Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Sofyan Basir Pastikan Datang Penuhi Panggilan KPK

Senin 27 May 2019 11:58 WIB

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Teguh Firmansyah

Mantan Direktur Utama PLN Sofyan Basir usai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Senin (6/5).

Mantan Direktur Utama PLN Sofyan Basir usai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Senin (6/5).

Foto: Republika/Prayogi
KPK ingatkan para tersangka maupun saksi yang dipanggil agar bersikap kooperatif.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah mengatakan, tersangka kasus suap proyek pembangunan PLTU Riau-1 , Sofyan Basir akan memenuhi panggilan penyidik. Direktur nonaktif PLN tersebut diperiksa hari ini setelah pada Jumat (24/5) kemarin tidak bisa memenuhi panggilan.

"Tadi kami diinformasikan bahwa tersangka SFB akan datang memenuhi panggilan KPK pukul 13.00 WIB siang ini. Seharusnya dijadwalkan pukul 10.00 WIB. Tapi penyidik akan menunggu yang bersangkutan datang," kata Febri dalam pesan singkatnya, Senin (27/5).

KPK, kata Febri, tetap mengingatkan agar para tersangka ataupun saksi yang dipanggil agar koperatif dan menunjukkan itikad baiknya untuk memenuhi kewajiban hukum tersebut.

Selain Sofyan, dalam mengusut kasus ini, tim penyidik juga menjadwalkan memeriksa sejumlah saksi lainnya. Mereka di antaranya adalah Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati.  Penyidik memanggil Nicke dalam kapasitasnya sebagai mantan Direktur Pengadaan Strategis 1 PT PLN.

Selain Nicke, KPK juga menjadwalkan pemeriksaan terhadap sejumlah pejabat PLN lain. Mereka yakni Direktur Pengadaan Strategis 2 PLN, Supangkat Iwan Santoso, Direktur HCM PLN Muhammad Ali.

Dalam kasus ini, Sofyan diduga menerima janji dengan mendapatkan bagian yang sama besar dari  jatah Wakil Ketua Komisi VII Eni Maulani Saragih dan Mantan Sekertaris Jenderal Partai Golkar, Idrus Marham.

Bukti-bukti keterlibatan Sofyan dalam kasus ini dikumpulkan penyidik dari proses penyidikan hingga persidangan tiga tersangka sebelumnya yakni Eni, Idrus dan bos Blackgold Natural Recourses Limited Johannes Budisutrisno Kotjo.

Sofyan diduga bersama-sama atau membantu Eni Maulani Saragih selaku Anggota DPR-Rl dan kawan-kawan menerima hadiah atau janji dari Johannes Budisutrisno Kotjo terkait kesepakatan kontrak kerja sama Pembangunan PLTU Riau-1.

Sofyan disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP atau Pasal 56 ayat (2) KUHP Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Penetapan tersangka Sofyan merupakan pengembangan dari penyidikan tiga tersangka sebelumnya yakni Eni, Johannes dan Idrus Marham. Ketiganya telah divonis, Eni dihukum enam tahun penjara, Kotjo 4,5 tahun pidana penjara dan Idrus Marham 3 tahun pidana penjara.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA