Wednesday, 15 Jumadil Akhir 1440 / 20 February 2019

Wednesday, 15 Jumadil Akhir 1440 / 20 February 2019

Masyarakat Baduy Komitmen Jaga Hutan Lindung

Selasa 03 May 2016 23:24 WIB

Red: Taufik Rachman

warga Baduy

warga Baduy

Foto: Andi Nur Aminah/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, SERANG -- Masyarakat Baduy yang tinggal di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, berkomitmen menjaga hutan lindung dengan melakukan gerakan penghijauan.

Sebab, gerakan tersebut besar manfaatnya bagi kelangsungan hidup manusia juga habitat ekosistem lainya di daerah itu, kata Saija, seorang tokoh Baduy yang juga Kepala Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, Selasa.

"Kami melestarikan kawasan hutan lindung hak ulayat Baduy seluas 3.000 hektar," ia menegaskan.

Selama ini, hutan lindung yang ada di kawasan Baduy terjaga dengan baik dan tidak ditemukan penebangan liar.

Masyarakat Baduy menjaga pelestarian lingkungan sebagai amanat adat untuk keseimbangan ekosistem alam juga kelangsungan hidup manusia.

Saat ini, gerakan penghijauan terus dilakukan dengan menanam aneka jenis tanaman agar hutan lindung tetap hijau dan lestari.

"Kami melarang pepohonan yang ada di kawasan hutan lindung dilarang ditebang karena bisa menimbulkan kerusakan lahan dan hutan," katanya.

Menurut dia, saat ini kawasan hak adat ulayat Baduy seluas 5.101 hektare sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 32 tahun 2001.

Dari 5.101 hektar itu diantaranya seluas 3.000 hektar dijadikan kawaasan hutan lindung dan tidak diperbolehkan melakukan kegiatan penggarapan pertanian.

Sedangkan, menurut dia, sisanya seluas 2.100 hektare dijadikan garapan pertanian oleh masyarakat Baduy.

"Kami melarang hutan lindung digarap pertanian karena khawatir menimbulkan kerusakan hutan dan lahan," katanya.

Ia mengatakan, masyarakat Baduy yang berpenduduk 11.600 jiwa itu tinggal di kawasan Gunung Kendeng berlokasi di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, merupakan sebagai hulu air wilayah Provinsi Banten.

Kawasan wilayah hulu Baduy memiliki beberapa daerah aliran sungai (DAS), di antaranya Ciujung, Cisimeut, Ciberang, dan Cimadur.

Mereka masyarakat Baduy dilarang melakukan penebangan pohon maupun perusakan hutan, sebab kalau hutan itu rusak tentu akan menimbulkan malapetaka bagi manusia dan ekosistem lain.

"Kami sangat serius menjaga pelestarian hutan dan lahan untuk mengantisipasi bencana alam," jelasnya.

Hubungan Masyarakat Wadah Musyawarah Masyarakat Baduy (Wammby) Tono Soemartono mengatakan, kepedulian warga Baduy terhadap pelestarian lingkungan sangat besar, selain menjaga hutan-hutan lindung juga melakukan penanaman berbagai jenis pohon.

Selain itu, katanya, warga Baduy tidak boleh melakukan penebangan tanpa seizin lembaga adat.

"Kami sangat cinta hutan, maka menjaga dan melestarikan agar hutan tidak rusak," ujarnya.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES