Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Tsunami 7 Meter, Likuifaksi, dan Trauma Mendalam Warga Palu

Kamis 04 Okt 2018 13:19 WIB

Rep: Fauziah Mursid, Bayu Adji Prihammanda, Dedy Darmawan Nasution/ Red: Ratna Puspita

Permukiman di Kelurahan Petobo, Kota Palu, Sulawesi Tengah, yang ditelan bumi akibat gempa.

Permukiman di Kelurahan Petobo, Kota Palu, Sulawesi Tengah, yang ditelan bumi akibat gempa.

Foto: republika/fakhtar khairon lubis
'Itu seperti tanah mengejar, saya coba ke atas (pagar) agar tidak ikut tenggelam.'

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gempa berkekuatan magnitudo 7,4 yang terjadi di utara Kota Palu disebabkan pergeseran mendatar sesar Palu-Koro. Gempa yang terjadi pada kedalaman 11 km itu juga dilanjutkan oleh kejadian tsunami. 

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Rudy Suhendra mengatakan gempa berkekuatan magnitudo 7,4 terjadi di bagian utara Palu. Ketika terjadi gempa pada Jumat (28/9) petang, dinding bagian timur Teluk Palu terkena tubrukan yang masif dari laut sehingga menyebabkan longsor. 

Longsor yang dibangkitkan karena perubahan kolom laut itu yang menyebabkan terjadinya tsunami. Ia menerangkan ketinggian tsunami mencapai tujuh meter dan tampak gelombang besar ketika masuk ke daratan. 

Gelombang besar tersebut menyapu daratan sejauh dua kilometer dengan laju supercepat. “Menurut informasi, kecepatannya hampir 800 kilometer per jam,” ujar dia saat konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Rabu (3/10).

Jason Patton, seorang ahli geofisika yang bekerja di firma konsultan, Temblor, dan bekerja di Humbildt State University di California, mengungkapkan keterkejutannya atas besarnya gelombang tsunami yang menghancurkan Kota Palu. Para ilmuwan tak menyangka gempa yang sebelumnya sempat terjadi bisa memicu gelombang merusak.  

“Kami memperkirakan bisa memicu tsunami, tetapi tak sebesar itu," ujar Patton seperti dikutip New York Times, Senin (1/10), 

Gempa menyebabkan bangunan di Palu dan Donggala roboh serta berdampak pada dua kabupaten lainnya, yakni Sigi dan Parigi Mountong. Sementara gelombang besar air menyapu berbagai benda yang ada di daratan. 

photo

Infografis Tiga Dugaan Penyebab Tsunami Palu.

Likuifaksi sangat besar

Tidak hanya dua bencana itu, Rudy mengatakan, warga di Kota Palu harus menghadapi likuifaksi atau pencairan tanah. Ia mengatakan, wilayah Kota Palu banyak terdiri di atas tanah alluvium atau tanah yang masih muda. 

Artinya, endapan sedimen belum terkonsolidasi, sehingga masih bersifat mudah lepas. "Inilah yang menyebabkan gejala likuifaksi di tempat tersebut," kata dia.

Ia menjelaskan, likuifaksi terjadi karena ada guncangan. Ketika terguncang, tanah yang masih muda akan mengeluarkan air dari dalam lapisannya. Akibatnya, bangunan di atasnya tak dapat ditopang dengan baik dan akhirnya amblas ke dalam. Begitu pula ketika tanah bergerak, maka bangunan di atasnya ikut bergerak.

Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menerangkan kondisi material geologi yang ada di tanah juga ikut memengaruhi terjadinya likuifaksi. Dalam volume air yang besar, kata dia, tanah menjadi gembur. 

Baca Juga: 

Guncangan gempa menyebabkan lapisan tanah, yang awalnya solid, bercampur dengan air menjadi lumpur. Akibatnya, bangunan di atas tanah, perumahan, dan pohon, itu berjalan pelan-pelan sampai akhirnya ambles dan tertimbun oleh lumpur. 

Dengan kata lain, likuifaksi merupakan proses keluarnya lumpur dari lapisan tanah akibat guncangan gempa. Kekuatan tanah yang berkurang mengakibatkan bangunan di atasnya hancur.

Sutopo menyebutkan lukuifaksi juga terjadi pada gempa bumi yang terjadi di Lombok, tetapi skalanya lebih kecil. Ia menambahkan likuifaksi di Kota Palu terjadi sangat besar. 

Ia mengatakan kejadian likuifaksi menyebabkan dua permukiman, yakni Perumnas Balaroa di Kelurahan Balaroa dan Kelurahan Petobo, menjadi lokasi terdampak paling parah. Rumah-rumah di dua wilayah tersebut seperti terhisap ke dalam tanah. 

Berkejaran dengan tanah yang bergerak

Warga Keluraha Petobo, Palu Selatan, Franky (27 tahun) menceritakan pencairan tanah yang menyebabkan bangunan dan pohon di wilayah tempat tinggalnya seolah ditelan bumi. Ia menerangkan proses pencairan tanah atau likuifaksi berlangsung bersamaan dengan gempa. 

Franky masih mengingat ketika tanah tempat ia berpijak tiba-tiba bergetar hebat dan amblas. Getaran tanah membuat bangunan-bangunan pun ikut bergoyang dan kemudian runtuh. 

Franky menerangkan getaran gempa dan likuifaksi yang bersamaan ini membuat tanah seperti bergerak bergelombang dan menyapu apa yang di hadapannya. Franky merasakan tanah yang dipijaknya seolah akan menggulung dirinya. 

Dengan sekuat tenaga pun, akhirnya dia berhasil lolos dari gulungan pergerakan tanah tersebut.Kala itu, ia pun berlari dari gelombang naik turunnya tanah yang seperti aliran lumpur.

"Saya langsung loncat pagar karena pagar saya sudah turun, itu seperti tanah mengejar, saya coba ke atas agar tidak ikut tenggelam," ujar Franky.

Warga Petobo lainnya, Darmawan, menceritakan kesaksiannya ketika gempa dan likuifaksi terjadi. Ia mengatakan tanah tampak terbuka dan tertutup dalam waktu singkat. 

“Saat gempa bergetar, tak lama (tanah) terbelah. Saya liat ada sapi terperosok dan kemudian tanahnya tertutup dengan cepat dan sapi itu kejepit," kata Darmawan.

Trauma yang mendorong eksodus

Tiga fenomena alam yang terjadi bersamaan itu meninggalkan luka dalam psikis warga Kota Palu. Warga terdampak gempa trauma. Karena itu, gempa-gempa susulan yang terus terjadi membuat trauma tersebut semakin dalam. 

Wiyatie Wulandhari (22 tahun) mengatakan gempa-gempa susulan tersebut kerap mengingatkannya pada gempa utama (main shock) yang membuatnya harus merangkak mencari tempat aman. Ketakutan semakin terasa karena gempa susulan sering terjadi pada saat malam hari. 

Wiyatie pun memilih meninggalkan Palu. Ia tidak sendirian karena ribuan lainnya sudah memilh meninggalkan kota sejak dua hari pascagempa. “Meskipun gempanya kecil, kami semua trauma. Setiap ketemu orang di jalan mereka bilang mau pergi untuk menghilangkan trauma,” kata Wiyatie.

Gempa-gempa itu membuat sebagian warga Palu pun memilih meninggalkan wilayah tersebut. Wiyatie yang memilih keluar dari Palu dan menuju Kota Makassar untuk tinggal di rumah mertua. 

Baca Juga: Mengevakuasi Warga Palu Lewat Laut dan Udara

Wiyatie mengatakan rumahnya di Palu untuk sementara tidak ditinggali demi mendapatkan rasa aman sembari menghilangkan trauma. Wiyatie beserta keluarga akan kembali ke Palu jika listrik sudah pulih dan persediaan BBM tak lagi langka. 

Mardani, warga Kabupaten Sigi, juga hendak meninggalkan Palu menuju Makassar bersama keluarganya, Rabu kemarin. Mardani yang membawa serta istri, dua anak dan ibunya menuju Makassar menggunakan pesawat hercules TNI melalui Bandara Mutiara Sis Aljufri, Palu, Sulteng. 

"Saya mau ke Makassar mbak, mau cuci darah (dialisis) disini alat cuci darahnya di rumah sakitnya semua rusak," ujar Mardani lemah, yang diamini oleh istrinya.

Istrinya, Muthia mengatakan, beberapa tetangganya di Sigi juga pergi lantaran rumah mereka tidak lagi bisa ditempati. Apalagi, akses makanan dan air yang sulit menyebabkan warga kesulitan.

Kota Palu masih lumpuh

Pantauan Republika pada Rabu kemarin, aktivitas Kota Palu masih lumpuh pada lima hari pascagempa. Seluruh aktivitas perkantoran baik pemerintah maupun swasta masih tutup di Kota Palu.

Tak hanya itu, pertokoan di wilayah Palu juga belum ada satu pun yang buka. Bangunan perkantoran maupun pertokoan tampak rusak akibat gempa. 

Jika masih kokoh, bangunan digunakan untuk posko bantuan korban maupun pengungsi. Hampir di setiap jalan, lapangan, dan depan rumah tampak tenda-tenda darurat yang didirikan secara swadaya oleh warga. Alhasil, ekonomi pun belum bergerak.

<iframe src="https://www.republika.co.id/embed/video/181004110538.mp4/-/" width="460" height="262" frameborder="no" scrolling="no"></iframe>

Hal lain yang menyebabkan lumpuhnya kota Palu juga karena tidak adanya pasokan listrik ke Palu. Hingga Rabu malam, Kota Palu masih gelap. Lampu hanya menyala pada gedung atau rumah yang menggunakan generasi set (genset).

Selain itu, air bersih juga menjadi satu kendala para pengungsi karena matinya pasokan listrik. Bahan bakar minyak juga menjadi salah satu kendala masyarakat Kota Palu saat ini. 

Antrean di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di wilayah Kota Palu yang sudah buka juga langsung dijejali oleh masyarakat pengguna BBM. Masyarakat ada yang mengantre menggunakan kendaraan maupun menggunakan drijen hingga mengular dan menimbulkan kemacetan di sekitar SPBU.

Aktivitas di Bandara Mutiara Sis Aljufri juga belum berhenti. Deru mesin pesawat terbang membawa bantuan logistik nmaupun relawan masih terus berdatangan. 

Tampak pula sejumlah petugas gabungan Basarnas, TNI, Polri, relawan. Mereka membantu mengevakuasi korban selamat untuk dirujuk ke rumah sakit di luar Palu. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA