Tuesday, 19 Rajab 1440 / 26 March 2019

Tuesday, 19 Rajab 1440 / 26 March 2019

Asa dari Kursi Roda Menembus Kursi Parlemen

Selasa 04 Dec 2018 04:00 WIB

Rep: Muhammad Ikhwanuddin/Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Muhammad Hafil

Calon Legislatif DPR-RI partai PAN Dapil Jawa Timur Pasuruan-Probolinggo Osmiyati Arfarindra Nurifa

Calon Legislatif DPR-RI partai PAN Dapil Jawa Timur Pasuruan-Probolinggo Osmiyati Arfarindra Nurifa

Foto: Dok Republika
Difabel harus mendapat tempat yang sama dari segala aspek.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hari Disabilitas Internasional yang jatuh pada 3 Desember sepatutnya menjadi momentum peleburan dikotomi antara difabel dengan orang lain setelah pertama kali diperingati pada tahun 1992. Tahun pemilu yang menjadi pesta demokrasi juga diharapkan menjadi ajang unjuk gigi seluruh putra-putri bangsa untuk menjadi pemimpin bagi warganya. Tidak terkecuali mereka yang berkursi roda namun memiliki visi misi untuk mengabdi.

Calon Legislatif DPR-RI partai PAN Dapil Jawa Timur Pasuruan-Probolinggo Osmiyati Arfarindra Nurifai mengatakan, sebagai difabel dirinya merasa optimististis dapat menembus kursi parlemen, 2019 mendatang.

Wanita yang akrab disapa Miya itu beralasan, dirinya memiliki visi agar difabel di Indonesia mendapat tempat yang sama di mata masyarakat dari segala aspek.

Salah satunya, kata dia, adalah pengikutsertaan difabel dalam pembangunan, khususnya infrastruktur. Menurutnya, banyak difabel yang memiliki keahlian dalam bidang arsitektur dan teknologi informasi, namun belum mendapat perhatian.

"Kalau bisa disabilitas yang memegang proyeknya atau sebagai arsiteknya karena banyak orang-orang dengan disabilitas yang jago arsitektur, jago IT tapi tidak dilihat," katanya kepada Republika.co.id, Senin (3/11).

Selain itu, ia juga memfokuskan perhatian pada pembangunan fasilitas ramah difabel di daerah-daerah tak hanya di DKI Jakarta, tapi di daerah lain seperti daerah pemilihannya, Pasuruan dan Probolinggo.

"Pasuruan dan Probolinggo juga terdapat daerah pegunungan. Selain itu, di sana banyak tempat ibadah tapi fasilitas (untuk difabel) belum memadai," ungkapnya.

Dari segi pendidikan, ia juga berusaha memperjuangkan difabel agar diberi akses untuk mengenyam pendidikan. Ia beralasan, difabel kerap dipandang sebelah mata karena tidak memiliki ijazah meski mempunyai keterampilan.

Ia juga mengkritik fasilitas gedung DPR yang dinilai belum ramah difabel. Dari situlah, dengan biaya sendiri ia akan berusaha meningkatkan inklusivitas  agar difabel juga diajak berperan untuk mengemukakan gagasannya di gedung parlemen. "Gedung DPR 25 persen belum (ramah difabel)," ucapnya.

photo

calon legislatif dari partai Golkar Dapil DKI Jakarta 1 - Jakarta Timur, Ardima Rama Putra

Di sisi lain, calon legislatif dari partai Golkar Dapil DKI Jakarta 1 - Jakarta Timur, Ardima Rama Putra juga menyampaikan rasa optimistisnya terhadap pemilu legislatif April mendatang.

Untuk meraih kursi parlemen, ia memiliki fokus kerja dari sisi aksesibilitas bagi difabel. Beberapa kali mendatangi gedung DPR, ia juga kerap kesulitan untuk berpindah dari satu ruang ke ruang yang lain karena kurangnya fasilitas  untuk difabel di gedung parlemen.

"Gedung DPR juga belum ramah difabel masih banyak tangga di mana-mana. Jadi dengan adanya saya berarti saya tidak harus berbicara banyak karena memang itu memang yang harus disediakan," katanya saat ditemui di Jokowi-Ma'ruf Media Center, Menteng, beberapa waktu lalu.

Selain aksesibilitas, pria yang akrab disapa Dima ini juga memiliki cita-cita agar tidak ada perbedaan anggapan terhadap difabel. Menurut dia, perlu ada edukasi khusus terkait labeling atau justifikasi terhadap golongan tertentu.

"Jadi dikotomi ini banyak terjadi, seperti label kaya dan miskin. Jadi pendidikan akhlak kita bagaimana caranya manusia itu setara tidak dibedakan oleh kekurangan fisik, materi dan sebagainya," ujarnya.

Ia juga enggan dibedakan dalam justifikasi sebagai calon legislatif dari kalangan difabel. Menurutnya, yang harus diperhatikan adalah substansi dan visi-misi dari seorang calon agar dapat dikatakan layak menjadi seorang anggota legislatif.

"Itu yang harus ditanamkan anak sejak sebelum sekolah. Jadi harus dihapus label pada kaum disabilitas dan kaum marjinal lainnya," tegasnya.

Harapan presiden

Sementara, presiden Joko Widodo (Jokowi) menghadiri acara puncak Peringatan Hari Penyandang Disabilitas (HDI) 2018 yang diselenggarakan Kementerian Sosial RI di Bekasi, Jawa Barat, Senin (3/12). Pada kesempatan itu, presiden Joko Widodo berpesan supaya para penyandang disabilitas di Tanah Air bisa berprestasi.

"Saya berpesan kepada para penyandang disabilitas untuk selalu percaya diri meraih prestasi.  Semangat seperti ini yang harus terus kita tumbuhkan. Kita tingkatkan," kata Joko Widodo, Senin (3/12).

Dikatakan Presiden, pemerintah memberi wadah dan ruang bagi penyandang disabilitas untuk terlibat secara aktif dalam pembangunan. Hal ini juga telah diamanatkan dalam undang-undang. Dalam pidatonya di hadapan ribuan penyandang disabilitas, Presiden meminta kepada Menteri Sosial untuk mendirikan pabrik yang kelak dapat mempekerjakan dan dikelola oleh para penyandang disabilitas.

"Saya ingin yang konkret, yang riil. Undang-undang yang mengatur tentang hak-hak penyandang disabilitas sudah ada, sekarang yang penting adalah implementasinya," tutur Presiden disambut tepuk tangan ribuan penyandang disabilitas.

Ketua Umum Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Gufron Sakaril mengatakan kehadiran Presiden memberi makna yang dalam bagi para penyandang disabilitas terutama dalam pembangunan disabilitas di Indonesia.

"Kami sangat senang dengan kehadiran Bapak Presiden di tengah-tengah kami. Semoga ke depannya hak-hak penyandang disabilitas dapat terpenuhi," katanya.

Baca juga: Makna dan Pesan Reuni Akbar 212

Baca juga: Tim Medis: Banyak Peserta Reuni 212 yang Kesurupan

   

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA