'' katanya.

Kusworo juga menegaskan, TRC BPBD Banyumas selalu siap melayani permohonan bantuan air bersih dari masyatrakat. ''Kami siaga 24 jam sehari selama 7 hari sepekan. Kalau ada warga desa yang mengalami kesulitan air bersih, silakan ajukan permintaan pasokan air bersih. Pasti akan kami layani,'' katanya.

Selain menimbulkan persoalan kebutuhan air bersih, musim kemarau yang baru berlangsung beberapa pekan ini telah menyebabkan petani di beberapa wilayah kesulitan mendapatkan air untuk tanamannya. Mereka harus bergiliran mengairi sawahnya dengan air irigasi, karena pasokan air yang mencukupi.

Prakirawan cuaca dari Stasiun Meteorologi BMKG Cilacap Rendi Krisnawan, menyatakan musim kemarau di sebagian wilayah Jateng selatan barat, memang sudah berlangsung sejak Bulan Mei 2019 lalu. Di beberapa daerah terutama di wilayah dataran tinggi memang masih turun hujan, namun intensitasnya sudah sangat kecil.

''Musim kemarau ini, dipekirakan akan mencapi puncaknya pada Agustus-September mendatang,'' jelasnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA