Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

'Menormalkan Kawasan Kalijodo, Kontrol Terhadap Masyarakat'

Rabu 17 Feb 2016 19:24 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Djibril Muhammad

Suasana kawasan kawasan Kalijodo, Jakarta, Rabu (17/2).

Suasana kawasan kawasan Kalijodo, Jakarta, Rabu (17/2).

Foto: Republika/ Yasin Habibi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pelestari budaya betawi dan seniman, Yahya Andi Saputra menilai, rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menormalkan lahan di kawasan Kalijodo, Jakarta Utara (Jakut) merupakan kontrol terhadap kehidupan masyarakat.

"Ini bukan hanya persoalan mengubah lokasi indah di pandang mata, tetapi ini problem kemasyarakat kita," katanya kepada Republika.co.id, Rabu (17/2).

Ia berujar, pemerintah zaman kolonial cenderung memberikan keleluasaan di kawasan tersebut. Kendati saat itu kontrol tetap ada, namun tidak semencolok saat ini. Yahya berpendapat, selama pemerintah memelihara rasa asik, aman dan tentram terhadap kawasan tersebut, maka permasalahan sosial itu akan selalu muncul.

"Ini bukan menyoal (menjadikan) tempat kumuh jadi bagus," ujarnya.

Dalam ingatannya, kawasan Kalijodo merupakan daerah remang-remang. Pada satu bulan tepatnya hari ke-14, seseorang dapat menikmati semilir angin. Suasana yang memberikan kenikmatan tersendiri bagi para pria hidung belang.

Namun, tidak hanya pria-pria pemburu wanita yang biasa menikmati suasana itu, mereka yang sekadar berkunjung, biasa melihat bulan. Sesekali, mereka juga dapat menikmati pertunjukan saat Peh Cun.

Orang-orang yang ingin pelesir saat waktu luang, biasanya mengunjungi kawasan Kalijodo. Mereka yang datang biasanya berasal dari kelas menengah ke bawah.

Ia menyebut, belum ada pemerintah yang bisa sukses menggusur kawasan lokalisasi. Itu merupakan permasalahan pemerintah yang tidak akan pernah bisa terselesaikan karena akan selalu muncul di mana saja.

"Maka persoalan ini tak akan selesai sampai kapanpun, karena bisa muncul di mana saja. Yang dikhawatirkan, dia muncul di kawasan tertentu yang kita tak duga sama sekali," tuturnya.

Ia mencontohkan, kawasan Kramat Tunggak hanya selesai secara fisik. Orang-orang bahkan telah menyebut tempat itu dari biadap menjadi tempat yang sajadah. "Tetapi itu problem merombak muka dari sebuah kawasan, tapi isinya kan belum tentu bisa dirobah," ujar Yahya.

Ia menilai pemerintah benar-benar serius membenahi kawasan Kalijodo hingga ke akar-akarnya. "Tempat itu mungkin saja bisa dibersihkan, tetapi borok-borok sosial kemasyarakat tidak bisa begitu saja dihilangkan," katanya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA