Sunday, 14 Jumadil Awwal 1440 / 20 January 2019

Sunday, 14 Jumadil Awwal 1440 / 20 January 2019

Cerita Pengakuan 'Dosa' La Nyalla kepada Jokowi

Selasa 11 Dec 2018 16:01 WIB

Rep: Muhyiddin, Santi Sopia, Fauziah Mursid, Febrianto Adi Saputro/ Red: Andri Saubani

La Nyalla Mattalitti

La Nyalla Mattalitti

Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang
La Nyalla mengaku pernah isukan Jokowi antek PKI dan anti-Islam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mantan kader Partai Gerindra, La Nyalla Mattalitti meminta maaf kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) karena pernah ikut mengisukan bahwa Jokowi merupakan antek Partai Komunis Indonesia (PKI) dan anti-Islam. Hal ini disampaikan La Nyalla lantaran sampai saat ini isu tersebut masih kerap digunakan untuk menjatuhkan citra Jokowi.

"Saya kan sudah pernah ngomong. Pertama kali saya begitu mau mendukung Pak Jokowi, saya datang ke beliau, saya minta maaf. Bahwa saya yang isukan Pak Jokowi PKI," ujar La Nyalla usai melakukan silaturrahim di kediaman KH Ma'ruf Amin, Jalan Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (11/12).

Mantan Ketua Umum PSSI ini mengatakan, dulu dirinya juga pernah mengisukan bahwa Jokowi anti-Islam dan juga Cina. Bahkan, kata dia, dirinya menyebarkan isu-isu bohong tersebut melalui tabloid Obor Rakyat di Jawa Timur, termasuk di Madura.

"Akhirnya saya datang ke beliau dan sampaikan, saya mau minta maaf tiga kali. Alhamdullilah dimaafkan, ya sudah. Kalau sudah seperti itu, berarti, yang saya tahu tidak betul Pak jokowi anti-Islam," ucap La Nyalla.

Sebelum meminta maaf ke Jokowi, La Nyalla juga mengaku telah menelusuri jejak Jokowi ke Boyolali, daerah asal orang tuanya. Menurut masyarakat di sana, kata La Nyalla, Jokowi justru sejak masih muda sudah sering melakukan tirakat dan kerap berpuasa.

"Di situ banyak orang yang mengatakan, Pak Jokowi itu sejak muda itu sudah sering tirakat," kata Ketua Kamar Dagang Indonesia Jawa Timur itu.

"Dari situ saya yakin, oh pantes kalau Pak Jokowi di tahun 2014 menang," kata La Nyalla.

Pada Pilpres 2019 mendatang, La Nyalla pun telah berkomitmen untuk memenangkan Jokowi bersama pasangan Cawapres-nya, KH Ma'ruf Amin. "Dari awal memang niat saya ingin memenangkan Jokow-Ma'ruf Amin," ujarnya.

Sikap politik La Nyalla ini tentunya berbanding terbalik dengan Pilpres 2014. Kala itu, La Nyalla adalah pendukung setia Prabowo Subianto, lantaran dia juga adalah kader Gerindra.

Namun, semua berubah ketika pada awal Januari 2018, La Nyalla membongkar dugaan praktik mahar politik jelang Pilkada Serentak. Secara terang-terangan La Nyalla mengaku telah diminta uang mahar untuk pencalonannya sebagai calon gubernur Jawa Timur oleh Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto.

Prabowo, tuding La Nyalla, meminta uang untuk saksi pilgub sebesar Rp 40 miliar. Awalnya, La Nyalla menyebut ia diminta uang ratusan miliar rupiah yang dikiranya becanda. Ternyata, itu serius. Mantan ketua umum PSSI ini tak memenuhi permintaan itu yang kemudian pencalonannya sebagai cagub Jatim pun dibatalkan.

Permintaan uang itu, menurut La Nyalla, disampaikan Prabowo pada 10 Desember 2017 di Hambalang, Bogor, saat Gerindra mengumumkan Sudrajat sebagai cagub pada Pilgub Jabar. Uang itu harus diserahkan paling telat tanggal 20 Desember 2018.

"Kalau tidak saya tidak akan mendapat rekomendasi," kata La Nyalla, Kamis (11/1).

La Nyalla mendapat mandat sebagai cagub Jatim pada 11 Desember di mana surat itu berlaku 10 hari. Dalam perjalannya, La Nyalla gagal mendapat partai koalisi dan cawagub pendampingnya. Sempat muncul wacana menyandingkannya dengan Anang Hermansyah, namun akhirnya kandas di tengah jalan.

Gerindra akhirnya memilih bergabung dengan koalisi PDIP-PKB mendukung Gus Ipul-Puti Guntur Soekarno bersama PKS. La Nyalla sempat mengaku mengembalikan mandat pencaloannya kepada Gerindra karena gagal mendapat partai koalisi dan pendamping.

Sebelumnya, La Nyalla mengaku sempat diminta uang syarat pencalonannya sebesar Rp 170 miliar oleh Gerindra Jawa Timur. Ia menyebut salah satu petinggi Gerindra Jatim yang mensyaratkan uang sebanyak itu. Menurut La Nyalla, jika tidak ada Rp 170 miliar, Rp 150 miliar juga tidak apa-apa.

"Daripada saya uang sebanyak itu untuk rekomendasi, lebih baik buat bangun masjid, santuni anak yatim," kata dia.

Tudingan-tudingan La Nyalla itu tentu saja dibantah oleh Gerindra. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon membantah pernyataan La Nyalla yang mengaku diminta dana Rp 40 miliar oleh Prabowo.

"Saya kira kalau dari Pak Prabowo nggak ada ya. Kalau misalnya itu terkait dipertanyakan kesiapannya untuk menyediakan dana untuk pemilu, yang itu digunakan untuk dirinya sendiri, saya kira itu sangat mungkin," ujar Fadli, Kamis (11/1).

Baca juga

Gabung PBB dan dukung Jokowi

Setelah hengkang dari Gerindra, La Nyalla pindah gerbong politik ke Partai Bulan Bintang (PBB). Sebagai kader partai Islam, La Nyalla pernah tampak hadir dalam pembukaan Ijtima' GNPF Ulama di Hotel Menara Peninsula, Jakarta, akhir Juli lalu.

Saat itu, La Nyalla pun melempar sinyal dukungan kepada Jokowi dengan menilai, Prabowo tidak akan mampu mengalahkan Jokowi di Pilpres 2019. Ia berharap, Prabowo jadi king maker, meski akhirnya Prabowo resmi menjadi capres penantang Jokowi.

"Enggak bisa, saya yakin nggak akan bisa (kalahkan Jokowi)," kata La Nyalla.

Pada hari ini, La Nyalla mengunjungi cawapres pendamping Jokowi, KH Ma'ruf Amin, di Jalan Situndo, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (11/12). La Nyalla pun berkomitmen untuk memenangkan pasangan Jokowi-Ma'ruf.

"Dari awal memang niat saya ingin memenangkan Jokow-Ma'ruf Amin," ujar La Nyalla kepada wartawan usai bertemu Kiai Ma'ruf, Selasa (11/12).

La Nyalla mengatakan, kunjungannya tersebut juga sekaligus memastikan bahwa Kiai Ma'ruf dalam keadaan baik-baik saja. Pasalnya, sebelumnya, Kiai Ma'ruf kerap dikabarkan sakit.

"Sekarang ini saya cuma laporan saja karena saya dengar katanya beliau sakit. Ya saya besuk, tengok dan silaturahim. Kalau soal dukungan, sejak awal saya dukung beliau," ucap La Nyalla.

Karena itu, La Nyalla pun tidak mau lagi menyebut nama Prabowo. "Lupakan. Lupakan Prabowo. Tidak usah ngomong Pak Prabowo lagi. Kita sudah mau memenangkan Joko Widodo dan Ma'ruf Amin," kata La Nyalla.

[video] Kapolda Metro Jaya: Tidak Ada Seminar tentang PKI

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES