Jumat, 17 Jumadil Akhir 1440 / 22 Februari 2019

Jumat, 17 Jumadil Akhir 1440 / 22 Februari 2019

Permintaan Maaf Bima Sakti dan Blunder PSSI

Senin 26 Nov 2018 08:56 WIB

Rep: Bambang Noroyono, Antara, Eko Supriyadi, Anggoro Pramudya/ Red: Andri Saubani

Pelatih Timnas Indonesia Bima Sakti (tengah) bersama sejumlah pemain dalam sesi latihan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (24/11/2018).

Pelatih Timnas Indonesia Bima Sakti (tengah) bersama sejumlah pemain dalam sesi latihan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (24/11/2018).

Foto: Antara/Aprillio Akbar
Timnas Indonesia gagal di Piala AFF 2018.

REPUBLIKA.CO.ID,

"Seperti yang kita tahu hasilnya seperti ini. Saya sampaikan sekali lagi, saya minta maaf kepada seluruh insan sepak bola di Indonesia atas kegagalan timnas ini."

Permintaan maaf itu keluar dari mulut pelatlih timnas Indonesia, Bima Sakti Tukiman seusai laga terakhir skuat Garuda di Grup B Piala AFF 2018 melawan Filipina, Ahad (25/11) malam. Permintaan maaf pelatih berusia 42 tahun itu, terutama ia haturkan kepada para suporter timnas. 

Indonesia mengakhiri penyisihan grup di peringkat keempat Grup B. Dari empat laga selama penyisihan, skuat Garuda cuma mampu menang satu kali dengan skor 3-1 saat menjamu Timor Leste.

Pada dua laga lainnya, skuat Merah Putih kandas 0-1 dari Singapura, dan 2-4 saat menghadapi Thailand. Posisi keempat, dengan nilai empat angka itu tak cukup membawa Hansamu Yama Pranata lolos fase grup.

Kegagalan menembus fase semifinal kali ini, bukan menjadi yang keempat kalinya dialami para penggawa Garuda sejak mengikuti Piala AFF 1996. Hasil buruk serupa pernah terjadi pada Piala AFF 2007, 2012, dan 2014.

Sehari sebelum laga kontra Filipina, Bima 'menyentil' komunikasi PSSI terkait program pemusatan latihan dan uji coba timnas. Bima menilai, komunikasi menjadi salah satu hal yang harus dievaluasi seiring gagalnya Indonesia lolos dari fase grup Piala AFF 2018.

Jalan timnas menuju turnamen internasional, kata dia, harus disusun dengan program pemusatan latihan dan uji coba yang terukur. Alih-alih bersifat dadakan seperti yang dialami oleh Bima.

Bima memang bisa dibilang sebagai pelatih dadakan di timnas senior Indonesia. Dia ditunjuk melatih Hansamu Yama dkk pada akhir Oktober 2018 atau kurang lebih dua minggu sebelum Piala AFF 2018 bergulir. Sebelumnya, Bima merupakan asisten pelatih timnas U-23 dan senior Indonesia yang ditangani pelatih asal Spanyol, Luis Milla, pelatih yang tidak diperpanjang kontraknya meski telah membuat banyak perubahan pada skuat Garuda.

Timnas Indonesia cenderung tampil monoton selama Piala AFF 2018. Strategi Indonesia memanfaatkan lebar lapangan melalui pemain sayap dengan formasi 4-2-3-1 seperti mudah ditebak lawan.

Bima mengakui bahwa taktik yang digunakannya tersebut merupakan peninggalan Luis Milla yang sudah dipakai sejak 2017. Bima tidak dapat melakukan perubahan karena sempitnya waktu persiapan.

Setelah diberikan tanggung jawab oleh PSSI pada Oktober lalu, Bima tidak memiliki banyak waktu untuk mengubah taktik, strategi dan pemain. Oleh sebab itulah dia memilih untuk menerapkan taktik lawas ala Luis Milla. Para pemain yang dipanggil pun tidak jauh dari sosok-sosok yang pernah dipercaya Milla.

Bima mengatakan, tidak mudah membangun dan melatih tim nasional, apalagi dalam waktu yang singkat. Oleh karena itu, dia meminta masyarakat dan pencinta sepak bola nasional untuk mendukung siapa pun pelatih timnas Indonesia baik itu orang asing atau pelatih lokal.

"Berikan dukungan semaksimal mungkin karena tidak mudah menjadi bagian dari tim nasional," tutur dia.

Di Piala AFF, Bima mesti memutar otak menemukan cara untuk memecahkan kebuntuan timnas menyerang dari sayap lebar. Dia pun mengganti duet sayap Febri Hariyadi-Irfan Jaya yang seolah tak terganti sejak Asian Games 2018, dengan duo Riko Simanjuntak-Andik Vermansah.

Riko dan Andik, yang sama-sama bertubuh mungil tetapi memiliki kemampuan melewati lawan dengan keterampilan individunya, tampil bersama sejak menit pertama kala menghadapi Thailand di laga ketiga Indonesia di Grup B Piala AFF 2018. Namun, hasilnya tetap tidak maksimal.

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi ikut bersuara atas kegagalan timnas Indonesia. Ia meminta adanya evaluasi oleh PSSI selaku induk olahraga sepak bola di Tanah Air.

"Saya harap ketua umum PSSI (Edy Rahmayadi) mengevaluasi, termasuk 'apakah ada persoalan internal di tubuh federasi?'" ujarnya ketika ditemui usai menghadiri prosesi wisuda Universitas Sunan Giri Surabaya di Dyandra Convention Center Surabaya, Ahad (25/11).

Menurut Imam, apa pun yang terjadi di tubuh federasi tidak boleh sedikitpun mengorbankan keinginan pemain dan pelatih. Ia pun menegaskan dirinya akan mengevaluasi menyeluruh setelah turnamen yang diikuti seluruh negara di Asia Tenggara tersebut.

Baca juga

Dua faktor kegagalan

Koordinator Save Our Soccer (SOS) Akmal Marhali menilai kegalalan timnas Indonesia pada ajang Piala AFF 2018 sepenuhnya bersumber dari kebijakan PSSI. "Ada dua faktor yang mempengaruhi gagalnya timnas Indonesia, pertama pergantian pelatih secara spontan. Kedua, bentrokan jadwal kompetisi liga dan timnas bermain," tegas Akmal kepada Republika, Kamis (22/11).

Sebelumnya, PSSI disebut Akmal menginginkan target melangit untuk prestasi Garuda Merah putih. Namun, justru PSSI tidak mempersiapkan berbagai aspek-aspek yang diperlukan untuk mencapai target tersebut.

"Ini merupakan blunder terbesar PSSI yang mempunyai mimpi besar jadi juara tetapi sama sekali tidak mempersiapkan diri secara matang," sesalnya.

Lebih lanjut, ia mengkritisi tentang masih berjalannya kompetisi di Indonesia ketika timnas tengah berlaga. Tentu, kondisi itu menghadrikan dampak yang buruk bagi pemain dan juga pelatih.

"Persiapan tidak jelas, bahkan uji coba dengan tim lawan yang sudah datang ke Indonesia tetapi pemain timnas masih ikut kompetisi. Tentu ini menimbulkan konsentrasi pemain terbagi, bukan hanya soal fisik, tapi juga mempengaruhi pikiran dan mental. Saya menilai secara mental para pemain tidak siap," sambung dia.

Disamping itu, penunjukan Bima Sakti sebagai pelatih menggantikan peran Luis Milla juga terkesan dipaksakan. Meski dalam kurun waktu sembilan bulan terakhir ia menjabat sebagai asisten Milla, akan tetapi menurut Akmal pria kelahiran Balikpapan 42 tahun silam belum memiliki kesiapan secara taktis lantaran tidak memiliki waktu yang cukup untuk membangun tim di bawah kepemimpinannya.

"Ini merupakan blunder terbesar PSSI yang mempunyai mimpi besar jadi juara tetapi sama sekali tidak mempersiapkan diri secara matang," Koordinator Save Our Soccer (SOS) Akmal Marhali

"Jadi ini bukan salah dia (Bima Sakti) tetapi keputusan PSSI yang tak mampu mengatur manajamen timnas dengan baik. Karena mengurus sepak bola apalagi timnas Indonesia harus dikerjakan secara fokus dan tidak bisa dikerjakan secara sambilan."

Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Yoyok Sukawi, mengaku prihatin dengan hasil timnas Indonesia di Piala AFF 2018. Padahal, masyarakat Indonesia sangat mengharapkan Timnas tampil lebih baik dari tahun sebelumnya.

Ia menyatakan, PSSI akan mencari pelatih yang lebih berpengalaman, namun tetap dengan biaya yang terjangkau. "Artinya sesuai kemampuan kita, daripada kita memaksakan diri dengan pelatih mahal hasilnya juga belum tentu maksimal," ujar Yoyok.

Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI yang lain, Gusti Randa menegaskan, dewan internal federasi akan secepatnya mengevaluasi hasil buruk tim kepelatihan Bima Sakti Tukiman. Gusti mengatakan, salah satu evaluasi yang pasti, yakni soal posisi tim kepelatihan.

"Sudah pasti akan dilakukan evaluasi," kata Gusti saat dihubungi wartawan dari Jakarta, Rabu (21/11).

Saat ditanya tentang apakah evaluasi tersebut termasuk bakal memutuskan pergantian pelatih? Gusti menjawab, "Ganti."

photo

Jabatan Singkat Pelatih Timnas Indonesia

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES