Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Petani di Sigi Kembali Garap Lahan

Kamis 20 Jun 2019 21:58 WIB

Red: Esthi Maharani

Seorang petani membajak sawah untuk ditanami padi di Desa Sidera, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (ilustrasi)

Seorang petani membajak sawah untuk ditanami padi di Desa Sidera, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (ilustrasi)

Foto: ANTARA
Areal persawahan hanya bisa ditanami berbagai komoditas hortikultura

REPUBLIKA.CO.ID, PALU -- Sejumlah petani di Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah kini mulai kembali menggarap lahan pertanian setelah sebelumnya terkoyak gempa bumi 7,4 SR yang mengguncang daerah itu pada 28 September 2018. Beberapa petani di Kecamatan Sigibiromaru, Dolo, dan Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi, tampak mulai kembali mengolah lahan pertanian yang sempat terlantar.

Areal persawahan yang tadinya ditanami padi, kini hanya bisa ditanami berbagai komoditas hortikultura, seperti jagung, ubi-ubian dan juga tanaman jangka pendek lainnya yang tidak membutuhkan banyak air.

"Saya sudah dua kali ini panen jagung dan hasilnya cukup lumayan untuk menopang kebutuhan hidup keluarga," kata Subhan, seorang petani terdampak bencana alam gempabumi di Kecamatan Tanambulava, Kamis (20/6)

Ia mengatakan sawahnya seluas lebih satu hektare terpaksa untuk sementara ini hanya ditanami jagung dan komoditas pertanian lainnya, sebab masih terkendala irigasi yang belum berfungi.

Irigasi Gumbasa yang selama ini menjadi pensuplai air untuk persawahan petani di beberapa desa di sejumlah kecamatan di Kabupaten Sigi sedang dalam perbaikan setelah hancur diterjang gampabumi dan likuefaksi pada 28 September 2018.

Hal senada juga disampaikan Agus SP, petani yang juga seorang guru pada salah satu sekolah dasar di Kabupaten Sigi. Ia mengatakan areal persawahan yang selama ini ditanami padi, sekarang ditanami komoditas hortikultura seperti cabai, tomat, bawang dan juga sebagian jagung manis. Selama belum ada irigasi, komoditas tersebut sangat cocok untuk dikembangkan, sebab tidak membutuhkan air yang banyak.

"Kalau menanam padi, butuh air yang cukup. Di satu sisi irigasi rusak total dan sedang diperbaiki oleh instansi terkait," kata dia.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA