Wednesday, 14 Zulqaidah 1440 / 17 July 2019

Wednesday, 14 Zulqaidah 1440 / 17 July 2019

Museum Sejarah Jadi Destinasi Wisata Swafoto

Kamis 20 Jun 2019 06:19 WIB

Red: Bilal Ramadhan

Museum Sejarah Jakarta, Kota Tua, Jakarta Barat

Museum Sejarah Jakarta, Kota Tua, Jakarta Barat

Foto: Nova Enggar Fajarianto/Jakarta
Tahun ini, Pemprov fokus mengangkat cagar budaya jadi destinasi wisata.

REPUBLIKA.CO.ID, Museum Sejarah Jakarta yang terletak di Jalan Fatahillah, area Kota Tua, Jakarta Barat, tidak hanya menjadi destinasi wisata bagi para peminat sejarah, tapi juga menjadi tujuan favorit bagi para pemburu selfie atau swafoto.

Di tengah kemunculan berbagai museum seni kontemporer yang kerap menjadi tujuan wisata swafoto, museum lawas seperti Museum Sejarah Jakarta juga masih menjadi bagi wisatawan yang hendak berfoto sekaligus mempelajari sejarah Ibu Kota.

Berbagai koleksi museum yang banyak berasal dari era sebelum Jakarta terbentuk dianggap memberi nuansa tersendiri bagi koleksi foto-fotonya. Kepala Satuan Pelayanan Museum Sejarah Jakarta, Galih Hutama Putra, menganggap budaya swafoto yang kini melekat pada masyarakat memiliki nilai positif dan negatif.

“Kalau segi plusnya, museum kami bisa dipromosikan secara gratis di media sosial,” kata Galih, Rabu (19/6).

Ia mengatakan, swafoto merupakan budaya zaman sekarang dan pihaknya tidak bisa meninggalkan dan membiarkan begitu saja. Pihaknya juga harus mengakomodasi dan salah satunya dengan pembuatan corner swafoto tersebut.

Dia menjelaskan, pihak museum melihat animo masyarakat yang cukup tinggi dalam berswafoto di area museum, terutama di ruang-ruang pameran. Karena itu, Museum Sejarah Jakarta berencana menghadirkan pojok-pojok swafoto yang dapat digunakan pengunjung untuk mengabadikan momen di museum tersebut agar nilai-nilai historis pameran dapat tetap menjadi perhatian pengunjung.

Saat ini, manajemen museum tengah memperhatikan ruangan mana yang sering dijadikan spot untuk berfoto dan akan dibuat pojok swafoto di sana. Sehingga, pengunjung dapat langsung menuju titik tersebut untuk mengambil gambar dan kembali menikmati pameran yang tersedia.

"Kami membuat tata pameran yang bagus bukan hanya untuk berfoto saja, namun di situ ada faktor sejarah yang bisa diketahui oleh masyarakat umum," kata Galih.

Namun, di sisi lain, perhatian terhadap konten historis museum menjadi berkurang karena fokus pengunjung banyak beralih ke nilai visual museum yang Instagramable.

Pada Rabu (19/6) sore suasana Museum Sejarah Jakarta di area Kota Tua, Jakarta Barat, terlihat cukup ramai oleh pengunjung yang tampak bersantai di area luar ruangan maupun yang melihat-lihat koleksi di dalam ruangan.

Banyak pula yang tampak asyik berswafoto di berbagai sudut museum. Harga tiket masuk museum yang diresmikan oleh gubernur Jakarta pada 1970-an, Ali Sadikin, itu dibanderol seharga Rp 5.000 per orang.

Museum Sejarah Jakarta yang juga dikenal sebagai Museum Fatahillah menyimpan sejarah perkembangan Ibu Kota dari era tahun 1.500-an hingga kini. Area dalam museum terbagi menjadi beberapa ruangan yang memiliki fokus tertentu, seperti masa datangnya Vereegnide Oostindische Compagnie (VOC) di Jayakarta, pendirian Batavia, dan berbagai catatan sejarah lainnya.

Mengangkat Budaya

Sementara itu, Pemprov DKI Jakarta pada 2019 akan fokus mengangkat cagar budaya Taman Benyamin Sueb sebagai destinasi wisata cagar budaya di Jatinegara, Jakarta Timur. Taman yang berlokasi di bekas bangunan Kodim 05/05 itu telah diresmikan sebagai Taman Benyamin Sueb oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada 22 September 2018.

"Kalau buat kawasan pariwisata dan cagar budaya di tahun 2019 ini kita sedang ingin mengangkat Taman Benyamin Sueb," kata Kepala Bidang Seni Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Gumilar Ekalaya, Rabu (19/6).

Saat ini, Pemprov DKI Jakarta tengah melakukan revitalisasi pada beberapa bagian gedung itu. "Kita akan melakukan revitalisasi dulu di sana karena itu kan gedung cagar budaya ya, jadi butuh perawatan dulu," ujar pria yang kerap disapa Gugum tersebut.

Gugum menambahkan, revitalisasi akan dilakukan pada 2019 karena banyak bagian bangunan yang rusak dan perlu dilakukan peremajaan kembali. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta juga akan mengadakan sayembara untuk pengembangan serta desain Taman Benyamin Sueb.

"Nah, selain itu kita akan adakan sayembara untuk pengembangan dan tata pamernya karena di situ ada museum yang menghadirkan barang-barang punya seniman Betawi Benyamin Sueb," kata Gugum.

Selain menampilkan barang-barang milik seniman betawi tersebut, taman yang juga sebagai lokasi wisata cagar budaya itu juga terdapat Rumah Kebaya yang merupakan rumah adat betawi.

"Kan di belakang sudah ada bangunan adat Betawi, jadi nanti selain menjadi Museum Benyamin, tentu nanti di tambah aktivitas-aktivitas seni budaya Betawi lainnya," kata Gugum.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA