Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Mengapa Indonesia Harus Impor Gula?

Jumat 15 Feb 2019 07:50 WIB

Red: Elba Damhuri

Ilustrasi Harga Eceran Tertinggi (HET) Gula

Ilustrasi Harga Eceran Tertinggi (HET) Gula

Foto: Republika/Mardiah
Impor gula segera masuk pada Februari ini.

Oleh: Melisa Riska Putri, Adinda Pryanka

Pemerintah masih membahas kenaikan harga pembeli gula petani seperti yang diminta presiden. Sementara itu, gula impor industri untuk semester satu tahun ini akan tiba pada akhir Februari.

"Ya kami baru mulai rapat-rapat," kata Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Musdhalifah Machmud saat ditemui di Menara Kadin, Jakarta, Kamis (14/2).

Namun, ia tidak menjelaskan lebih lanjut detail rapat yang dilakukan.

Terkait kenaikan harga, kata Musdhalifah, perlu dilakukan perhitungan yang tepat dari hulu (on farm). Penghitungan harga gula tersebut melibatkan berbagai kementerian dan lembaga terkait seperti Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, ataupun BUMN.

Usulan kenaikan harga gula di tingkat petani tebu digaungkan saat Presiden Joko Widodo melakukan silaturahim dengan para petani tebu di Istana Negara, Jakarta, pekan lalu. Harga pokok pembelian gula saat ini sebesar Rp 9.700 per kilogram (kg).

Sementara, usulan kenaikan menjadi Rp 10.500 per kg. Meski belum memutuskan berapa besar kenaikan harga gula petani, presiden menyatakan kenaikan harga gula petani menjadi semangat bersama.

Di sisi lain, stok gula kristal putih yang saat ini berada di Bulog sebanyak 357.299 ton. Direktur Komersial Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh mengatakan, angka tersebut masih cukup banyak.

"Yang jual gula kan tidak cuma Bulog, PTPN juga punya stok," kata Tri.

Gula impor
Ketua Umum Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) Rachmad Hariotomo memperkirakan, gula mentah impor sebesar 1,4 juta ton diperkirakan tiba pada akhir Februari. Sebab, Perizinan Impor (PI) baru terbit pada awal Februari dan membutuhkan waktu tiga sampai empat pekan.

Rachmad menjelaskan, waktu kedatangan gula impor tersebut tidak akan memengaruhi produksi gula rafinasi. Meski demikian, ia berharap agar pada tahun depan, PI gula mentah dapat diterbitkan lebih awal seperti pekan pertama Januari. "Sehingga, sebelum Februari sudah bisa sampai di Indonesia," kata Rachmad, Kamis (14/2).

Rachmad menjelaskan, kebutuhan industri gula rafinasi terhadap gula mentah sepanjang 2019 mencapai sekitar 3,2 juta ton. Berdasarkan laporan audit, industri masih memiliki persediaan sekitar 1 juta ton dari tahun lalu. Melihat kondisi tersebut, industri membutuhkan gula mentah tambahan sekitar 2,2 juta ton.

Namun, Rachmad mengatakan, sesuai rapat koordinasi bersama pemerintah, diputuskan impor gula mentah sepanjang 2019 adalah 2,8 juta ton. Sebanyak 2,2 juta ton di antaranya untuk kebutuhan sampai akhir tahun dan sisanya untuk tahun depan. "Stok 600 ribu (ton) bisa untuk sekitar dua bulan," ucap dia.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) sudah menerbitkan PI sebanyak 1,4 juta ton gula mentah untuk semester pertama 2019. Sisanya akan dikeluarkan pada semester berikutnya. Total keseluruhan akan ditujukan untuk 11 perusahaan yang tergabung dalam AGRI.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Oke Nurwan mengatakan, gula impor tersebut dikirim untuk diolah menjadi gula kristal rafinasi (GKR) demi kebutuhan industri. "Dalam rapat koordinasi terbatas (rakortas) tingkat menteri, sudah disetujui atas kuota impor tersebut," ujar Oke, Rabu (13/2).

Menurut Oke, PI tersebut adalah bagian dari kuota impor gula mentah yang juga sudah disepakati antarkementerian dan lembaga terkait. Dalam rakortas, disepakati bahwa kuota impor gula mentah tahun ini adalah 2,8 juta ton dengan perizinan yang dibagi untuk dua semester.

Untuk semester pertama, terbit PI sebanyak 1,4 juta ton kepada perusahaan yang merupakan anggota AGRI. Sisanya, akan dikeluarkan lagi pada semester kedua.

Dalam catatan Kemendag, 11 perusahaan yang dimaksud adalah PT Angels Products, PT Jawamanis Rafinasi, PT Sentra Usahatama Jaya, PT Permata Dunia Sukses Utama, PT Dharmapala Usaha Sukses, PT Sugar Labinta, PT Duta Sugar International, PT Makassar Tene, PT Berkah Manis Makmur, PT Andalan Furnindo, dan PT Medan Sugar Industry. (ed: fuji pratiwi).

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA