Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Manajemen Transjakarta Ajak Berunding Perwakilan Karyawan

Senin 12 Jun 2017 15:10 WIB

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Budi Raharjo

Ratusan karyawan kontrak PT Transjakarta melakukan aksi unjuk rasa di kantornya yang berada di Jalan Mayjen Sutoyo, Cawang, Jakarta Timur, Senin (12/6).

Ratusan karyawan kontrak PT Transjakarta melakukan aksi unjuk rasa di kantornya yang berada di Jalan Mayjen Sutoyo, Cawang, Jakarta Timur, Senin (12/6).

Foto: Republika/Dian Fath Risalah

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Direktur Operasional Transjakarta Daud Joshep mengatakan, sedang melakukan upaya koordinasi dengan perwakilan karyawan dan sopir Transjakarta yang melakukan pemogokan kerja sejak 11.11 WIB siang tadi. PT Transjakarta mengajak berunding perwakilan karyawan untuk menyelesaikan aksi mogok kerja tersebut.

"Ini sedang pertemuan dengan karyawan," ujar Daud saat dihubungi Republika.co.id melalui sambungan telepon, Senin (12/6).

Dia menjelaskan, PT Transjakarta akan berusaha mencari penyelesaian terbaik agar tidak ada lagi mogok kerja karyawan maupun sopir Transjakarta. "Ini kamu lagi selesaikan dulu, apa saja tuntutannya," kata dia.

Aksi demo juga terjadi di kantor pusat Transjakarta, Cawang, Jakarta Timur. Para pemdemo menuntut pimpinan direksi untuk segera melakukan mengangkat mereka sebagai karyawan tetap. Beberapa pendemo terlihat telah berkumpul sejak pukul 08.00 WIB.

Sedangkan di Halte Harmoni, Jakarta Pusat terlihat puluhan bus transjakarta terparkir sepanjang halte Harmoni hingga depan menara BTN. Kejadian tersebut berlangsung sejak pukul 10.00 pagi. Akibatnya, penumpang terpaksa turun di halte tersebut.

Salah satu sopir Bus Transjakarta Yones mengungkapkan, aksi mogok tersebut karena tuntutan kesejahteraan. Ia mengatakan, dalam perjanjian kontrak baru, tertera nilai kontrak yang menyebutkan diatas usia 35 tahun maka otomatis akan diputus kontrak.

Selain itu, aturan tersebut juga melarang karyawan yang memiliki hubungan keluarga seperti suami-istri atau adik-kakak. ''Kalau diputus gimana nasib anak bini,'' ucap Yones.

Menurut dia, sopir bus transjakarta yang modok hampir semua operasional dari mulai dari koridor 1, 2, 5, dan 8. Ia mengaku tuntutan ini sebelumnya sudah disuarakan. Tapi karena takut dipecat, mereka tidak berani mogok. ''Puncaknya sekarang, sudah pada nggak tahan,'' jelas Yones.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA