Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Canggihnya Teknologi Skimming ATM dan Cara Mengatasinya

Selasa 20 Mar 2018 05:19 WIB

Rep: Arif Satrio Nugroho/ Red: Elba Damhuri

Polisi kembali tangkap satu WNA asal Bulgaria atas kasus skimming di ATM, dirilis Senin (19/3) di Unit Resmob Mapolda Metro Jaya.

Tim Gabungan Operasi Sikat Agung Kepolisian Daerah (Polda) Bali berhasil menangkap tiga orang Warga Negara Asing (WNA) asal Turki. Mereka merupakan jaringan pembobol Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di Bali menggunakan teknik skimming.

Foto: dok. Istimewa
ATM yang ramai lebih rawan diskimming.

Satu WNA asal Hungaria adalah Ferenc Hugyec dan satu WNI adalah Milah Karmilah. Polisi menyebut mereka telah melakukan skimming selama setahun ini. Alat skimmer dipasang di berbagai kota di Indonesia.

Pengamat IT dan Siber Institut Teknologi Bandung Kun Arief Cahyantoro mengatakan, maraknya penggunaan mesin nontunai bukan hanya di lingkungan bank, melainkan di lingkungan pihak ketiga, misalnya minimarket dan toko atau restoran. "Dengan begitu, akan meningkatkan potensi terjadinya kasus-kasus seperti ini," ujarnya, Ahad (18/3) malam.

Maka itu, menurut dia, perbankan harus segera membuat SOP yang ketat untuk pengawasan penggunaan mesin cashless (nontunai) oleh pihak ketiga. Selain itu, bank juga harus memberikan edukasi kepada nasabah dan masyarakat bahwa bank memiliki jaminan yang transparan dan mudah.

"Hal itu karena ada pemahaman bahwa sistem apa pun tidak akan mampu memberikan keamanan 100 persen. Namun, ketidakamanan tersebut menjadi tidak berakibat sedikit pun karena adanya jaminan kehilangan sebesar apa pun, tetap akan diganti oleh pihak bank," kata Kun Arief.

Ia menilai, pemerintah pun harus turut berperan dalam mencegah modus skimming. Pemerintah, menurut dia, seharusnya membuat kebijakan penggunaan kartu debit, mesin nontunai, serta pihak ketiga.

"Misal, pembatasan fitur pada mesin cashless (nontunai). Aturan seperti ini pernah diterapkan pada kartu uang elektronik, yang mana kartu uang elektronik tidak boleh gabung dalam kartu debit. Lalu, pada kartu uang elektronik diterapkan limit maksimum saldo yang bisa disimpan di dalamnya," katanya.

Lebih lanjut, Kun Arief mengingatkan nasabah agar saat ini tetap mengikuti apa yang telah diedukasi oleh pihak bank dalam penggunaan kartu debit atau kredit, seperti pengetikan nomor pin secara tertutup dengan tangan.

"Kemudian jangan memberikan pin kepada siapa pun yang berusaha memberikan bantuan untuk melaksanakan transaksi dengan pin tersebut. Meski begitu, nasabah tidak perlu mengurangi transaksinya di pihak ketiga atau merchant," katanya.

(iit septyaningsih, Pengolah: fitriyan zamzami).

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA