Monday, 17 Sya'ban 1440 / 22 April 2019

Monday, 17 Sya'ban 1440 / 22 April 2019

Ini Daerah di Sulteng Terdampak Likuifaksi dan Tanah Ambles

Jumat 05 Oct 2018 00:13 WIB

Rep: Bayu Adji P/ Red: Andri Saubani

Alat berat mencari korban yang tertimbun lumpur akibat pencairan (likuifaksi) tanah yang terjadi di Desa Jono Oge, Sigi, Sulawesi Tengah, Kamis (4/10).

Alat berat mencari korban yang tertimbun lumpur akibat pencairan (likuifaksi) tanah yang terjadi di Desa Jono Oge, Sigi, Sulawesi Tengah, Kamis (4/10).

Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
BNPB memperikarakan korban likuifaksi dan tanah ambles capai 1.000 jiwa lebih.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memetakan sedikitnya enam daerah terdampak likuifaksi dan tanah ambles akibat gempa bumi di Sulawesi Tengah (Sulteng) pada Jumat (28/9). Tanah ambles terjadi di Perumnas Balaroa, Kota Palu. Sedangkan likuifaksi terjadi di Perumnas Petobo, Kota Palu, serta wilayah Mpano, Sidera, Jono Oge, dan Lolu, di Kabupaten Sigi.

Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, hingga saat ini jumlah korban terdampak tanah ambles dan likuifaksi belum diketahui secara pasti. Menurut dia, berdasarkan laporan dua kepala desa di Perumnas Petobo dan Perumnas Balaroa, jumlah korban mencapai ribuan orang.

"Jumlah penduduk, kita belum dapat identifikasi. Tapi berdasarkan laporan kepala desa di Balaroa dan Petobo, diperkirakan lebih dari 1.000," kata dia saat konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta Timur, Kamis (4/10).

Berdasarkan citra satelit dari LAPAN, kata Sutopo, sekitar 202 hektare wilayah Jono Oge, Kabupaten Sigi, terdampak likuifaksi. Ia memperkirakan, sekitar 366 unit rumah rusak.

Menurut dia, kondisi di lapangan, rumah warga sudah tak bisa dikenali. Pasalnya, rumah telah tenggelam oleh lumpur di kedalaman sekira 3 meter.

Sementara di wilayah Petobo, Sutopo menyebutkan, luas area yang terdampak adalah 180 hektare dan mengakubatkan 2.050 unit bangunan rusak. Sedangkan dampak likuifaksi di wilayah Lolu, Sidera, dan Mpane belum diketahui.

Ia melanjutkan, untuk fenomena tanah ambles terjadi di sekitar 47,8 hektare wilayah Balaroa. Ia mengatakan, sebagian tanah ambles sedalam 3 meter, sementara sebagian lainnya terangkat setinggi 2 meter. Ia memperkirakan sedikitnya ada 1.045 unit bangunan rusak.

Tanah ambles itu, kata dia, disebabkan karena lokasi perumahan tepat berada di jalur sesar Palu-Koro. Akibatnya, ketika sesar bereaksi, daerah itu mengalami dampak yang signifikan.

Sutopo melanjutkan, proses evakuasi terus dilakukan, baik di wilayah yang mengalami tanah amblas maupun likuifaksi. Di Petobo dan Balaroa, kata dia sudah dikerahkan masing-masing tujuh dan lima unit alat berat.

"Medan cukup sulit karena bangunannya terseret oleh lumpur likuifaksi kemudian ditenggelamkan. Beberapa lokasi kondisi tanahnya juga masih basah bercampur lumpur," kata dia.

Sutopo menjelaskan, proses pencarian korban hingga hari keenam, di Petobo sudah ditemukan 26 meninggal dunia dan 48 orang meninggal di Balaroa. Namun, tim SAR Gabungan masih akan terus melakukan sesuai prosedur akan dilakukan tujuh hari, kemudian bisa ditambah tiga hari.

"Kemudian akan ditentukan di rapat koordinasi. Kalau memang tidak ditemukan, pasti akan ada kesepakatan. Biasanya korban yang tertimbun material longsor kita ikhlaskan bersama anggota keluarga," kata dia.

Ia menegaskan, kejadian tanah ambles dan likuifaksi harus menjadi pelajaran penting bagi semua pihak. Karena itu, lokasi rehabilitasi dan rekonstruksi ke depan hadus disesuaikan dengan rekomendasi Badan Geologi.

Menurut dia, fenomena likuifaksi dengan skala besar baru kali ini tercatat. Ia mengakui, likuifaksi memang pernah juga terjadi ketika gempa Yogjakarta (2006), Padang (2009), dan Lombok (2018), tapi tidak seluas yang terjadi di Palu.

"Akan ada proses pemetaan untuk direkomendasikan pada rehabilitasi dan rekonstruksi, termasuk menata kembali tata ruang," ucap dia.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA