Friday, 17 Jumadil Akhir 1440 / 22 February 2019

Friday, 17 Jumadil Akhir 1440 / 22 February 2019

Mesut Oezil, Mundur karena Terhina

Selasa 24 Jul 2018 15:03 WIB

Red: Budi Raharjo

Mesut Oezil

Mesut Oezil

Foto: EPA/MAURIZIO GAMBARINI
Rasialisme tidak boleh, tidak akan pernah dapat diterima

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Anggoro Pramudya

JAKARTA -- Sepak bola bukanlah industri yang mampu meraih keuntungan besar bagi pemodal. Namun, suatu investasi tidak didorong oleh hasrat untuk meraih keuntungan, tetapi oleh manfaat berupa dukungan luas dari para pemain, penggemar klub, dan pemerintah setempat di mana klub tersebut berada.

Dalam buku Soccernomics karya Simon Kuper dan Szymanski (2014), baik seorang pengusaha, politikus, maupun sebagainya yang berkecimpung dalam industri sepak bola sesungguhnya tidak murni berhubungan dengan bisnis. Beberapa di antaranya justru berhubungan dengan berbagai bentuk kekuasaan dan suaka politik.

Sepak bola dipilih karena mengandung suatu semiotika. Dalam sepak bola ada fanatisme, solidaritas, kehormatan, kebanggaan, dan kebersamaan yang dapat dilihat sebagai suatu aset atau modal sosial.

Tentunya, untuk sebuah kepentingan politik kuasa yang hendak diraih, modal sosial tersebut bisa jauh lebih bernilai jika dibandingkan profit yang dijanjikan dalam bisnis sepak bola. Maka, sebagai semiotika politik, sepak bola menjadi penuh dengan berbagai tanda dan makna tentang suatu kuasa.

Lihat saja bagaimana Slobodan Milosevic menggunakan Red Star Belgrade sebagai tunggangan politiknya ketika menjabat presiden pertama Serbia. Serta glamornya perdana menteri Italia saat itu, Silvio Berlusconi, menjadikan kesebelasan asal kota mode, AC Milan, sebagai lumbung suara dalam pemilihan untuk parlemen.

Kuasa atas politik juga menyisakan cerita pahit di balik pensiunnya Mesut Oezil dari timnas Jerman. Gelandang kreatif berkaki kidal ini mengumumkan gantung sepatu dari timnas setelah dihubunghubungkan dengan foto pertemuan bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Pertemuan ini dituding sebagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia.

Tak hanya itu, keyakinan untuk meninggalkan Die Mannschaft begitu menggunung ketika Oezil menjadi target kritik masyarakat Jerman pada Piala Dunia 2018 di Rusia. Kala itu, Der Panzer gagal lolos dari fase grup dan terpaksa angkat koper lebih dulu.

Dalam pernyataannya, Oezil menyatakan keputusannya untuk bertemu dan berfoto dengan Erdogan sama sekali bukanlah untuk politik dan pemilihan suara. "Seperti banyak orang, asal-usul saya bisa dirunut ke lebih dari satu negara. Semen tara saya tumbuh di Jerman, akar keluarga saya kokoh di Turki. Saya punya dua hati, satu Jerman dan satu Turki," kata Oziel menegaskan dalam akun Twitter-nya, @MesutOzil1088, Senin (23/7).

Bulan Mei lalu, safari Erdogan ke Inggris adalah untuk bertemu Ratu Elizabeth II dan Perdana Menteri Theresa May. Oezil bersama gelandang Manchester City Ilkay Guendogan dan penyerang Cenk Tosun (Everton) turut diundang untuk bertemu Erdogan.

"Perlakuan yang saya terima dari Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB) dan banyak pihak lainnya membuat saya tak lagi ingin mengenakan seragam timnas Jerman," ujar pemain Arsenal ini. Sepak bola telah berkembang dan memberikan pelajaran terhadap refleksi kemanusiaan. Salah satunya adalah multikulturalisme. Sepak bola mengajarkan manusia bagaimana menghormati dan menghargai perbedaan serta menjunjung nilainilai sportivitas (keadilan).

Namun, bagi Oezil hal tersebut nihil terjadi sebab sebelumnya Presiden DFB Reinhard Grindel terang-terangan mengkritik tindakannya. Orang nomor satu di sepak bola Jerman itu pernah menentang dwikenegaraan. Bahkan saat menjadi anggota Parlemen Jerman, Grindel juga pernah menyerukan budaya Islam sudah terlalu merasuki kota-kota di Jerman. Oezil pun dengan tegas menyebut apa yang diutarakan oleh Grindel tersebut tidak dapat dimaafkan dan dilupakan.

"Ketika petinggi DFB memperlakukan saya tidak hormat, tidak menghargai akar budaya Turki saya, dan dengan egois menjadikan saya sebagai agenda propaganda politik maka cukup ya cukup, bukan ini alasan saya bermain sepak bola dan saya tidak akan diam tentang hal ini, rasialisme tidak boleh, tidak akan pernah dapat diterima," ujar mantan pemain Werder Bremen ini menegaskan.

Ada sekitar 82 juta populasi warga Jerman, 16 juta di antaranya memiliki latar belakang imigran, termasuk Oezil yang berasal dari Turki. Keturunan Turki yang berada di Jerman pun harus memenuhi syarat untuk memilih suara mereka dalam pilpres. Kebijakan Jerman untuk menetapkan bahwa politisi asing tidak boleh menggelar kampanye di negaranya membuat koalisi Erdo gan mencari jalan lain.

Di sisi lain, jur nalis asal Turki, Hul ya Ozkan- Bellut, me maparkan bahwa kuasa Par tai Keadilan dan Pem bangunan (AKP) milik Erdogan memiliki basis terbanyak di Jerman. Hal ini yang menjelaskan mengapa Pre siden Turki tersebut tertarik mendeklarasikan Turki-Jerman.

"Setiap suara tunggal dihitung, terutama sekarang, pengaruh AKP tak boleh diremehkan. Dibandingkan ne gara-negara Eropa lainnya, Jerman ada lah rumah bagi mayoritas pen dukung AKP," tulis Hulya Ozkan-Bellut dalam bukunya berjudul Di Erdo gan's Sights dilansir Deutche Wel le, Senin (23/7). n ed: gilang akbar prambadi

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES