Monday, 17 Sya'ban 1440 / 22 April 2019

Monday, 17 Sya'ban 1440 / 22 April 2019

Polri: Polisi Malaysia Buru Aktor Intelektual Mutilasi WNI

Rabu 27 Feb 2019 05:44 WIB

Red: Ratna Puspita

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Mabes  Polri, Jakarta Selatan, Kamis (20/12).

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (20/12).

Foto: Republika/Ijal Rosikhul Ilmi
Polisi di Malaysia sudah mengantongi indentitas satu aktor intelektual.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seorang aktor intelektual di balik mutilasi dua korban warga negara Indonesia (WNI) di Sungai Buloh, Selangor, Malaysia, sedang diburu Polisi Diraja Malaysia (PDRM). Polisi di Malaysia sudah mengantongi indentitasnya.

"Aktor intelektual masih dalam pengejaran satu orang," tutur Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Jakarta, Selasa (26/2).

Dua orang warga negara Pakistan yang ditangkap PDRM hingga kini tetap mengelak. Tanpa saksi dan pengakuan, PDRM belum berani melimpahkan kasus itu ke kejaksaan meski sudah mengumpulkan alat bukti.

Sejauh ini, dua orang yang ditemui korban di Malaysia itu diduga sebagai pelaku pembunuhan dan mutilasi. Akan tetapi, PDRM perlu menangkap aktor intelektual untuk memberikan kesaksian terlebih dulu.

Apalagi dua warga negara Pakistan itu mempunyai masalah keimigrasian. Sehingga, penahanannya dialihkan ke Badan Reserse Kriminal PDRM dan menjadi tersangka kasus lain, bukan tersangka mutilasi WNI.

Sementara salah satu dari dua korban mutilasi di Sungai Buloh, Selangor, Malaysia, dipastikan merupakan warga negara Indonesia (WNI) setelah tim Indonesia Automatic Finger Print Identification System (Inafis) Polri mengidentifikasi sidik jari korban. Sedangkan untuk satu lagi korban perempuan belum teridentifikasi dan proses pembuktiannya akan dilakukan melalui pencocokan DNA dengan ayah biologis korban.

Berdasarkan keterangan keluarga korban, Nuryanto yang merupakan pengusaha tekstil bersama stafnya Ai Munawaroh, berangkat ke Malaysia pada 17 Januari untuk urusan bisnis, tetapi keluarga kehilangan kontak pada 22 Januari 2019.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA