Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Ini Kronologi Senjata yang Dikaitkan dengan Ricuh Aksi Mei

Selasa 11 Jun 2019 19:31 WIB

Rep: Arif Satrio Nugroho/ Red: Nur Aini

Kadiv Humas Polri Irjen Pol M. Iqbal (kedua kanan) didampingi Kapuspen TNI Mayjen TNI Sisriadi (kedua kiri), Wadir Reskrimum Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary (kiri) dan Kasubdit 1 Dittipidum Bareskrim Polri Kombes Pol Daddy Hartadi (kanan) memberikan keterangan pada wartawan terkait perkembangan kericuhan 21-22 Mei 2019 di Media Center Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (11/6/2019).

Kadiv Humas Polri Irjen Pol M. Iqbal (kedua kanan) didampingi Kapuspen TNI Mayjen TNI Sisriadi (kedua kiri), Wadir Reskrimum Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary (kiri) dan Kasubdit 1 Dittipidum Bareskrim Polri Kombes Pol Daddy Hartadi (kanan) memberikan keterangan pada wartawan terkait perkembangan kericuhan 21-22 Mei 2019 di Media Center Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (11/6/2019).

Foto: Antara/M Risyal Hidayat
Kepemilikan senjata diselidiki dalam kaitan dengan kerusuhan 22 Mei.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Polri menjelaskan asal usul kepemilikan senjata api Mantan Danjen Kopassus Mayjen TNI Purn Soenarko. Polisi menjelaskan senjata yang berasal dari sitaan milisi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) semasa Soenarko masih aktif bertugas, hingga diselundupkan ke Bandara Soekarno-Hatta.

Baca Juga

Kepala Sub-Direktorat I Dittipidum Bareskrim Polri, Komisaris Besar Daddy Hartadi menjelaskan, pihak kepolisian menangani kasus tersebut berdasarkan surat yang diterima dari Polisi Militer (POM) pada 19 Mei 2019. Dari hasil penyelidikan Puspom TNI, Bareskrim Polri pun membuat laporan polisi model A (dibuat pihak kepolisian sendiri).

"Dugaan tindak pidana yang dikenakan yakni terkait tanpa hak menerima menyimpan menguasai membawa menyerahkan senjata api ilegal," kata Daddy di Kemenkopolhukam, Jakarta, Selasa (11/6).

Polisi melakukan langkah penyelidikan dan penyidikan, serta pemeriksaan terhadap 13 orang baik para saksi maupun ahli dari forensi, ahli pidana, maupun saksi lainnya.  Pada 15 Mei 2019 sebelumnya, anggota BAIS juga telah mengamankan Z di Bandara Soekarno Hatta, karena kedapatan menerima dan membawa senjata api ilegal dan tanpa dilengkapi surat yang sah. Polri menindaklanjuti laporan itu.

Dari penyelidikan, Daddy menyimpulkan, Soenarko memiliki satu pucuk senjata api laras panjang buatan AS. Saat masih aktif di TNI, Soenarko menyita 3-4 pucuk senjata milik GAM.

Kemudian, dua pucuk disimpan di gudang dan satu lagi disisihkan. Pada 2009, atas perintah Soenarko, satu senjata diserahkan ke orang kepercayaan Soenarko berinisial HR. Selanjutnya, pada awal April 2019, sebelum pencoblosan pemilu, Soenarko menghubungi HR dan meminta agar senjata dikirim ke Jakarta.

Daddy mengatakan, karena senjata tersebut ilegal, HR meminta bantuan Beni yang juga anggota TNI untuk membuat security item agar lolos dibawa melalui penerbangan, dengan mengatasnamakan Kepala BIN daerah Aceh.

"Karena senpi ini tidak ada suratnya, maka saudara B (Beni) dibuatkan surat keterangan palsu atas nama Kabinda Aceh," kata Daddy.

Senjata itu beserta surat izinnya kemudian diserahkan kepada protokol bandara agar bisa diterbangkan menggunakan maskapai Garuda Indonesia. Security Item tersebut dititipkan kepada saksi SA yang akan melaksanakan pendidikan dan rapat di Jakarta.

Saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta, surat security item diinfokan oleh B kepada Z yang merupakan protokol di Bandara Soetta. Selanjutnya, Z diminta untuk mengambil security item agar dapat mengambil senjata dari SA. Namun, tak berapa lama setelah itu, SA dan Z ditangkap oleh anggota BAIS. Keduanya diamankan dan dibawa ke POM TNI.

Terhadap senpi yang menjadi objek perkara, Daddy menyatakan, polisi sudah melakukan penelitian uji balistik. Merek dan logo telah dihapus, namun nomor seri masih terlihat. 

"Kesimpulannya berdasarkan hasil pemeriksaan, pucuk senjata api itu adalah laras panjang menyerupai M4 carbine dan dapat berfungsi dengan baik dan dapat ditembakkan," kata Daddy. 

Soenarko pun kini sudah diamankan. Kasus kepemilikan senjata tersebut masih diteliti keterkaitannya dengan kerusuhan 21, 22 dan 23 Mei yang menyebabkan jatuhnya sembilan korban jiwa. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA