Senin, 22 Safar 1441 / 21 Oktober 2019

Senin, 22 Safar 1441 / 21 Oktober 2019

Kualitas Udara DIY Belum Membaik

Jumat 21 Feb 2014 21:50 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

 Pengendara motor berhenti di lampu merah ketika hujan abu vulkanik di Jl. Mataram, Yogyakarta, Jumat (14/2).    (Antara/Noveradika)

Pengendara motor berhenti di lampu merah ketika hujan abu vulkanik di Jl. Mataram, Yogyakarta, Jumat (14/2). (Antara/Noveradika)

REPUBLIKA.CO.ID,  YOGYAKARTA -- Kualitas udara di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta terpantau belum membaik pascaterkena abu vulkanik dampak erupsi Gunung Kelud di Jawa Timur. Hal ini diungkapkan Koordinator Tim Pusat Studi Bencana Alam Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Sudibyakto.

"Hasil pantauan Tim Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan tingkat konsentrasi partikel abu vulkanik di beberapa lokasi masih sangat tinggi, jauh di atas ambang batas baku mutu udara ambien," katanya di Yogyakarta, Jumat.

Menurut dia, meskipun telah dilakukan pembersihan endapan abu di permukaan tanah dan jalan-jalan aspal, tingkat kadar abu di udara masih tinggi, karena bersumber dari sisa-sisa material abu yang menempel di dedaunan, atap rumah, dan dinding bangunan.

Contohnya, lingkungan kampus UGM dan simpang empat Kentungan di Jalan Kaliurang Yogyakarta, konsentrasi debit abu vulkanik masih sangat tinggi, jauh melebih ambang batas baku mutu. Hampir tiga kali lipat konsentrasinya.

Di lingkungan UGM, kata dia, tingkat konsentrasi abu vulkanik mencapai 1.082 mikro gram per meter kubik. Padahal batas baku mutu hanya 230 mikro gram per meter kubik. Salah satu peyebabnya adalah masih tingginya endapan abu yang ada di pepohonan.

"Jumlah karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2), dan nitrogen oksida (NO2) dalam kondisi normal. Kondisi yang sama di tempat-tempat lainnya seperti di kawasan titik nol kilometer Yogyakarta, balai kota, dan kawasan Kotabaru," katanya.

Ia mengatakan pengendalian kualitas udara akibat abu vulkanik itu dapat dilakukan dengan penyemprotan air secara menyeluruh dan serentak serta berkesinambungan agar tidak membahayakan kesehatan masyarakat.

Akibat kadar abu vulkanik yang sangat tinggi itu menyebabkan suhu udara di Kota Yogyakarta meningkat tajam. Rata-rata suhu meningkat empat hingga enam derajat Celcius.

"Jika rata-rata harian hanya berkisar 26-28 derajat Celcius, pascasebaran abu vulkanik suhu udara meningkat menjadi 32-36 derajat Celcius," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA