Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Udang Bago Khas Citarum Tinggal Nama

Rabu 26 Feb 2014 19:11 WIB

Rep: ita nina winarsih/ Red: Muhammad Hafil

Air bercampur limbah keluar dari sebuah selokan yang bermuara ke Sungai Citarum di daerah Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Rabu (26/2).

Air bercampur limbah keluar dari sebuah selokan yang bermuara ke Sungai Citarum di daerah Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Rabu (26/2).

Foto: Republika/Edi Yusuf

REPUBLIKA.CO.ID, KARAWANG -- Sartim (40 tahun), warga Walahar, Kecamatan Ciampel, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, termenung sendiri. Tatapan matanya, tertuju pada arus air Sungai Citarum yang melintasi Bendung Walahar. Air yang berwarna coklat keruh itu, telah membawa sejuta asa baginya. Sebab, dari air Citarum ini dirinya menyandarkan nasib untuk mengais rezeki.

Menurut Sartim, sejak kecil dirinya sudah mengenal Citarum. Dulu, ketika dia masih kanak-kanak sering dibawa orang tuanya menjala ikan di sungai ini. Hasilnya cukup lumayan. Dalam sehari, bisa mengumpulkan sekitar 10 kilogram ikan jambal dan udang bago khas Citarum.

"Tapi, seiring dengan banyaknya pabrik, ikan dan udang ini sangat sulit dijumpai," ujarnya, Rabu (26/2).

Termasuk udang bago khas Citarum, kini tinggal nama. Sartim mengaku sedih, sebab dia tidak bisa lagi menunjukan udang bago tersebut ke anak-anaknya. Anak-anaknya, hanya tahu bahwa air Citarum sudah tercemar.

Padahal dulu, banyak warga yang menggantungkan hidupnya dari kemurahan dan kekayaan Citarum. Termasuk udang bago khas Citarum itu. Sebelum banyak pabrik, spesies ini jadi bahan makanan favorit masyarakat sekitar sungai ini. 

Sebab, rasanya yang manis dan gurih, menjadi daya tarik tersendiri bagi warga untuk terus mengkonsumsi udang dengan kepala lebih besar dari badannya ini. Tetapi, sekarang ini udang bago tersebut, hanya bisa didapatkan sekitar 500 meter dari Bendung Walahar. Itupun hasilnya tidak banyak.

"Paling banyak, udang yang bisa kami jaring hanya sekitar dua gelas," ujar pria yang berprofesi sebagai pencari ikan dan udang Citarum ini.

Tetapi, lewat dari 500 meter setelah Bendung Walahar, jangan harap warga atau siapapun bisa menemukan udang bago itu. Udang tersebut, sudah tidak ada. Sebab, spesies ini mati akibat teracun limbah pabrik. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA