Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

1.659 Rumah Terkena Garis Patahan di Palu

Rabu 19 Jun 2019 22:55 WIB

Red: Andi Nur Aminah

Arah patahan Palu Koro yang menyebabkan gempa di Palu dan Donggala.

Arah patahan Palu Koro yang menyebabkan gempa di Palu dan Donggala.

Foto: ABC News
Sesar Palu Koro ini masuk dalam zona merah berdasarkan peta zona rawan bencana.

REPUBLIKA.CO. PALU -- Pemerintah Kota Palu, Sulawesi Tengah menyebut sebanyak 1.659 rumah terkena garis patahan besar sesar palu koro . Sesar Palu Koro ini masuk dalam zona merah berdasarkan peta zona rawan bencana.

Baca Juga

Sekretaris daerah Kota Palu Asri di Palu, Rabu (16/9) mengatakan, 1.659 rumah yang berada di jalur patahan dinilai tidak layak huni. Karena membahayakan keselamatan jiwa jika sewaktu-waktu terjadi guncangan keras. "Jumlah ini berdasarkan data yang dihimpun pemerintah kota dan ditetapkan melalui surat keputusan Wali Kota Palu," ungkap Asri.

Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan dan Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, merupakan wilayah terdampak parah akibat gempa disusul pencairah tanah atau likuefaksi. Dia memaparkan, berdasarkan data rumah rusak dan tidak layak huni akibat gempa, tsunami dan likuefaksi 28 September 2018 lalu yang di rilis Pemkot Palu ada sebanyak 5.963 rumah. Sebanyak 1.544 rumah berada di Kelurahan Balaroa dan 2.433 rumah di Kelurahan Petobo.

"Sisanya tersebar di 13 Kelurahan yang terdampak tsunami di sepanjang pinggiran teluk Palu sebanyak 1.977 rumah, " kata Ari yang juga mantan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Palu.

Dia menguraikan, rumah rusak terdampak tsunami di sepanjang pinggiran teluk Palu sebanyak 401 rumah di Kecamatan Mantokulore, 620 rumah di Kecamatan Tawaeli, 286 rumah di Kecamatan Palu Utara dan 286 rumah di Kecamatan Palu Barat serta 384 rumah di Kecamatan Ulujadi. "Jumlah keseluruhan rumah tidak layak huni akibat bencana di Kota Palu yang berada digaris patahan sebanyak 7.622 rumah," tutur Asri.

Gempa, tsunami dan likuefaksi yang memporakporandakan Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala dan sebagian wilayah Kabupaten Parigi Moutong menelan ribuan korban jiwa. Data terakhir yang dicatat Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kegempaan Provinsi Sulawesi Tengah akibat musibah tersebut menimbulkan kerugian sebesar Rp 18,48 triliun.

Kota Palu mengalami kerugian senilai Rp 8,3 triliun. Lalu Kabupaten Sigi R p6,9 triliun, Donggala Rp 2,7 triliun dan Kabupaten Parigi Moutong Rp 640 miliar.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA