Saturday, 16 Rajab 1440 / 23 March 2019

Saturday, 16 Rajab 1440 / 23 March 2019

Jika Tak Ada Aral, Harga Tiket Pesawat Turun Pekan Ini

Kamis 14 Feb 2019 07:39 WIB

Red: Elba Damhuri

Daftar tarif bagasi pesawat.

Daftar tarif bagasi pesawat.

Foto: republika
Industri pariwisata Indonesia terancam kenaikan harga tiket pesawat.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Sapto Andika Candra, Adinda Pryanka

Baca Juga

Pemerintah masih mengupayakan untuk bisa menekan lagi harga tiket pesawat terbang agar lebih rendah dari harga jualnya saat ini. Targetnya, pekan ini tarif pesawat bisa lebih murah dibandingkan harga yang ditawarkan maskapai sejak awal tahun.

"Ya, diusahakan minggu ini (berdasarkan permintaan Presiden Joko Widodo)," kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi seusai menghadap Presiden di Istana Merdeka, Rabu (13/2). Budi mengaku belum tahu detail penurunan tarif yang bisa terjadi.

Namun, ia memberi gambaran, jika alasannya bisnis, mestinya kenaikannya hanya 10-20 persen dari harga normal tiket pesawat 2018 lalu. Saat ini, harga tiket pesawat sudah naik rata-rata 40 persen dibandingkan harga tahun lalu mengacu data dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).

Meski penurunan sebesar 10-20 persen nantinya masih terbilang lebih tinggi ketimbang tarif normal, Menhub menyebut pemerintah tidak bisa sepenuhnya mengintervensi korporasi. "Biar mereka yang kalkulasi. Jadi, kalau naik batas maksimal segitu (10-20 persen)," kata Budi.

Ia menyebutkan, avtur memang menyumbang porsi perhitungan cukup besar dalam penjualan tiket, yakni 40 persen. Selain harga avtur, pemerintah juga sedang menggali celah lain untuk bisa menekan tarif pesawat.

"Kami mau balance (seimbang). Jadi, kita pikirkan semuanya, airlines dipikirkan, tapi masyarakat juga," kata menteri.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, tarif tiket pesawat yang naik beberapa waktu lalu sudah berdampak pada industri pariwisata. Secara rata-rata, okupansi hotel di semua destinasi wisata utama sudah turun sekitar 25 persen. Apabila biasanya dapat mencapai 55 persen pada periode awal tahun, kini hanya menjadi 30 persen.

Arief mengatakan, dampak lain juga dirasakan di bandara sejumlah daerah. Setidaknya, ratusan penerbangan telah dibatalkan. Kondisi ini tak pelak menimbulkan protes dari berbagai daerah.

"Di Sumatra Barat, gubernurnya sampai protes, Pekanbaru, Palembang, dan Batam juga. Lombok yang kasihan karena baru mau recover dari gempa, tapi kembali anjlok," ucapnya saat ditemui di gedung Kemenpar, Jakarta, kemarin.

Arief mengatakan, dampak negatif terhadap industri pariwisata mungkin tidak akan sebesar ini apabila kenaikan tarif tiket tidak terlalu besar dan mendadak. Apabila dibiarkan terus-menerus, ia cemas akan terjadi kondisi “normal baru” yang tingkat permintaannya jauh lebih rendah dibandingkan biasanya.

Tidak hanya industri penerbangan yang hancur, tetapi juga hotel, restoran, hingga usaha kecil dan menengah (UKM) di sejumlah daerah. Oleh karena itu, Arief menganjurkan agar maskapai mempertimbangkan terlebih dahulu nilai tarif yang akan dikenakan sebelum benar-benar menerapkannya kepada masyarakat.

"Sekarang yang diuntungkan siapa? Secara ekosistem, tidak ada yang diuntungkan. Mulai airlines-nya penumpangya sedikit, yang kasihan tentu juga temen-temen di ekosistem pariwisata, sekarang jadi sepi sekali dan itulah ya kira-kira okupansi ini tinggal 30 persen itu sudah bagus," ujar Arief.

Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Azril Azhari juga menilai, kondisi tarif tiket pesawat yang naik saat ini berpotensi melambatkan pergerakan wisatawan nusantara. Di sisi lain, akan terjadi peningkatan jumlah tingkat outbound atau jumlah wisatawan asal Indonesia yang pergi ke luar negeri.

Azril menyebutkan, harga tiket merupakan kunci daya tarik wisatawan saat memilih destinasinya. Ketika tiket pesawat domestik naik, daya tarik tersebut menjadi turun dan mereka akan mencari tujuan yang lebih murah.

"Saat ini, kondisinya, tiket pesawat ke Jepang lebih murah dibanding kita ke dalam negeri, seperti ke Raja Ampat," kata Azril.

Sejauh ini, pihak maskapai yang tergabung dalam National Air Carrier Association (Inaca) belum bersedia mengomentari target penurunan tiket dari pemerintah. Ketua Bidang Penerbangan Berjadwal Inaca, Bayu Sutanto, merasa mereka sudah cukup menjelaskan persoalan ini dalam kesempatan sebelumnya.

Sebelumnya, Inaca mengatakan, kenaikan tiket pada Januari adalah bawaan dari mahalnya tiket musim libur akhir tahun. Selain itu, mereka juga menyinggung naiknya harga aftur sebagai salah satu penyebab kenaikan harga tiket.

Pertengahan bulan lalu, Inaca sempat menjanjikan akan menurunkan harga tiket pada rentang 20 sampai 60 persen dari kemahalan pada akhir tahun. Kendati demikian, keluhan mahalnya tiket pesawat dari berbagai pihak masih terus bermunculan hingga pertengahan Februari ini.

(fauziah mursid/melisa riska putri ed: fitriyan zamzami)

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA