Rabu, 15 Jumadil Akhir 1440 / 20 Februari 2019

Rabu, 15 Jumadil Akhir 1440 / 20 Februari 2019

Sekjen PDIP: Negara tidak Boleh Kalah Hadapi Terorisme

Jumat 11 Mei 2018 02:37 WIB

Red: Bayu Hermawan

Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto

Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto

Foto: RepublikaTV/Havid Al Vizki
Hasto menegaskan terorisme tidak diterima di bumi Pancasila

REPUBLIKA.CO.ID, BLITAR -- Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDIP Hasto Kritiyanto meminta aparat kepolisian bersikap tegas menangani aksi terorisme. Hasto menegaskan, aksi terorisme bertentangan dan tidak diterima di bumi Pancasila.

"Melihat patriot RI menjadi korban tindak kekerasan, PDIP memberikan dukungan pada jajaran kepolisian untuk bersikap tegas. Dari yang terjadi menunjukkan terorisme, radikalisme tidak diterima di bumi Pancasila, dengan demikian negara tidak boleh kalah," katanya di Blitar, Jawa Timur, Kamis (10/5).

Hasto yang ditemui saat ziarah makam Bung Karno di Kota Blitar, mengatakan sikap tegas aparat itu juga menunjukkan kewibawaan, martabat dari negara yang mempunyai ideoligi Pancasila. Ia sangat menekankan agar tindakan tegas dilakukan.

"Apapun terorisme harus diberikan perlakuan khusus, tidak hanya program deradikalisasi tapi juga penanganan secara khusus. Langkah yang dilakukan seluruh aparat penegak hukum juga menunjukkan pencegahan ini sangat penting," katanya.

Pihaknya juga mengucapkan duka cita sedalam-dalamnya karena para patriot menjadi korban atas peristiwa tersebut. Hasto juga menegaskan untuk terus membumikan Pancasila, dengan harapan jangan sampai agama djadikan tameng dan menjadi alat dalam menyebarkan paham yang bertentangan dengan ideologi Pancasila terutama ketuhanan dan kemanusiaan.

"Tentu ini juga terus dievaluasi (pengamanan) dan dari pernyataan Presiden dan Wakil Presiden terus dievaluasi agar kejadian ini tidak terulang kembali," kata dia.

Sebelumnya, kerusuhan terjadi di Rutan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, pada Selasa (8/5) malam, sekitar pukul 20.20 WIB. Keributan tersebut bermula dari penolakan pihak keluarga narapidana terorisme saat polisi hendak memeriksa makanan yang dibawa.

Para tahanan teroris itu sempat menguasai enam senjata rampasan, bahkan tahanan menyandera enam anggota Brimob namun hanya satu yang masih hidup. Bahkan, ada 130 tahanan teroris yang sempat bertahan. Akibat insiden itu, lima anggota polisi gugur dan seorang narapidana teroris (napiter) tewas. Sedangkan seorang anggota polisi lain sempat dijadikan sandera, hingga akhirnya dibebaskan setelah proses negosiasi yang panjang.

Polisi akhirnya menghentikan operasi di Rutan Mako Brimob pada Kamis (10/5) pukul 07.15 WIB. Operasi tersebut terkait peristiwa penyanderaan sejumlah anggota polisi di Rutan Cabang Salemba yang sudah dilakukan sejak Selasa (8/5).

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES