Selasa, 15 Syawwal 1440 / 18 Juni 2019

Selasa, 15 Syawwal 1440 / 18 Juni 2019

Masyarakat Jakarta Diajak Puasa Plastik Selama Ramadhan

Senin 06 Mei 2019 19:07 WIB

Red: Ratna Puspita

Sampah plastik di Jakarta. (Ilustrasi)

Sampah plastik di Jakarta. (Ilustrasi)

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Pada Ramadhan 2018, sampah di DKI meningkat empat persen atau 289 ton tiap hari.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masyarakat DKI Jakarta diajak mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai guna menekan suplai volume sampah plastik selama Ramadhan di wilayah itu. Istilahnya, "puasa plastik" karena sampah plastik di Indonesia sudah sangat luar biasa banyak.

"Jakarta menghasilkan 6.000-8.000 ton sampah setiap hari dengan volume plastik mencapai 10-15 persen. Sampah itu yang kita hasilkan setiap hari dan meningkat saat Ramadhan," kata Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia, Muharram Rasyadi,di Jakarta, Senin (6/5).

Baca Juga

Ia menuturkan, penambahan volume sampah plastik terjadi akibat meningkatnya pola konsumsi masyarakat saat berbuka puasa dan sahur. Iklan produk makanan dan minuman yang tayang di banyak media massa selama Ramadhan memicu budaya konsumeristis tersebut.

"Masyarakat harus punya kendali agar tidak mengandalkan produk-produk yang masih menggunakan sampah plastik sekali pakai," ujarnya.

Ia mengungkapkan, ada banyak cara sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi sampah plastik. Misalnya, membawa wadah makanan dan botol minuman sendiri saat ngabuburit maupun membeli takjil.

"Dari hal sederhana seperti itu, kita dapat berkontribusi untuk pengurangan sampah plastik selama Ramadhan," katanya.

Merujuk data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DKI Jakarta, Ramadhan 2018 tercatat volume sampah meningkat empat persen atau meningkat 289 ton setiap hari dibanding bulan sebelumnya. Volume sampah yang meningkat itu berupa sampah organik rumah tangga, plastik dan pembungkus makanan.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jakarta, Tubagus Soleh, menerangkan, sampah plastik yang diproduksi masyarakat saat ini telah mencemari lautan, air, tanah dan udara. Polusi plastik itu telah menimbulkan bencana bagi lingkungan.

"Di pesisir Kepulauan Seribu, kami sering menemukan penyu dan hewan laut mati akibat pencemaran plastik, termasuk terumbu karang juga mulai rusak. Ini berdampak bagi perubahan ekosistem penting di Jakarta," katanya.

Soleh mendesak pemerintah tegas dalam membuat regulasi tentang penanganan sampah. Selain itu, dia juga menuntut produsen makanan dan minuman untuk mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai dalam berbagai kemasan produk.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA