Monday, 19 Zulqaidah 1440 / 22 July 2019

Monday, 19 Zulqaidah 1440 / 22 July 2019

Humas Pemkot Surabaya Bantah Risma Kritis

Kamis 27 Jun 2019 16:30 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Gita Amanda

Wali kota Surabaya, Tri Rismaharini

Wali kota Surabaya, Tri Rismaharini

Foto: Dok Pemkot Surabaya
Kondisi Risma dipastikan semakin membaik dari hari ke hari.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Kabag Humas Pemkot Surabaya, Muhammad Fikser membantah kabar yang sempat beredar tentang Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang disebutkan dalam keadaan kritis. Fikser menegaskan, kabar tersebut merupakan kabar bohong. Bahkan, Fikser memastikan, kondisi Risma dari hari ke hari semakin membaik.

Baca Juga

"Tadi malam ada yang bilang di Twitter, kalau nggak salah bunyinya begitu, bahwa Bu Risma dalam keadaan kritis dan drop. Kami di sini sampai malam kok, sampai jam 02.00 malam nggak ada apa-apa ya. Ibu sekarang baik ya, jauh lebih baik," kata Fikser ditemui di RSUD dr. Soetomo Surabaya, Kamis (27/6).

Fikser menegaskan, wali kota perempuan pertama di Surabaya tersebut memang masih harus mendapat perawatan intensif. Namun kondisinya semakin membaik. Bahkan sudah bisa berkomunikasi dengan keluarga. Bahkan, Risma juga sudah sempat bertemu dengan sang suami.

"Kalau komunikasi iya, jadi komunikasi dengan pihak keluarga iya. Sudah sempat komunikasi sama putra dan putrinya beliau, bahkan suami beliau juga sempat bertemu," ujar Fikser.

Fikser juga membantah Risma sempat tidak sadarkan diri dalam perawatan yang dijalaninya di ruang ICU RSUD dr. Soetomo. Menurut Fikser, Risma masih bisa merespon komunikasi orang yang ada di sekitarnya. Namun memang yang bersangkutan sempat diberi obat bius atau obat penenang, karena memang harus beristirahat dengan baik.

"Jauh lebih baik, karena merespons. Jadi bukan tidak sadar diri, dia bisa melihat dan merespons. Memang ada diberikan semacam obat bius, jadi setelah bangun ya respons, tidur lagi. Tapi kalau sampai tidak sadarkan diri yang berkembang di media sosial itu tidak benar," kata Fikser.

Fikser menegaskan, alat-alat yang dipasang dalam upaya memberikan perawatan intensif, adalah alat-alat standar. Artinya, siapa pun pasien yang dirawat di ruang ICU, akan dipasangi alat-alat tersebut.

"Saya tidak tahu yang namanya di ICU itu. Tapi itu standar SOP untuk ICU itu pasti lah kalau ada alat pemasang rekam jantung, atau apa itu pasti lah, tapi jenisnya saya kan tidak tahu," ujar Fikser.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA