Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Ini Faktor Kelompok Radikal Bisa Berkembang di Poso

Rabu 25 Mar 2015 16:48 WIB

Rep: Reja Irfa Widodo/ Red: Bilal Ramadhan

Peta Poso. Ilustrasi

Peta Poso. Ilustrasi

Foto: Google Maps

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Maraknya perkembangan kelompok-kelompok kecil radikal di Poso, Sulawesi Tengah, tidak terlepas dari kondisi sosial, kultural, dan geografis yang terdapat di Poso. Belum lagi, Poso memiliki sejarah konflik komunal yang melibatkan sentimen-sentimen keagamaan.

Hal ini diungkapkan Peneliti Senior Center for Security and Peace Studies (CSPS) Universitas Gajah Mada, Najib Azca. Menurutnya, meski saat ini konflik komunal sudah tidak ada lagi di Poso, namun masih ada kelompok-kelompok radikal atau terorisme yang menjadikan Poso sebagai basis atau markas mereka.

Wilayah Poso, ujar Najib, menjadi menarik untuk para kelompok teroris lantaran secara sosial, kultural, dan ekonomi, cukup mendukung penyebaran paham-paham radikalisme. Belum lagi dengan kontur wilayah yang banyak terdapat pegunungan, sehingga sulit dilacak.

Hal ini pun didukung dengan konflik komunal antar agama, yang sempat terjadi beberapa tahun lalu. Alasan-alasan ini yang membuat Poso dianggap sebagai tempat yang tepat buat kelompok-kelompok radikal untuk dijadikan basis dan markas gerakan mereka.

''Secara kultural dinilai cukup kuat dan pertentangan dengan Kristen juga kuat. Disana kemudian dibangun jadi basis dan itu relatif berhasil dan sampai saat ini (kelompok radikal) belum benar-benar habis,'' papar Najib kepada wartawan usai menjadi pembicara di 'Seminar Nasional: Demokrasi Kekerasan dan Pembangunan Perdamaian di Wilayah Pasca Konflik di Indonesia', di Jakarta, Rabu (25/3).

Kelompok radikal itu, menurut Najib, dulunya adalah Jamaah Islamiyah, yang kini berubah bentuk menjadi Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang berada di bawah pimpinan Santoso. Kelompok ini memiliki ideologi 'framework' yang sama dengan gerakan radikal yang berpusat di Timur Tengah.

Ideologi mereka pun memiliki kesamaan, yaiktu ingin membentuk negara Islam. Akhirnya dengan munculnya Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), ada resonansi yang begitu cepat antara ISIS dengan kelompok radikal di Poso tersebut.

Sebagai sama-sama daerah pasca konflik, Najib menyebut, kondisi di Poso berbeda dengan Ambon, Maluku. Jika di Maluku, kelompok radikal mulai menyusut, tapi berbeda dengan yang di Poso. Kelompok ini berhasil membangun kekuatan dengan mendekati tokoh-tokoh masyarakat setempat.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA