Monday, 13 Jumadil Akhir 1440 / 18 February 2019

Monday, 13 Jumadil Akhir 1440 / 18 February 2019

Indonesia Butuh Lebih dari Sekadar Menang Atas Timor Leste

Selasa 13 Nov 2018 17:16 WIB

Red: Andri Saubani

Pemain timnas Indonesia Putu Gede Juni Antara (kedua kiri) meninggalkan lapangan setelah terkena kartu merah saat melawan timnas Singapura dalam penyisihan grub B Piala AFF 2018 di Stadion Nasional Singapura, Jumat (9/11/2018). Indonesia kalah 0-1 dalam pertandingan perdana tersebut.

Pemain timnas Indonesia Putu Gede Juni Antara (kedua kiri) meninggalkan lapangan setelah terkena kartu merah saat melawan timnas Singapura dalam penyisihan grub B Piala AFF 2018 di Stadion Nasional Singapura, Jumat (9/11/2018). Indonesia kalah 0-1 dalam pertandingan perdana tersebut.

Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Indonesia malam ini melawan Timor Leste pada laga lanjutan Piala AFF 2018.

REPUBLIKA.CO.ID, Ketika berbicara tentang tim nasional (timnas) sepak bola Timor Leste dan sejarah pertemuannya dengan Indonesia, tidak dapat disangkal itu menjadi semacam kisah "Daud melawan Goliat". Indonesia terlalu superior di hadapan kesebelasan dari negara yang pernah menjadi salah satu provinsi di Indonesia itu.

Timor Leste tak pernah menang, bahkan kesulitan untuk sekadar mencari hasil seri dari Indonesia. Namun, bukan berarti pertemuan di Grup B Piala AFF 2018, Selasa (13/11), akan menjadi pertandingan yang mudah bagi Indonesia.

Melawan Timor Leste pada malam nanti, Indonesia berbekal kekalahan tipis 0-1 dari Singapura pada laga perdana. Kekalahan itu menjadi beban tersendiri bagi skuat asuhan Bima Sakti sepeninggal Luis Milla Aspas.

Pada laga pertama, Indonesia bisa dibilang kembali seperti sebelum dilatih Luis Milla. Hansamu Yama dkk bermain dengan kreativitas yang minim meski menguasai penguasaan bola. Yang paling mencolok sepeninggal Luis Milla adalah soal mentalitas bertanding di mana Skuat Garuda tak bisa keluar dari tekanan dan membalikkan keadaan setelah tertinggal. Kondisi itu diperburuk dengan emosi pemain di lapangan yang tak terkontrol.

Formasi 4-2-3-1 yang diterapkan sang pelatih Bima Sakti terlihat tak berjalan dengan semestinya. Bima terlalu terpaku dengan kecepatan dua pemain sayapnya, Febri Hariyadi dan Irfan Jaya di sisi kanan-kiri yang sudah diredam oleh Singapura. Kapan pun pemain Indonesia mendapatkan bola, bisa dipastikan Febri dan Irfanlah yang pertama kali mereka cari.

Mengandalkan permainan sayap memang andalan Luis Milla. Dan Bima, yang mendampingi Luis Milla sepanjang waktu itu sebagai asisten, sepertinya menyerap dalam-dalam taktik tersebut.

Pria berusia 42 tahun itu mengakui bahwa dirinya memang mempertahankan pola permainan Luis Milla karena tidak memiliki waktu cukup untuk berimprovisasi. Dan itu patut dimaklumi, lantaran penunjukkan resmi Bima sebagai pelatih baru timnas Indonesia diumumkan pada 21 Oktober 2019, padahal Piala AFF 2018 dimulai 8 November atau jaraknya tak sampai tiga minggu.

Dari 23 nama pemain yang dipanggil untuk bertanding di Piala AFF 2018, Bima Sakti memilih 10 orang gelandang, di mana empat di antaranya merupakan gelandang melebar atau pemain sayap yakni Irfan Jaya, Febri Hariyadi, Riko Simanjuntak dan Andik Vermansah. Harapannya, keempat pemain ini saling mengisi di posisi sayap Indonesia. Kecepatan lari keempatnya tidak usah diragukan, tetapi itu saja tidak cukup.

Terbukti kiprah pelari-pelari ini kandas ditelan performa gemilang bek-bek Singapura dalam laga Grup B Piala AFF 2018 yang berlangsung di Stadion Nasional, Singapura, Jumat (9/11). Pelatih Singapura Fandi Ahmad juga sukses menutup aliran bola dari lini tengah ke sisi lebar Indonesia.

Gelandang kreatif Indonesia Evan Dimas 'dimatikan' oleh gelandang bertahan energik Singapura Hariss Harun. Namun, ritme yang limbung bukannya membuat Bima Sakti mengganti taktik. Dia justru mempertahankan pola kaku tersebut.

Satu-satunya perubahan yang dia lakukan yaitu melakukan pergantian pemain, tetapi tetap saja dengan pemain berposisi sama. Irfan Jaya digantikan Riko Simanjuntak, Ricky Fajrin dengan Fachruddin Aryanto dan Stefano Lilipaly dengan Septian David. Artinya, pola tetap sama sehingga laga bertahan dengan skor 1-0 untuk kemenangan tuan rumah Singapura.

Miskin kreativitas timnas Indonesia dari sisi taktik menjadi pekerjaan rumah bagi Bima Sakti sebagai pelatih. Bima, pemegang lisensi pelatih A AFC, dipastikan harus menemukan terobosan dari sakleknya taktik Indonesia.

Bima Sakti sendiri menyadari hal ini. Dalam konferensi pers menjelang laga kontra Timor Leste, Senin (12/11), Bima menegaskan sektor sayap tak akan lagi menjadi tumpuan skuatnya saat menyerang.

"Tim lawan sudah mengantisipasi kekuatan kami di lini sayap. Namun kami sudah menemukan cara lain untuk membongkar pertahanan lawan," kata Bima, Senin.

Salah satu strategi yang diterapkan yaitu memanfaatkan umpan terobosan dari tengah. Ini sangat mungkin terwujud dengan keberadaan pemain kreatif seperti Evan Dimas dan Stefano Lilipaly.

"Kami tak boleh kehilangan akal ketika lawan menutup pertahanannya dengan rapat," kata Bima.

Selain itu, pemain juga diminta lebih kreatif jika melakukan tusukan dari sisi lebar, tidak langsung melepaskan umpan silang ke kotak penalti saat menguasai bola. Tindakan lain yang mungkin dilakukan untuk mencetak gol yaitu memanfaatkan situasi bola-bola mati.

Bima bertekad melakukan rotasi dan menempatkan setidaknya seorang pemain senior berpengalaman di starting eleven ketika menghadapi Timor Leste sebagai tambahan kekuatan. "Kami pasti melakukan rotasi pemain. Pemain senior berpengalaman di timnas akan kami beri kesempatan bermain," ujar Bima.

Jika pengalaman diukur dari banyaknya penampilan bersama tim nasional, sebenarnya ada tiga pemain senior dengan catatan lebih dari 10 kali memperkuat timnas Indonesia yang berlaga ketika tim Garuda ditaklukkan Singapura, Jumat lalu.

Mereka adalah Stefano Lilipaly, Rizki Pora dan Fachruddin Arianto. Akan tetapi, tak seperti Stefano dan Rizki, Fachruddin baru masuk pada babak kedua menggantikan Ricky Fajrin yang cedera.

Indonesia saat ini berada di posisi ketiga klasemen sementara Grup B Piala AFF 2018. Timor Leste sendiri bertengger di peringkat keempat klasemen grup usai dikalahkan Thailand 7-0 di pertandingan perdananya. Posisi pertama dan kedua Grup B diduduki oleh Thailand dan Singapura. Tim terakhir, Filipina, baru memulai pertandingannya di Grup B, Selasa (13/11), versus Singapura.

Tiga angka atau kemenangan dari laga ini akan membuka peluang lolos kedua tim ke babak berikutnya atau semifinal sebagai salah satu dari dua tim terbaik Grup B. Namun, kemenangan atas Timor Leste tidak cukup melainkan pembaruan taktik dan skema permainan menjadi kebutuhan Skuat Garuda menghadapi laga sisa di Grup B.

Baca juga

Komentar Tim Timor Leste

Kapten timnas Timor Leste, Victor Jorge menganggap Indonesia, sebagai tim yang kuat dan sukar ditaklukkan. "Indonesia tim yang kuat dan sering masuk semifinal AFF. Memang mereka takluk 0-1 dari Singapura, tetapi Indonesia tetap skuat yang bagus," ujar Victor di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (12/11).

Selain itu, pemain berusia 20 tahun itu juga menilai Indonesia memiliki pemain dengan teknik mumpuni. Salah satunya adalah pemain sayap yang pernah berkarier di Liga Super Malaysia bersama Selangor FA dan Kedah FA, Andik Vermansah.

"Indonesia memiliki pemain hebat seperti Andik. Sayap-sayap Indonesia kuat dan kami harus tetap waspada," kata Victor.

Pelatih Timor Leste Norio Sukitake menuturkan bahwa timnya akan berusaha menampilkan yang terbaik pada laga ini. Norio berupaya menajamkan kerja sama antara pemain muda dan senior. Sebab, dia tidak ingin timnya kembali dipermalukan. Sebelumnya, Timor Leste dibantai 0-7 oleh Thailand pada laga pembuka Grup B kembali terjadi.

"Jika mau bekerja keras dan tak kenal takut, pemain muda menjadi lebih baik. Begitu pula dengan pemain senior, mereka bukanlah apa-apa tanpa gairah terhadap permainan," tutur Norio.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES