Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Hulu Ciliwung yang Bermasalah

Kamis 24 Oct 2013 23:00 WIB

Rep: Wahyu Syahputra/ Red: Mansyur Faqih

Sejumlah anak bermain di kali Ciliwung di kawasan bendung Katulampa, Ciawi, Bogor, Jawa Barat.

Sejumlah anak bermain di kali Ciliwung di kawasan bendung Katulampa, Ciawi, Bogor, Jawa Barat.

Foto: Antara/Paramayuda

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: wahyu Syahputra

Rudi mulai panik jika melihat televisi. Setiap kali dia menyaksikan berita di stasiun televisi yang mengabarkan Bogor hujan dan Katulampa naik beberapa centimeter, kepanikan itu muncul. Keluarga Rudi bersiap menaikkan barang elektronik ke bagian atas rumahnya yang sengaja dibuat semacam gudang berbentuk kubus berbahan triplek.

Rudi adalah warga Kampung Dalam, Gang Ciliwung 2, RT 006/001 Kelurahan Cawang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. Kampung itu terkenal dengan banjirnya karena sangat berdekatan dengan aliran Sungai Ciliwung. Tapi bukan saat hujan yang ditakutinya. "Saya lebih takut jika Bogor hujan," kata dia.

Teman Rudi, Syarifuddin menambahkan, kiriman dari Bogor lebih mengerikan daripada Jakarta yang diguyur hujan. Jika Bogor hujan, air bisa naik mencapai 50 sentimeter dan biasanya terjadi menjelang subuh.

Yah, banjir kiriman dari Bogor, memang menjadi ancaman warga Jakarta. Ancaman tersebut mulai datang lagi dengan tibanya musim hujan, terutama di wilayah Puncak, Bogor. Republika pun  mencoba melihat bagaimana hulu Sungai Ciliwung, yang berada di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. 

Perjalanan mencari hulu sungai Ciliwung, merujuk ke Telaga Warna Puncak Bogor. Sebelum tiba di lokasi, terlihat keasrian lokasi tersebut. Rimbunan pepohonan serta air danau yang tenang memanjakan mata. Nantinya, telaga ini yang akan mengaliri sungai Ciliwung sampai ke Jakarta.

Mogi, salah satu warga Kampung Neglasari, RT01/04, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Bogor yang ditemui menuturkan, orang tuanya sudah puluhan tahun tinggal di daerah ini. Mereka berada di sana hingga pada titik keluarganya tertimpa musibah. "Tahun 2011, di desa saya pernah air dari Ciliwung tiba-tiba datang, deras sekali dan rumah saya roboh. Saya heran, padahal ini kawasan tinggi," kata dia.

Mogi menambahkan, ada beberapa titik aliran kecil yang nantinya menyatu menjadi Sungai Ciliwung. Antara lain, hutan konservasi Telaga Warna, Desa Tugu Utara, Situ Patung Pramuka, dan Perkebunan Teh Ciliwung. Di bantaran awal Sungai Ciliwung itu banyak dibangun vila dan perumahan warga.Hulu sungai Ciliwung salah satunya bernama Cikamasan.

Menurut Mogi, sungai ini nantinya akan menyatu dengan aliran sungai lain yang membentuk Sungai Ciliwung. Memang, vila-vila baru banyak yang bermunculan dan memakan lahan kosong yang dulunya adalah kebun. "Tidak hanya vila, warga sekitar sini ikut-ikutan membeton rumahnya hingga memakan badan sungai," ujar Mogi.

Pantauan Republika, salah satu tembok vila yang berdiri kokoh di Kampung Pondok Caringin II, RT02/04, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor menyempitkan lebar sungai. Lebar sungai hanya dua meter, melewati jembatan yang dibuat untuk jalan menuju vila. Di depan vila pun terdapat rumah yang di bawahnya ada aliran sungai Cikamasan. Beton rumah tersebut menghalangi aliran air sungai Cikamasan.  

Sementara di samping vila ada kamar mandi umum yang limbahnya langsung di buang ke sungai. Sampah juga banyak menghiasi sisi beton rumah dan tembok vila. Batang pohon bambu terlihat berjatuhan di samping vila, menahan laju air sungai.

Di desa tetangganya, yakni Desa Tugu Selatan, keadaan sungai pun sangat memrihatinkan. Beton-beton villa menyempitkan aliran sungai. Beberapa vila terlihat di bangun tepat di badan sungai. Vila-vila tersebut berlokasi di RT 02/07, Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.

"Dulu sungai ini lebar sekali, lima tahun belakangan sampai sekarang lebarnya tidak sampai tiga meter, rata-rata vila dibangun setahun belakangan," kata Mogi.

Hulu lain sungai Ciliwung, terletak di Desa Cibereum, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Sungguh miris rasanya saat pertama kali melihat sungai itu dipadati sampah. Sampah-sampah sudah dikarungi dengan plastik hitam, sementara sampah styrofoam terlihat berceceran. Beberapa baliho juga tergeletak di pinggir sungai.

Ditemani warga setempat, Republika mencoba menyusup ke tempat pembuangan sampah. Menurut Teja dan Ade, lokasi pembuangan sampah itu dulunya adalah tempat penambangan pasir dan batu kali di Desa Cibereum. Pecahan-pecahan kaca dan sampah plastik memenuhi tempat itu. Saat menginjak tanah, sangat terasa tanah itu gembur.

Beragam sampah plastik banyak yang tertanam di dalam tanah atau hanyut ke sungai. Sementara, di sungai yang berbatu, beberapa dahan pohon kering yang tumbang dibiarkan teronggok tak diangkut.

Terlihat ada tiang beton dengan tinggi belasan meter memalang di tengah-tengah sungai. "Ini memang proyek Taman Safari yang belum selesai untuk membuat jalan arus air," ujar Ade, salah satu warga Desa Cibereum.

Dari  beberapa titik hulu sungai Ciliwung ini sampah serta rumah-rumah liar tempat pengolahan sampah, memakan bahu sungai. Sungai yang awalnya besar, semakin lama mengerucut dengan banyaknya rumah-rumah liar yang berdiri.

Di beberap titik itu juga, terlihat warga yang membuang sampah langsung ke hulu sungai Ciliwung. Sampah yang terbuang itu terkumpul di satu tempat karena tertahan oleh batu besar yang berada di sungai.

Menurut Mogi, setiap tahun pembangunan vila di Kawasan Puncak semakin bertambah. Warga rela menjual tanahnya untuk dibanguni vila. Setelah berganti kepemilikan, lingkungan sekitar pun dibabat habis dengan betonisasi. Para pembangun vila rata-rata adalah warga Jakarta. Sementara warga setempat sudah cukup puas mendapat komisi. "Banyak yang mau beli lokasi di sini, pengusaha, Jenderal juga ada," ujarnya.

Mogi melanjutkan, orang-orang Jakarta bersemangat membeli tanah dan membangun vila di kawasan ini karena aksesnya mudah. Ditambah, mengurus Ijin Membuat Bangunan (IMB) tidak susah. Mogi menuturkan, ada banyak calo tanah di Kawasan Puncak. Sayangnya, ia enggan menunjukkan tempat mereka dengan alasan keselamatan. "Calo di sini punya banyak bekingan," kata dia.

Ciliwung merupakan sungai dengan panjang hampir 120 kilometer. Sungai ini membelah Kota Bogor, Depok dan Jakarta. Kerusakan yang mulai dari hulu sungainya ini yang membuat ribuan warga Jakarta harus senantiasa mendapat kiriman banjir jika tiba-tiba curah hujan tinggi di kawasan Puncak.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sudah menegaskan akan menindak tegas warga yang membuang sampah di Sungai Ciliwung. Beberapa waktu lalu, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memerintahkan petugas untuk menangkap siapa pun yang membuang sampah di sungai Ciliwung.

Untuk aksi tersebut, Jokowi pun membentuk tim patroli di aliran Sungai Ciliwung. "Warga yang ketahuan akan langsung ditangkap biar jera," tegas Jokowi.

Tampaknya, pemprov DKI harus lebih melebarkan perhatiannya dan menjalin kerjasama dengan Pemda Bogor, untuk mengatasi masalah Ciliwung. Karena sesungguhnya, masalah bukan hanya muncul di hilir sungainya, namun justru berawal dari hulunya. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA