Tuesday, 16 Rajab 1444 / 07 February 2023

Mengapa Mahathir Berjaya, Najib Tumbang?

Jumat 11 May 2018 07:18 WIB

Red: Elba Damhuri

Mahathir Mohamad.

Ketua Barisan Nasional (BN) Dato Seri Najib Razak dikerubuti wartawan seusai melakukan jumpa pers mengenai hasil Pemilihan Umum Ke-14 yang dimenangkan Koalisi Pakatan Harapan (PH), di Gedung PWTC, Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis (10/5).

Foto:
Tidak diragukan lagi, Mahathir adalah striker paling efektif yang pernah ada.

Aliansi Mahathir berhasil merebut kendali di negara-negara bagian kunci, seperti di Johor dan Kedah. Aliansi itu juga mengurangi cengkeraman BN di kubu-kubu pertahanan seperti Sarawak.

Kemenangan Mahathir tak pelak menghadirkan kebahagiaan bagi sejumlah masyarakat Malaysia. Salah satunya David Thaiga (57 tahun), salah satu dari ribuan warga Malaysia yang merayakan kemenangan Mahathir di jalan-jalan. "Kami sangat bahagia, hari yang membanggakan bagi Malaysia," kata David dikutip Reuters, kemarin.

Ia pun mengaku telah menunggu momentum tersebut. "Ini adalah keajaiban bagi kami. Dan meskipun saya bukan penggemar Mahathir, saya pikir dia adalah satu-satunya yang bisa meraih kemenangan ini," ujar David.

Sementara itu, Sukumira Sekhar (84) mengaku telah menyaksikan kehidupan di Malaysia sejak awal kemerdekaan. Ia juga telah menjalani hidup di bawah pemerintahan koalisi Barisan Nasional (BN) selama 60 tahun. "Saya sangat senang saya masih bisa menyaksikan kemenangan ini. Saya berharap saya bisa melompat-lompat untuk bersenang-senang, tetapi hanya hati saya melompat-lompat. Saya sangat bangga dengan orang-orang Malaysia, terutama kaum muda dan orang Melayu," kata Sekhar.

Sisi ekonomi

Terpilihnya Mahathir sebagai PM Malaysia juga menarik ditinjau dari sisi ekonomi. Mahathir mewarisi ekonomi yang tumbuh lebih dari lima persen, inflasi yang stabil, dan kurs mata uang yang menjadi salah satu yang terbaik di Asia. Lalu, bagaimana ekonomi Malaysia selanjutnya di bawah kepemimpinan Mahathir?

Janji kampanye utama Mahathir dalam waktu 100 hari menjabat adalah menghapuskan pajak barang dan jasa (good and service tax/GST) sebesar enam persen. Pajak yang diperkenalkan pada tahun 2015 ini secara luas disalahkan oleh warga sebagai penyebab biaya hidup mereka yang meningkat. Koalisi oposisi mengatakan, akan menggantikan GST dengan pajak penjualan dan jasa yang lebih adil.

Koalisi berjanji untuk memperkenalkan kembali subsidi bensin, yang bisa menjadi keuntungan untuk konsumsi. Sebab, pemerintah baru menetapkan target pertumbuhan ekonomi enam persen. Mereka juga berkampanye meningkatkan royalti minyak ke negara bagian penghasil minyak dan menaikkan upah minimum.

Lembaga pemeringkat Moody's Investors Service mengatakan, tidak ada detail tentang janji pemilu. Tetapi, beberapa janji kampanye akan menjadi negatif untuk Malaysia. Khususnya, menghapus GST tanpa tindakan apa pun untuk mengimbangi kerugian dalam pendapatan akan meningkatkan ketergantungan ekonomi pada pendapatan minyak dan mempersempit basis pendapatan pemerintah.

Malaysia juga harus bersiap-siap akan terjadinya penurunan tajam dalam pertumbuhan investasi jika posisi Mahathir terhadap keterlibatan Cina di bidang infrastruktur mendorong proyek-proyek itu macet, menurut Capital Economics Ltd.

Bank Negara Malaysia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada level 3,25 persen. Hal itu sesuai dengan penilaian 18 ekonom yang disurvei oleh Bloomberg sebelum pemilu. Inflasi relatif stabil, melambat menjadi 1,3 persen pada Maret, dengan mata uang yang lebih kuat sejak tahun lalu membantu meredakan tekanan harga. Pemerintah telah memperkirakan inflasi rata-rata 2,5 persen hingga 3,5 persen untuk tahun ini. (Pengolah: muhammad iqbal).

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA