Friday, 17 Jumadil Akhir 1440 / 22 February 2019

Friday, 17 Jumadil Akhir 1440 / 22 February 2019

Buah Simalakama Impor Migas

Selasa 18 Sep 2018 15:01 WIB

Red: Budi Raharjo

Proses bongkar muat peti kemas  berlangsung di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (13/9). Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan neraca perdagangan nasional periode Januari-Juli 2018 terjadi defisit  3,09 miliar dolar AS atau sekitar Rp46 triliun.

Proses bongkar muat peti kemas berlangsung di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (13/9). Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan neraca perdagangan nasional periode Januari-Juli 2018 terjadi defisit 3,09 miliar dolar AS atau sekitar Rp46 triliun.

Foto: Aditya Pradana Putra/Antara
Solusi jangka pendeknya adalah dengan memotong subsidi dan menaikkan harga BBM

REPUBLIKA.CO.ID,

Oleh Ahmad Fikri Noor, Dessy Suciati Saputri

JAKARTA -- Pemerintah akan serius mengawal implementasi program biodiesel 20 persen (B-20) atau BBM jenis solar dengan campuran 20 persen minyak sawit. Program ini diyakini dapat menekan impor minyak dan gas (migas) yang menyebabkan neraca perdagangan Indonesia defisit.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan, neraca perdagangan Indonesia defisit sebesar 1,02 miliar dolar AS pada Agustus 2018 gara-gara defisit sektor migas yang mencapai 1,66 miliar dolar AS. Padahal, sektor nonmigas sudah surplus 0,64 miliar dolar AS.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengakui, defisit migas masih besar. Namun, dia yakin defisit akan berkurang pada September ini setelah diterapkannya program B-20.

"Kebijakan kita akan kelihatan hasilnya pada September yang akan diumumkan BPS di pertengahan Oktober," kata Darmin di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (17/9). Kemarin, Darmin bersama sejumlah menteri melakukan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo untuk membahas neraca perdagangan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, defisit perdagangan migas masih cukup tinggi sehingga menyebabkan neraca dagang defisit. Dia mengatakan, pemerintah akan memantau dan menghitung dampak dari program B-20 yang telah dijalankan sejak 1 September 2018.

"Untuk pelaksanaan B-20 dan kenaikan impor migas, terutama pada bulan sebelum dilaksanakan B-20, kita akan lihat apakah itu tren atau anomali," kata Sri.

Dari sisi neraca dagang nonmigas, Sri menyebut impor sudah menurun signifikan walau tingkat impor dari tahun ke tahun masih relatif tinggi. Selain itu, ia juga berharap ekspor bisa tumbuh lebih tinggi, mengingat pertumbuhan ekspor pada Agustus 2018 hanya sebesar 4,15 persen (yoy). "Itu, menurut saya, masih bisa ditingkatkan kembali," katanya.

Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Ahmad Erani Yustika mengatakan, lonjakan harga minyak dunia sangat memengaruhi neraca perdagangan migas. Dia optimistis, serangkaian kebijakan yang telah diambil pemerintah dapat memperbaiki neraca perdagangan. "Impor minyak mentah diproyeksi menurun sejalan dengan upaya pemerintah meningkat kan penggunaan biodiesel," katanya.

Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan, impor migas perlu mendapatkan perhatian pemerintah. Sebab, impor migas pada Agustus 2018 naik 14,5 persen menjadi 3,05 miliar dolar AS terhadap Juli 2018 (mtm). Jika dibandingkan Agustus 2017 (yoy), impor meningkat 51,43 persen.

Menurut Suhariyanto, dampak kebijakan pemerintah, seperti penerapan B-20 dan kebijakan pengendalian impor lainnya, baru akan terasa mulai September 2018. "Akan tetapi, nilai impor secara keseluruhan sudah turun," kata Suhariyanto.

Nilai impor Indonesia pada Agustus 2018 mencapai 16,84 miliar dolar AS atau turun 7,97 persen (mtm). Akan tetapi, terjadi peningkatan sebesar 24,65 persen (yoy).

Berdasarkan penggunaan barang, impor konsumsi pada Agustus 2018 mencapai 1,56 miliar dolar AS. Angka itu mengalami penurunan sebesar 9,19 persen secara bulanan, tetapi masih meningkat 30,21 persen tahun ke tahun. Impor bahan baku mencapai 12,66 miliar dolar AS atau turun 7,6 persen (mtm) dan mengalami peningkatan 24,58 persen (yoy).

Kemudian, impor barang modal mencapai 2,62 miliar do lar AS atau turun 8,98 persen (mtm) dan naik 21,92 persen (yoy). "Pekerjaan rumah untuk mengendalikan impor masih harus dilakukan," kata Suhariyanto.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES